Ekonomi Sumut Tumbuh di Triwulan III Tahun 2022 Sebesar 4,97 persen

Ekonomi Sumut Tumbuh di Triwulan III Tahun 2022 Sebesar 4,97 persen

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Bank Indonesia mencatatkan kinerja ekspor masih menjadi penggerak ekonomi utama Sumatra Utara.

Seiring dengan hal tersebut bahwa tren pemulihan ekonomi Provinsi Sumatra Utara (Provsu) menunjukkan pertumbuhan pada triwulan ke III 2022 secara year-on-year dengan peningkatan sebesar 4,97 persen.
Angka ini menunjukkan peningkatan jika dibandingkan dengan triwulan sebelumnya tahun yang sama.

Hal ini dibenarkan Kepala Kantor Perwakilan BI (KPw BI) Sumatera Utara (Sumut) Doddy Zulverdi juga menyampaikan bahwa konsumsi rumah tangga juga lapangan usaha pertanian telah menguasai pangsa terbesar dilihat dari sisi pengeluaran maupun produksi.

“Namun lebih rendah dari triwulan II 2021, akan tetapi angka pertumbuhan tersebut lebih tinggi dari triwulan II tahun 2022,” sebutnya dalam Bincang Bareng Media di gedung Bank Indonesia, Jumat (25/11/2022), Medan.

Lebih lanjut disampaikan Doddy, bahwa kinerja ekspor masih menjadi penggerak ekonomi utama Sumut karena turut ditopang tetap kuatnya pertumbuhan domestik, khususnya investasi seiring dengan masih berlangsungnya akselerasi pembangunan proyek strategis.

“Sementara sebagian sektor utama antara lain; perdagangan, industri dan transportasi juga mencatatkan akselerasi,” pungkasnya.

Seperti diketahui, Sumut menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Sumatra pada triwulan III 2022. Dimana Provinsi Sumut memberi andil terhadap pertumbuhan ekonomi Sumatra sebesar 1,14 persen.

“Yang tentunya lebih meningkat jika dibandingkan pada triwulan sebelumnya sebesar 1,12 persen,” tukasnya lagi.

Namun, lanjut Doddy, secara bulanan, Indeks Harga Konsumen (IHK) gabungan 5 kota di Sumut mengalami deflasi sebesar -0,51 persen (mtm), berbalik arah dari bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 1,00 persen (mtm).

“Sumber deflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau dengan andil deflasi sebesar -0,57 persen (mtm) yang didorong oleh penurunan harga komoditas cabai merah, daging ayam ras, telur, cabai rawit, dan tomat,” bebernya.

Menurut Doddy, dengan memperkirakan pada bulan November 2022, inflasi Sumut secara bulanan akan lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya. Perkiraan peningkatan curah hujan yang sifatnya berpotensi mengganggu produksi beberapa komoditas pangan dan perikanan.

“Selain itu, potensi bencana atau cuaca buruk yang menyebabkan ombak besar dan kelangkaan solar yang dapat menghambat nelayan untuk melaut,” katanya.

Disisi lain, masih tingginya harga gabah dan berakhirnya masa panen beberapa komoditas hortikultura di bulan November 2022 diperkirakan turut menjadi faktor pendorong inflasi Sumut.

Kita berharap melalui koordinasi TPIP maupun TPID Provinsi dan Kabupaten Kota dalam GNPIP, percepatan realisasi alokasi anggaran pengendalian inflasi, dan normalisasi kebijakan moneter BI dapat menjadi faktor penahan inflasi Sumut lebih tinggi pada periode November 2022.

“Normalisasi kebijakan moneter Bank Indonesia berupa peningkatan suku bunga dapat menghambat inflasi,” sebutnya mengakhiri. (MR/156).

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.