Selamat Jalan Bang AS Atmadi …

Selamat Jalan Bang AS Atmadi …
Bagikan

Mengenakan topi, gasper di dada, berkacamata dan busana nyentrik. Itulah yang terbayang saat Bang AS Atmadi dikabarkan meninggal dunia di rumah sakit. Oh ya satu lagi, tertawanya almarhum biasanya lepas manakala pembicaraan dengannya agak unik , candaan dan berisi.

Saya dan Bang AS Atmadi sempat bersama mendulang informasi dari rumah  toko di kawasan Sei Mati Medan. Tidak lama, mungkin dua tahunan saja. Meski almarhum lebih dahulu menduduki kursi sempit disana, namun ketika saya bergabung, bagaikan gayung bersambut. Duduk berdempet – dempet serta panas karena kipas angin tidak kuat mendinginkan ruangan tanpa AC.

Kami tidak perduli , yang penting bekerja. Saya merasa beruntung bisa menempati posisi sebagai wakilnya disana dan bukan sekadar formalitas namun termasuk dalam pembagian tugas – tugas.

Bang AS Atmadi, insan pers yang kritis. Kabarnya, kebiasaan ini ia mulai ketika bekerja di sejumlah media cetak yang didiaminya. Yang saya tahu sikap hidupnya tersebut melekatkan namanya di Harian Waspada, Portibi DNP, atau Orbit.

Saya berutang rasa padanya tentang bagaimana menghargai persahabatan. Daftar utang rasa ini masih bisa saya perpanjang andai ruang tulisan tidak terbatas.

O ya, apakah itu utang rasa? Saat kita dibonceng, diseberangkan, diparkirkan, makan bersama dan lain-lain ujungnya tak akan pernah terbayar. Itulah utang rasa. Untuk ajaran yang disampaikan secara verbal, utang rasa buat Bang AS Atmadi tak terhitung.

Dibalik tampilannya yang nyentrik kepada saya bicaranya sangat rasional, terstruktur dan berkerangka. Beberapa penekanan dalam uraian-uraian itu selalu ditandaskan aksentuasi telunjuk tangan kanan tegak di depan wajahnya.

Kalau saya meminta contoh konkret dalam uraiannya , baru ia memberikan contoh-contohnya. Misalnya dalam memilih berita aktual di halaman depan media, menulis editorial atau metode peliputan  dengan semi kocak ia jelaskan dengan gamblang.

Suatu hari, Bang AS Atmadi tidak hadir ke kantor dengan alasan kesehatan.Pukul 11.00 WIB ia telepon dan memerintahkan saya menggantikannya membuat editorial di media tempat kami bekerja. “ Bang buatkan Centrum ya,” ujarnya di seberang telepon. Ia panggil saya “bang”, padahal usia kami terpaut sepuluh tahun.

Centrum, itu nama lain dari editorial ataupun tajuk rencana kalau di media lainnya. Saya kagok juga menerima perintah itu. Namun dalam adat wartawan Waspada dan SIB dahulu — saya alumni harian SIB – perintah atasan tidak untuk dilawan.

Meski, berkali – kali mengulang si-centrum tadi dan berkeringat dingin juga, namun saat esoknya Bang AS Atmadi hadir terbayar juga kerja keras tersebut. “ Haaaa, abang sudah bisa menulis tajuk. Mulai besok kita gantian, “ ujarnya.

Memanggil abang kepada saya, sudah terlalu berlebihan rasanya, namun kebiasaan rendah hati seorang AS Atmadi malah memberi lebih, yakni dengan pujian atas kerja yang baik.

Saya tidak ingat bagaimana kami berpisah. Sebab tiba – tiba ia tidak ngantor dan manajemen meminta saya meneruskan tugas – tugas dan tanggung jawab Bang AS Atmadi. Memang, tidak berapa lama, berikutnya saya juga meninggalkan Ruko itu sambil membawa cerita kurang nyaman. Saya berpikir Bang AS Atmadi juga tidak jauh beda dengan pengalaman itu.

Bang AS Atmadi sahabat berusia 70 tahun itu Rabu 04 Agustus 2021, menghembuskan nafas terakhirnya di RS Adam Malik pukul 13.15 Wib. Setelah terpapar virus corona sejak minggu lalu.

Sehari sebelumnya Selasa 03 Agustus 2021, saturasinya 75. Di bawa ke rumah sakit dalam keadaan tidak sadarkan diri. Malam harinya, saturasi sudah 98. Tapi kesadarannya belum pulih.

Pimpinan Teater Propesi Medan dari 1978 itu akhirnya berpulang ke Rahmatullah. Tuhan Khalik langit dan bumi lebih menyayanginya. Saya tidak yakin utang rasa ini akan terbayar dengan apapun dan sampai kapanpun. Apalagi sekadar lewat tulisan semacam ini. Sudahlah …. Selamat jalan Bang…

(Jenda Bangun, Pemred metrorakyat.com)

 

Admin Metro Rakyat News