oleh

Peringatan Hari Guru: Bergerak dengan Hati, Pulihkan Sektor Pendidikan dari Korupsi

METRORAKYAT.COM, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) melalui Pedoman Peringatan Hari Guru Nasional tahun 2021 mengangkat tema “Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan” dalam peringatan Hari Guru Nasional yang jatuh pada 25 November 2021.

Jika membahas sejarah hari guru nasional, ini mulai diperingati berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 tahun 1994 Tentang Hari Guru Nasional dengan pertimbangan yakni guru memiliki kedudukan dan peran yang sangat penting dalam pelaksanaan pembangunan nasional serta 25 November yang awalnya diperingati sebagai hari ulang tahun persatuan guru republik Indonesia dijadikan peringatan sebagai upaya mewujudkan penghormatan kepada guru.
ICW (Indonesian Corruption Watch) pada 19 November yang lalu mengungkapkan bahwa selama lima tahun terakhir setidaknya terdapat 240 kasus dugaan korupsi di sektor pendidikan yang membuat negara mengalami kerugian sampai Rp 1,6 triliun. 240 kasus korupsi di sektor pendidikan ini terjadi sepanjang tahun 2016 hingga 2021 semester 1. Faktanya angka korupsi ini naik setiap tahunnya, tahun 2019 ada 23 kasus korupsi dan tahun 2021 ada 30 kasus korupsi. Ini merupakan tamparan keras bagi sektor pendidikan Indonesia. Lembaga pendidikan yang menjadi lading yang menghasilkan sumber daya manusia yang jujur justru menjadi salah satu sektor tertinggi dalam kasus korupsi.
Pendidikan Antikorupsi
Presiden Joko Widodo pernah menyebutkan bahwa “Setiap regulasi adalah pisau bermata dua, bisa jadi obyek transaksi dan korupsi. Maka dari itu pangkas regulasi yang membebani masyarakat.” Pemerintah harus mampu memangkas regulasi pendidikan yang berbelit-belit sehingga memunculkan kesempatan untuk korupsi. Selain itu hal lain yang juga penting adalah peningkatan moral warga sekolah. Moral adalah modal penting dalam mencegah korupsi di dunia pendidikan. Lembaga pendidikan sudah seharusnya merefleksikan kembali dampak negatif yang sangat besar akibat korupsi di sektor pendidikan ini. Seperti yang dilaporkan oleh ICW, dari 240 korupsi pendidikan, yang paling banyak adalah korupsi penggunaan dana BOS, korupsi pembangunan infrastruktur maupun pengadaan barang/jasa non infrastruktur seperti pengadaan buku, arsip sekolah, perangkat TIK untuk belajar secara online serta pembangunan fasilitas pendidikan lainnya. Semakin banyak kasus tentu semakin banyak pula merugikan negara hal ini juga berdampak terhadap semakin merosotnya layanan pendidikan serta pengembangan sumberdaya manusia di sekolah.
Pendidikan adalah pondasi dasar yang membentuk karakter dan sikap anak sejak dini sehingga perlu dikembangkan pendidikan antikorupsi sejak dini, stakeholder pendidikan bersama dengan guru harus mampu membangun rencana jangka panjang dalam memberikan pembekalan pendidikan antikorupsi kepada peserta didik.
Kurikulum pendidikan antikorupsi juga harus mulai dikembangkan secara masif melalui cara sederhana misalnya dengan mengimplementasikan nilai-nilai kejujuran dasar, hingga pembelajaran terhadap antikorupsi.
Pendidikan antikorupsi ini diharapkan dapat melahirkan generasi generasi penerus bangsa yang jujur dan berintegritas. Dalam menghadapi budaya korupsi yang hingga saat ini, peran guru sangat diharapkan, anak didik yang duduk di bangku sekolah adalah calon generasi penerus bangsa. Melalui peringatan hari guru sejatinya perlu dikembangkan gebrakan yang besar untuk menghadapi hal ini, jika diperlukan lembaga pendidikan di setiap daerah diwajibkan untuk menggerakkan pendidikan dan pelatihan antikorupsi.

Antikorupsi Melalui Program “Guru Belajar dan Berbagi”
Program Guru Belajar dan Berbagi menjadi wadah bagi para guru di seluruh Indonesia untuk meningkatkan kemampuan diri sebagai tenaga pendidik. Melalui program ini guru tentu dapat memanfaatkannya untuk saling bertukar pikiran dengan guru lainnya di berbagai daerah melalui diskusi secara daring.
Program yang memiliki 5 seri belajar yakni keterampilan hidup baru, pendidikan inklusif (untuk siswa berkebutuhan khusus), pembelajaran jarak jauh (untuk pembelajaran di masa pandemi COVID-19), asesmen mandiri, dan belajar mandiri untuk calon guru ASN PPPK baru tentunya sangat cocok sebagai wadah untuk mengembangkan pendidikan antikorupsi di sekolah. Dengan bertukar pikiran antar guru di berbagai daerah, akan mampu menghasilkan solusi konkrit yang dapat dikembangkan melalui cara-cara sederhana, misalnya saja kembali membangun kantin kejujuran di sekolah.
Program yang merupakan gerakan kolaborasi pemerintah, guru, komunitas, dan penggerak pendidikan ini diharapkan mampu mambangkitkan gotong royong seluruh stakeholder pendidikan dalam berbagi ide dan praktik baik melalui Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), artikel, video pembelajaran, dan aksi webinar dalam mengembangkan pendidikan antikorupsi. Misalnya saja dalam seri pendidikan keterampilan hidup baru, dengan sinergi antara Kemendikbud Ristek dengan UNICEF tentunya akan mampu menciptakan gebrakan dan program strategis dalam pendidikan antikorupsi termasuk mengembangkan kemampuan belajar dan menggali potensi kejujuran dan integritas bagi anak sejak dini.
Korupsi sektor pendidikan yang masif tentunya berdampak terhadap seluruh warga sekolah, tidak hanya guru, bahkan murid pun merasakan dampaknya, misalnya tidak mendapatkan fasilitas pendidikan yang layak sebagaimana mestinya. Dengan angka korupsi yang sangat tinggi, sektor pendidikan menjadi salah satu harapan dalam mitigasi. Ini perlu menjadi renungan besar khususnya di peringatan Hari Guru yang jatuh tepat pada hari ini. Sebagaimana tema peringatan Hari Guru Nasional 2021 dari kemendikbud Ristek, “Bergerak dengan Hati, Pulihkan Pendidikan”, memulihkan sektor pendidikan dari perilaku korupsi oknum-oknum tertentu harus mampu dilakukan, karena sejatinya sektor pendidikan adalah sektor vital dalam membentuk karakter dan sikap seseorang sejak dini.

Ditulis oleh Azry Almi Kaloko, Koordinator Divisi Komunikasi dan Informasi LINKKAR (Lembaga Analisis dan Kajian Kebudayaan Daerah)

Breaking News