7 Pondok Berdiri di Atas Pemandian Bah Damanik Ancam Kelestarian Alam, Warga Resah

7 Pondok Berdiri di Atas Pemandian Bah Damanik Ancam Kelestarian Alam, Warga Resah
Bagikan

METRORAKYAT.COM, SIMALUNGUN – Warga di sekitar pemandian Bah Damanik resah dan mengeluh. Pasalnya banyak pondok wisata dengan jumlah kurang lebih 7 (tujuh) berdiri tepat di atas aliran air pemandian Bah Damanik Kelurahan Sarimatondang Kecamatan Sidamanik Kabupaten Simalungun. Keberadaanya dapat mengganggu kelestarian alam.

Menurut salah seorang warga yang minta namanya tidak disebutkan di pemberitaan saat di lokasi pemandian Sabtu (6/5/2023) sekira pukul 13.30 WIB menjelaskan lokasi wisata pemandian tersebut terdiri dari tiga titik lokasi yakni Bah Damanik, Bah Mata Huting dan pondok Hasanah. Bah Damanik dikelolah oleh Huta (kampung, red) dengan koordinator Marlin Simbolon. Sementara Bah Mata Huting dikelolah oleh Darwin Damanik dan podok (pemandian) Hasanah milik seorang warga.

Lanjutnya menerangkan, sebenarnya mereka sangat tidak setuju dengan pendirian pondok (bangunan) langsung di atas sungai (air) pemandian. Sebab itu menganggu kenyamanan warga saat akan mandi mandi juga mempersempit luasan areal permandian. Nantinya juga dikawatirkan akan mengotori lokasi sungai yang tentunya dapat mengancam kelestarian alam dan merusak estetika lokasi pemandian.

Lanjutnya menambahkan, sebelumnya oleh Huta (kampung, red) telah disepakati bahwa tidak boleh ada bangunan berdiri di atas aliran sungai/ pemandian. Namun oleh sekelompok orang yang dikomandoi dan dikoordinir oleh Marlin Simbolon, CS (dan kawan kawan) nekat membangun pondok pondok tersebut. Dan setiap pengunjung yang menyewa pondok dimintai bayaran sebesar 30 ribu. Dan dananya tidak tahu dibuat kemana dan untuk apa. Demikian pula setiap pengunjung yang akan masuk ke lokasi wisata dan pemandian Bah Damanik dimintai atau dikutip uang sebesar 5 ribu rupiah per orang. Dan dari amatan langsung di lokasi Sabtu (6/5/2023), penarikan uang sebesar 5 ribu rupiah per pengunjung tersebut tanpa karcis. Diduga kutipan liar.

Sementara Marlin Simbolon yang ditemui dan diajak berbincang di pintu masuk lokasi pemandian didampingi rekannya bermarga Purba menjelaskan jika seluruh tanah yang ada di lokasi pemandian Bah Damanik adalah milik atau kepunyaan oppung (kakek, red) mereka. Dan mereka bisa mengusir siapa saja yang tidak mereka sukai. “Ini tanah oppung kami. Kami bisa dan berhak mengusir siapa saja yang tidak kami sukai dan kami anggap membuat rusuh tempat ini”, ucap keduanya bergantian. Dan saat ditanyakan berapa omset atau pemasukan dalam seharinya dari pengutipan uang masuk ke lokasi pemandian, Marlin Simbolon menjawab sekira 1 juta rupiah.

Terkait pernyataan Marlin Simbolon dan rekannya bermarga Purba tentunya menimbulkan pertanyaan bagi publik. Sebab dari informasi yang berhasil dihimpun di lapangan, sejarah Bah Damanik adalah kepunyaan marga Damanik lebih tepatnya Oppung Naihorsik Damanik dan keturunannya.

Dan pernyataan Marlin Simbolon dan rekannya bermarga Purba tersebut dikhawatirkan nantinya dapat menimbulkan konflik horizontal sesama warga di sekitar Bah Damanik. (MR/MBPS/Tim)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.