Sesepuh Tunggul Sabdo Jati 1610,Juru Kunci Dieng, Gelar Pangruwad Jagad

Sesepuh Tunggul Sabdo Jati 1610,Juru Kunci Dieng, Gelar Pangruwad Jagad
Bagikan

METRORAKYAT.COM, BANJARNEGARA – ,Romo Rusmanto Sesepuh Dieng, Tunggul Sabdo Jati 1610, sekaligus Juri Kunci Negeri diatas angin mengelar Tradisi upacara Pangruwatan Jagad.Pelaksanaan agak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, lantaran kondisi masih Pandemi Covid-19.

Tradisi upacara Pangruwatan Jagad, merupakan tradisi yang dilakukan Paguyuban Tunggul Sabdo Jati 1610 Dieng Banjarnegara khususnya Dieng di setiap tahunnya, saat memasuki bulan suro atau tahun baru Islam. Adapun Tahun baru Islam saat ini bertepatan dengan tanggal 10 Agustus 2021 atau 1 Muharam 1443 atau Tahun Baru Jawa 1955 Alip.

Seperti Tahun-tahun sebelumnya, Paguyuban Tunggul Sabdo Jati 1610 Dieng mengelar tradisi upacara Ruwat Jagad. Namun, saat ini upara tradisi itu di gelar dengan penuh kesederhanaan mengingat kondisi masih Pandemi Covid-19.

Sebelum ada pandemi covid-19, tradisi upacara Pangruwatan Jagad itu dilakukan semalam suntuk serta ritual potong rambut gimbal massal, pertunjukan wayang kulit hinga sehari semalam dan slamatan atau nyadran (tolak balak untuk keselamatan bangsa Indonesia).

Paguyuban Tunggul Sabdo Jati 1610, David Putra Bima,Mewakili tuan rumah Sesepuh Di dieng Romo Rusmanto mengatakan bahwa, kegiatan upacara Pangruwatan Jagad ini sudah menjadi tradisi warga Dieng sejak jaman nenek moyang.

“Ketika memasuki Bulan suro atau Tahun Baru Islam warga Dieng mengelar tradisi upacara Pangruwatan Jagad, dengan tujuan untuk mengembangkan adat budaya dari leluhur dan mempertahankan, melestarikan kultur budaya Jawa guna menerbitkan penerus di Nusantara,” kata David, saat acara upacara Pangruwatan Jagad, di Desa Dieng, Selasa malam (10/08).

David menjelaskan, selain nguri-nguri budaya, upacara Pangruwatan Jagad dilaksanakan guna untuk meminta kepada yang maha kuasa agar masyarakat khusunya warga Dieng di beri keselamatan. Selain itu juga untuk meminta restu dari leluhur agar apa yang dicita-citakan semua umat di dunia bisa terlaksana.

“Adat dan budaya dari leluhur harus kita lestarikan dan kita jaga, agar warisan adat dan budaya dari leluhur tidak punah,” tandasnya.

David menegaskan,rangkaian-rangkaian upacara Pangruwatan Jagad, dari mulai napak tilas di sungai Serayu atau bisaa dikenal Tuk Bimo Lukar hingga sampai di penghujung acara yaitu selamatan.

” Upacara Pangruwatan Jagad dimulai dari napak tilas di pusat sungai Serayu, kemudian mirunggan atau musyawarah dan dilanjutkan selamatan,” ungkapnya.

Adapun maksud dari napak tilas di sungai Serayu ialah, lanjut David, untuk mensucikan diri atau nglebur rereget ( melebur dosa) agar manusia kembali suci di Tahun selanjutnya. Kemudaian, arti sesarean atau mirunggan yaitu nguri- nguri budaya jawa atau melestarikan tradisi budaya jawa yang diwariskan dari leluhur.

“Semoga di Tahun baru ini, semua masyarakat di Nusantara ini di jauhkan dari mara bahaya dan diberi keselamatan serta di kabulkan semua cita-citanya,” pungkasnya.

Perwakilan dari Kendal, Abdul Handik,(45) mengatakan, dalam pelaksanaan kegiatan ini saya bersyukur bisa mengikuti rangkaian acara upacara Malam Suro,Mensucikan diri dengan mandi di Tuk Bimo Lukar, dilanjutkan mengikuti sarasehan di kediaman Romo Rusmanto dengan diskusi, musyawarah untuk nguri-uri, mengembangkan kebudayaan Jawa.

“Semoga para generasi muda bisa ikut andil dan mengembangkan kebudayaan jawa dengan kesadaran jangan sampai jadi orang Jawa lupa akan jadi dirinya,” Pungkas andek.(mr//siva zou)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.