Harga Beras Melonjak Naik, Warga Menjerit, Benny Sihotang Katakan Ini

Harga Beras Melonjak Naik, Warga Menjerit, Benny Sihotang Katakan Ini
Foto: Ketua Komisi D DPRD Provinsi Sumatera Utara, Benny Harianto Sihotang, SE.,MM (metrorakyat.com/Irwan Manalu)
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Melonjaknya harga beras di grosir dan penjual eceran di Kota Medan dan kota kota lain di Sumatera Utara membuat warga miskin menjerit. Irwandi, pemilik grosir beras yang beralamat di Kelurahan Helvetia Timur Kecamatan Medan Helvetia juga mengeluhkan kenaikan harga beras. Sebab, berdampak baginya. Irwandi mengatakan sebelum harga beras naik, dalam 1 (satu) Minggu dia bisa menampung beras sebanyak 10 ton dan langsung habis terjual. Ketika harga beras naik, pembeli yang datang ke tokonya juga sepi.

” Saat ini sepi bang, biasanya beras saya masuk 1 Minggu sekali 1 Ton terkadang 2 Minggu sekali masuk 1 Ton. Beras untuk 5 kilo saat ini saya jual Rp65.000 s/d Rp70.000 untuk yang 1 karung berat 5 kilo karena beras saya yang bagus bang. Saya tidak jual beras biasa. Tapi saat ini gudang beras juga kosong, kalau pun ada saya tidak berani menstok bang. Buat apa dibeli banyak tapi beras tidak habis,” katanya, Kamis (21/9).

Dikatakan Irwandi lagi, banyak alasan sehingga beras kosong antara lain gagal panen, sedang menanam dan lain sebagainya. Irwandi berharap pemerintah dapat mengatasi kenaikan harga beras sehingga dapat normal kembali.

Ketua Komisi D DPRD Provinsi Sumatera Utara, Benny Sihotang, SE ,MM ketika diminta tanggapannya terkait kenaikan harga beras yang menyebabkan banyak warga mengeluh mengatakan dengan situasi kenaikkan harga beras ini, pasti masyarakat menjerit, menderita. Dikatakan oleh politisi dari Partai Gerindra provinsi Sumut ini, kenaikan harga beras itu karena Provinsi Sumatera Utara belum swasembada beras.

“Kita mau cerita dulu, bagiamana kita mau swasembada beras, saya ketua komisi D saya lihat anggaran untuk memperbaiki saja tidak ada diberikan Pemprovsu terkait untuk perbaikan irigasi. Karena kalau namanya pertanian tidak ada irigasi bagaimana mungkin bisa menghasilkan panen yang baik,”kata Benny.

Disebutkan Benny lagi dinas yang berwenang mengurusi irigasi saat ini dinas PUPR. Dan DPRD Provinsi Sumatera Utara sudah pernah protes. ” Bagaimana kita mau membantu petani kita, pada ujungnya nanti ini yang terjadi beras mahal, itu yang pertama. Kedua, dari sisi kita tidak swasembada, akhirnya kan beras import. Yang namanya beras import pastilah mahal. Ini yang saya katakan dari fungsi saya sebagai pengawasan ini yang kami dorong pemprov itu menempatkan anggaran itu tepat,”sebut Benny.

Mantan Dirut PD Pasar Medan ini menambahkan, isu penimbunan beras yang dikaitkan dengan masa tahun politik saat ini kemungkinan nya sangat kecil. Ia mengatakan sangat kecil kemungkinan para calon kepala daerah, calon legislatif menimbun beras. “Malah mereka membeli beras untuk dibagi-bagikan kepada masyarakat di daerah nya masing masing, seharusnya masyarakat tidak ada lagi yang membeli beras karena sudah ada yang membagi bagikan beras gratis lagi,”sebutnya.

Ditambahkan Benny Sihotang, faktor yang memungkinkan mempengaruhi terjadinya kelangkaan beras antara lain cuaca, banyak petani yan gagal panen, pola pertanian di Sumut kurang dikelola dengan baik, belum swasembada beras yang mengakibatkan pembelian beras import. ” Beras import pastilah harganya lebih mahal yang akhirnya masyarakat yang terdampak,”ujarnya.

Benny H Sihotang berharap pemerintah provinsi Sumatera Utara segera dapat melakukan kebijakan agar harga beras dapat kembali normal.(MR/wan)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.