Unit PPA Akan Terus Tekan Kekerasan Pada Istri Dan Anak

Unit PPA Akan Terus Tekan Kekerasan Pada Istri Dan Anak
Bagikan

METRORAKYAT.COM, KABUPATEN – Pemerintah Kabupaten Malang mendata kasus kekerasan dalam rumah tangga cenderung stabil dalam dua tahun terakhir. Berdasar data dari Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polres Malang, mendata mulai bulan Januari sampai bulan September 2022 tercatat 65 kasus KDRT yang dilaporkan. Pada periode yang sama tahun sebelumnya tercatat ada 66 kasus. Korban terbanyak KDRT yang dilaporkan adalah istri.

Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kanit Polres Malang Aipda Erleha B.R. Maha menerangkan, kasus-kasus kekerasan terhadap istri (KTI) dan kekerasan kepada anak. ”Faktor utama terjadinya tindak pidana KDRT ini karena kurangnya adanya keharmonisan di dalam rumah tangga,” katanya Rabu (05/10/2022) kemarin.

Dalam laporan yang masuk kepada kami, istri menjadi korban terbanyak dalam setiap kasus KDRT. Misalnya selama delapan bulan terakhir, laporan tentang KTI mencapai 57 kasus. Sedangkan pada periode yang sama di tahun sebelumnya mencapai 61 kasus. Selalu di atas 90 persen, bahkan hampir 100 persen dari total kasus KDRT yang dilaporkan.

Unit PPA tetap memberi respon khusus terhadap kekerasan kepada anak- anak. Baik yang terjadi di dalam rumah tangga maupun yang terjadi di luar rumah. Apalagi jika sudah menyangkut kekerasan seksual. Sebab, rata-rata pelakunya adalah orang dekat korban sendiri.

Unit PPA juga mencatat kasus kekerasan fisik terhadap anak-anak yang terjadi pada 2021 mencapai 23 kasus. Di Tahun ini malah sudah meningkat menjadi 28 kasus. ”Itu menunjukkan bahwa kasus kekerasan fisik terhadap anak semakin tinggi,” kata Erleha.

Sebagai langkah antisipasi, pihaknya rutin melakukan sosialisasi ke sekolah-sekolah untuk menekan angka terjadinya kekerasan, terutama kepada anak-anak. Dikarenakan anak sangat rentan sekali menjadi korban kekerasan. ”Bukan hanya kekerasan fisik. Bisa juga melakukan pelecehan seksual, termasuk oleh orang dekat atau keluarga sendiri,” terangnya

Pada saat peringatan Hari Anak 23 Juli 2022 lalu, Erleha mengatakan setidaknya 35 anakanak menjadi korban kekerasan seksual. Maka dari itulah, pihaknya sering melakukan sosialisasi pencegahan ke sekolah-sekolah dan pondok pesantren. Harapannya jumlah kasus tersebut bisa terus ditekan. ”Kalau secara data laporan, tahun ini memang menurun dibandingkan tahun lalu,” tutup dia. (M.R/S.P)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.