Satker BPS Sumut, Minta Masyarakat Jawab SMS Blast Dengan Jujur
METRORAKYAT.COM, LUBUK PAKAM – Satuan kerja Badan Pusat Statistik (BPS) berharap kepada masyarakat Indonesia supaya memberikan jawaban secara jujur dan benar terhadap SMS Blast.
Tujuan ini dilakukan BPS Sumatera Utara (Sumut) untuk menuju Satuan Kerja (Satker) Berpredikat Wilayah Bebas Korupsi (WBK) berdasarkan Survei Hasil Penilaian Reformasi Birokrasi (SHPRB) yang di mulai pada 4 Oktober 2021 ini.
Hal ini disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Syech Suhaimi pada workshop wartawan dalam rangka Pembinaan dan Ekspose Data Sosial Ekonomi Sumut tahun 2021 bertempat di Hotel Thong’s Inn Lubuk Pakam, Selasa (28/9/2021).
Kegiatan yang di ikuti seluruh wartawan BPS Sumut berlangsung selama 3 hari yakni Selasa dan Kamis (28,29 dan 30 September 2021.
Turut hadir dan sebagai nara sumber yaitu Koordinator Fungsi Statistik Distribusi BPS Sumut Dinar Butar-butar, Koordinator Fungsi Neraca Wilayah dan Analisis Statistik Taulina Anggarani serta Nizaruddin Koordinator Fungsi Statistik Produksi.
Dijelaskan Syech, bahwa untuk Satker menuju WBK, ada SHPRB juga di mulai Oktober ini dengan mensurvei masyarakat (responden) secara acak.
Maka untuk itu diharapkan bagi masyarakat yang jadi responden dengan masuknya SMS Blast agar menjawab secara sejujurnya juga penuhi persyaratannya. Karena SMS blast dibuat oleh Kemenpan RI.
“Disebabkan tahun lalu tak lolos karena banyak jawaban yang tak sesuai persyaratan,” pintannya.
Syech menambahkan, selain WBK, BPS Sumut juga merupakan salah satu yang ditunjuk BPS Pusat untuk pembinaan Desa Cantik (Desa Cinta Statistik) dengan 100 desa cantik di Indonesia. Sumut sendiri kebagian 4 desa Cantik yang dibina BPS pusat. Namun BPS Sumut juga telah melakukan pembinaan 100 desa Cantik untuk tingkat provinsi.
“Pemerintah daerah (Pemda) termasuk didalamanya kepala desa yang cukup antusias melakukan program desa Cantik ini,” beber Syech.
Secara nasional bahwa pembangunan tidak bisa tercapai oleh satu pihak saja, akan tetapi perlu kolaborasi bersama banyak pihak, termasuk peran serta media massa.
“Dukungn media massa tentu sanngat diharapkan dalam memasyarakatkan statistik,” pungkasnya. (MR/156)



