BI Jajaki Penerbitan dan Desain CBDC

BI Jajaki Penerbitan dan Desain CBDC
Bagikan

METRORAKYAT.COM, BALI –  Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) 2022,  yang dipaparkan melalui media sosial (instagram, YouTube dan FB)

Sebagai digitalisasi mengubah cara manusia guna melakukan aktivitas di berbagai aspek kehidupan, termasuk keuangan. Digitalisasi dan pandemi Covid-19 membuat aset kripto tumbuh semakin cepat.

Aset kripto memiliki potensi mengembangkan inklusi serta efisiensi sistem keuangan, namun di sisi lain juga berpotensi menimbulkan sumber risiko baru yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi, moneter maupun sistem keuangan.

Topik tersebut membahas bagaimana respons kebijakan Bank Sentral Bank Sentral untuk menghadapi kondisi adanya serangkaian Festival Ekonomi Keuangan Digital Indonesia (FEKDI) 2022,  yang dipaparkan di media sosial (instagram, YouTube dan FB), Selasa (12/7/2022).

FEKDI 2022, merupakan ‘Side Event’ jalur keuangan Presidensi G20 Indonesia bertajuk “Advancing Digital Economy and Finance: Synergistic and Inclusive Ecosystem for Accelerated Recovery – Digital Currency”.

Untuk mengatasi risiko terhadap stabilitas dari aset kripto, dibutuhkan kerangka regulasi untuk mengatasinya. Selain itu, keberadaan aset kripto juga melatarbelakangi bank sentral dalam menjajaki desain serta penerbitan Central Bank Digital Currency (CBDC) atau mata uang digital yang diterbitkan oleh bank sentral.

Mayoritas bank sentral dunia telah melakukan tahapan riset maupun percobaan sesuai karakteristik negaranya masing-masing. Selain itu, dukungan juga masukan industri yang sangat penting bagi bank sentral untuk merencanakan desain CBDC.

Berbagai bank sentral berhati-hati dan terus mempelajari kemungkinan dampak dari CBDC tersebut, termasuk Indonesia. Bank Indonesia terus mendalami CBDC yang pada akhir tahun ini berada di tahap untuk mengeluarkan white paper pengembangan Digital Rupiah.

Eksplorasi penerbitan CBDC dilakukan berdasarkan enam tujuan yaitu
1. Menyediakan alat pembayaran digital yang risk-free menggunakan central bank money.
2. Memitigasi risiko non-sovereign digital currency.
3. Memperluas efisiensi dan ketahapan sistem pembayaran, termasuk cross border.
4. Memperluas dan mempercepat inklusi keuangan.
5. Menyediakan instrumen kebijakan moneter baru dan
6. Memfasilitasi distribusi fiscal subsidy.
Penerbitan CBDC juga membutuhkan tiga pre-requisite yang perlu dipastikan untuk dimiliki suatu negara yakni.
A. Desain CBDC yang tidak mengganggu stabilitas moneter dan sistem keuangan.
B. Desain CBDC yang 3i (Integrated, interconnected, and Interoperable) dengan infrastruktur FMI-Sistem Pembayaran.
C. Pentingnya teknologi yang digunakan pada tahap eksperimen untuk memahami bagaimana CBDC dapat diimplementasikan (DLT-Blockchain dan non-DLT).

Hal tersebut dibenarkan Deputi Gubernur BI, Doni P. Joewono melalui seminar “Digital Currency” yang merupakan rangkaian FEKDI pada hari kedua sebagai side event rangkaian G20 Finance Track: Finance and Central Bank Deputies (FCBD) dan 3rd Finance Ministers and Central Bank Governors Meeting (FMCBG) di Nusa Dua, Bali, Rabu (13/7/2022).

Dalam kesempatan ini, mengemuka diskusi terkait diskusi pada sesi Casual Talk 1 yang menghadirkan 1) Division Chief dari IMF, Tommaso Mancini-Griffoli, 2) Head of Secretariat dari Committee on Payments and Market Infrastructures (CPMI), Tara Rice, 3) Director General Market Infrastructure and Payments dari European Central Bank, Ulrich Bindsel, dan 4) Markus K. Brunnermeier (Professor dari Princenton University) serta dimoderatori oleh Direktur Kapronasia
…… bersambung……
[13/7 06.47] MR Josbandi: ………. sambungan……

dan Emerging Payments Association Ambassador, Zennon Kapron.

Turut hadir pula pada sesi Casual Talk 2 antara lain 1) Senior Lecturer the Faculty of Law & Justice dari UNSW, Anton Didenko, 2) Head of FinTech Center dari Bank of Japan, Masaki Bessho, 3) Chief General Manager dari Reserve Bank of India, Suvendu Pati, 4) Lead, Payments and Market Infrastructure dari World Bank, Harish Natarajan, serta dimoderatori oleh Adviser dari BIS Innovation Hub, Codruta Boar.

Masukan dan pandangan dari industri dilakukan oleh perwakilan dari industri yaitu Presiden Direktur Bank Jago, Kharim Indra Gupta Siregar, dan Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro.

Masyarakat dapat mengikuti sesi diskusi dan hadir dalam FEKDI yang terselenggara dari tanggal 11 samoqo17 Juli 2022, secara virtual dengan mengunjungi laman https://fekdi.co.id/. (MR/156).

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.