OJK Regional Sumbagut Akan Gelar BIK, Oktober 2022 Ini
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Bulan Oktober 2022 ini, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 5 Sumatera Bagian Utara (R5 Sumbagut) akan menyelenggarakan Bulan Inklusi Keuangan untuk meningkatkan pemahaman serta penggunaan terhadap produk dan/atau layanan jasa keuangan kepada masyarakat. Acara yang akan digelar pada tanggal 28 hingga 30 Oktober 2022 ini.
Hal ini disampaikan Kepala OJK R5 Sumbagut, Yusup Ansori didampingi Deputi Direktur Manajemen Strategis, Edukasi dan Perlindungan Konsumen dan Kemitraan Pemerintah Daerah OJK Wan Nuzul Fachri, Deputi Lembaga Pengawasan Keuangan Anton Purba pada acara Media Lunck Talk bersama wartawan di Jalan T Amir Hamzah, Rabu (19/10/2022), Medan.
Lebih lanjut dijelaskan Yusup, bahwa bulan Inklusi Keuangan dilakukan untuk membuka akses keuangan kepada berbagai lapisan masyarakat yang sekaligus dalam mengkampanyekan budaya menabung, serta mengoptimalkan program-program inklusi keuangan.
“Akses keuangan adalah merupakan hak dasar bagi seluruh masyarakat yang memiliki peranan sangat penting guna meningkatkan taraf hidup masyarakat. Sehingha perlu dibarengi dengan pemahaman yang baik,” ucap Yusup.
Ditambahkannya, sejak tahun 2016, sambungnya OJK telah menginisiasi bulan Oktober sebagai Bulan Inklusi Keuangan yang diselenggarakan secara terintegrasi, masif, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia untuk mendorong pencapaian target inklusi keuangan sebesar 90 persen pada tahun 2024, serta mendukung Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN).
“Untuk tema kegiatan ditetapkan yakni bulan Oktober 2022 ini adalah “Inklusi Keuangan Meningkat, dan Perekonomian Semakin Kuat”. Maka dengan adanya bulan inklusi keuangan tersebut diharapkan dapat semakin memperkuat komitmen serta dukungan dari seluruh stakeholders dalam rangka pemenuhan dan peningkatan akses keuangan untuk seluruh masyarakat di Indonesia secara khusus Sumut,” paparnya.
Selain itu Yusup Ansori menyampikan BIK dilakukan sebagai upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat seiring dengan inklusi keuangan.
“Hasil survei nasional literasi dan inklusi keuangan yang dilaksanakan OJK tahun 2019, Sumut inklusi keuangannya sudah 93,98 persen sementara literasi hanya 38,03 persen,” pungkasnya.
Banyak masyarakat yang sudah menggunakan jasa keuangan tapi tidak mengenal produk yang dia gunakan seperti apa.
“Kita tidak mau ada gap antara inklusi dengan literasi, sehingga keduanya bersinergi. Selain IKB ini juga kami juga telah banyak melakukan berbagai kegitan bersama dengan kampus, Bursa Efek Indonesia, Pemprov dan Pemda, BI, jasa keuangan dan instanso terkait,” imbuhnya. (MR/156).
