Hadiri Peresmian Kantor MPW PAS Aceh Kota Langsa Ulama Aceh Berharap Semakin Dekat Dengan Umat

Hadiri Peresmian Kantor MPW PAS Aceh Kota Langsa Ulama Aceh Berharap Semakin Dekat Dengan Umat
Bagikan

METRORAKYAT.COM, LANGSA ACEH – Majelis Pimpinan Wilayah Partai Adil Sejahtera (PAS Aceh) Kota Langsa H Muzakkir, AA SE, MM menggelar acara peresmian Kantor Baru Majelis Pimpinan Wilayah Partai Adil Sejahtera (PAS Aceh) Kota Langsa berlokasi Komplek Perumahan Villa Asri Darussalam Jalan Medan – Banda Aceh, Gampong Sungai Lueng, Kecamatan. Langsa Timur, Kota Langsa, Provinsi Aceh, pada, Minggu (12/12/2021). Dirinya berharap partai ini nantinya dekat dengan rakyat.

Dalam acara yang dihadiri puluhan kader, simpatisan serta para tamu undangan itu, H Muzakkir menyaksikan antusiasnya seluruh hadirin menyambut kedatangan rombongan Ulama Aceh Ayah Amin Cot Trong berasal dari Aceh Utara, yang ingin melihat langsung dan bersalaman dengan Ulama Aceh tersebut.

“Dengan diresmikannya kantor baru ini, oleh Ulama Aceh mudah-mudahan (PAS ACEH ) salah satu Partai baru lokal yang ada di Aceh semakin dekat dengan rakyat dan bisa melayani rakyat dengan baik,” ujar H Muzakkir.

Ketua Partai Adil Sejahtera (PAS ACEH) Kota Langsa H Muzakkir, kantor ini digunakan sebagai rumah rakyat, untuk bisa memberikan bantuan dan menerima pengaduan-pengaduan dari masyarakat sekaligus bisa melayani rakyat,” sebutnya.

Sementara dalam sambutan Ulama Aceh Ayah Amin Cot Trong menyampaikan, tidak sedikit orang beranggapan, ulama indentik dengan dunia dakwah dan tarbiyah, memberikan mauidhah kepada umat dan mengawal moral masyarakat. Sehingga, sebagai orang menilai ulama tak sepatutnya terjun ke dunia politik, dimana pernah dalam masa perjalanan bangsa ini, politik indentik dengan ketidaksucian.

Padahal, sebagai pewaris Nabi, ulama semestinya mampu menjalankan tugas apa pun. Termasuk terjun ke dunia politik dengan satu catatan penting, bulatnya tekad dan sucinya niat, semata-mata demi menegakkan keadilan dan menciptakan kemakmuran bagi rakyat demi mendapatkan keridhaan Allah Ta’ala.

Setidaknya, ada tiga nilai strategis mengapa kini sosok ulama secara terang-benderang direkomendasikan. Pertama, kapasitas intelektual. Ulama adalah sosok pembelajar, yang tak pernah bosan mengkaji dan mengamalkan ilmu, serta giat mengaktifkan majelis ilmu.

Bahkan, lebih jauh, ulama di dalam Alquran disebutkan tidak semata memadai secara intelektual, tetapi juga memiliki self control yang kuat dalam menjalani tugas keumatan, yakni takut kepada Allah Ta’ala.

Dengan kata lain, ulama tak semata cerdas secara kognitif, tapi juga sangat cerdas secara emosional dan spiritual, sehingga kecerdasan intelektual yang dimiliki mampu mendorongnya berkiprah secara lebih baik, lebih mengutamakan kepentingan rakyat daripada diri, keluarga, kelompok, dan golongannya. Direkomendasikannya ulama dalam kontestasi politik 2024 merupakan sebuah harapan sekaligus jawaban untuk perubahan Aceh khususnya Indonesia.

Indonesia ini tidak kurang orang pinter, yang kurang adalah orang bener. Ulama adalah sosok manusia yang tidak sekadar pintar tetapi juga benar.

Kedua, secara sosiologis, kesadaran umat Islam akan posisi strategis ulama dalam menyelamatkan kedaulatan Aceh mulai membaik, bahkan kesadaran itu dalam beberapa hal telah menjelma menjadi gerakan konkret di tengah-tengah kehidupan umat Islam sendiri.

Dalam kalkulasi politik, situasi dan kondisi tersebut tentu saja sebuah faktor utama yang patut diperhatikan. Terlebih kini para ulama tidak lagi sebatas menjadi pelengkap demokrasi tetapi telah berubah menjadi penentu warna dan arah demokrasi.

Eksistensi ulama menjadi semakin disadari strategis di negeri ini seiring dengan berbagai peristiwa yang mendiskreditkan ulama, baik secara hukum maupun sosial. Publik telah dibuat sadar dengan beragam bentuk penyerangan dan kriminalisasi terhadap ulama.

Media mungkin saja bisa mengaburkan esensi dari peristiwa yang terjadi tetapi nalar kritis publik, tak mungkin dibungkam dengan narasi irasional dan ganjil. Terlebih dalam sejarah kehidupan bangsa, ulama dan masyarakat ibarat dua sisi mata uang, tak bisa dipisahkan, apalagi dipertentangkan.

“Bagi mereka (masyarakat), fatwa seorang alim yang mereka percayai berarti satu ‘kata-keputusan’ yang tak dapat dan tak perlu dibanding lagi. Sering kali telah terbukti, bagaimana susahnya bagi pemerintah negeri menjalankan satu urusan, bilamana tidak disetujui oleh alim-ulama di daerah yang bersangkutan. Sebaliknya pun begitu pula.
Beruntunglah salah satu masyarakat, bila mempunyai seorang alim, sebagai pemimpin rohani yang tahu dan insaf akan tanggungannya sebagai penganjur dan penunjuk jalan. Aman dan makmurlah salah satu daerah bilamana pegawai-pegawai pemerintah di situ tahu menghargakan kedudukan alim ulama yang ada di daerah itu.”

Jadi, kini saatnya ulama ikut “bertarung” dan menentukan arah politik umat. Sudah bukan zamannya lagi, ulama sebatas dikunjungi untuk dimintai dukungan. Itu telah berlalu. Masyarakat mulai sadar dan tampaknya akan benar-benar all out mendukung.

Ketiga, persatuan ulama. Sisi yang sangat menentukan dalam dinamika perpolitikan belakangan adalah bersatunya para ulama. Bersatunya ulama ini tentu menjadi satu modal besar akan kepercayaan masyarakat terhadap ulama dalam membenahi kehidupan bangsa dan negara.

Sebab, ulama yang direkomendasikan atau terjun di dalam ranah politik praktis bukanlah sosok yang maju atas kemauan sendiri, tetapi hasil musyawarah yang didukung oleh mayoritas ulama lainnya.

Kondisi tersebut diprediksi akan mampu menjadikan sosok ulama yang maju akan mampu mempertahankan jati dirinya yang tidak pragmatis dan hedonis. Sebab, ada banyak ulama dan tokoh masyarakat yang akan mengoreksi, memberikan nasihat dan kritik tajam jika pada kemudian hari sang ulama terlihat bengkok.

Dan, ini akan berjalan dengan secara sistemis, mengingat kesadaran untuk membangun bangsa dan negara lebih baik dari sisi kedaulatan, terutama secara teritorial dan ekonomi bukan semata menjadi kesadaran ulama.

Namun, hal ini merupakan tuntutan mayoritas negeri ini yang para elite partai pun mulai sangat peka terhadap masalah ini, hingga mereka bergerak pun dengan selalu memperhatikan rekomendasi dari ijtima ulama,” demikian dalam sambutan Ayah Amin Cot Trong dihadapan seluruh jamaah yang hadir dalam acara peresmian Kantor Partai PAS Aceh.

Peresmian kantor MPW Partai Adil Sejahtera (PAS Aceh) Kota Langsa dihadiri sejumlah ulama Kota Langsa, tampak hadir Ayah Amin Cot Trong, Tgk H Syekh Muhajir (Abati Sheraya), Tgk H Murdani (Abana), Tgk H Mukhtar (Abat Aramiah) Tgk H Dr Sulaiman Ismail (Dosen IAIN Cot Kala) Langsa, serta sejumlah ulama lainnya. H Muzakkir (Ketua Partai PAS Aceh), Ir Sayid Abdurrahman (Sekretaris PAS Aceh), Majelis Al- Maidah Kota Langsa, pengurus partai, keder dan seluruh tamu undangan.

Acara peresmian Kantor MPW Kota Langsa berjalan dengan sukses, dimulai dengan sarapan bersama dengan menyajikan makanan nasi gurih kepada seluruh yang hadir.(MR/DANTON)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.