BNI Dukung Investasi di Kawasan Ekonomi Baru
METRORAKYAT.COM, JAKARTA –Direktur Utama PT. Bank Negara Indonesia (BNI) (Persero) Tbk Royke Tumilaar menegaskan komitmen dunia perbankan untuk mendukung investasi di kawasan ekonomi baru sebagai sumber pertumbuhan ekonomi. Pemerintah sendiri telah menetapkan 10 kawasan ekonomi baru, 9 kawasan industri prioritas nasional dan 19 smelter.
“Dunia perbankan menyambut baik dan mengapresiasi langkah pemerintah untuk menciptakan kawasan ekonomi baru yang tersebar di seluruh Indonesia. Ini penting karena perekonomian Indonesia sedang memasuki fase pemulihan ekonomi akibat Covid-19,” papar Royke Tumilaar saat acara Investor Daily Summit 2021 sesi diskusi “Mengakselerasi Investasi di Kawasan Ekonomi Baru”, dalam press relisnya, Selasa (13/7/2021).
Lanjut Royke, kehadiran kawasan ekonomi baru di berbagai daerah ini diharapkan dapat menjadi pendorong bergeraknya ekonomi di daerah, yang pada akhirnya menjadi sumber pertumbuhan dan pemerataan ekonomi.
Selama ini peran perbankan masih sangat besar sebagai sumber pendanaan swasta di Indonesia. Di tahun 2020, kontribusi perbankan mencapai sekitar 60% dengan total pendanaan sekitar Rp 5.400 triliun. Perbankan juga memiliki kontribusi yang besar dalam pengembangan investasi melalui penyaluran kredit investasi. Sampai dengan April 2021, kredit investasi yang disalurkan perbankan ke daerah mencapai sekitar Rp 1.400 triliun.
“Alokasi kredit investasi perbankan dominan memang masih banyak di pulau Jawa sekitar Rp 1.150 triliun atau hampir 80% dari alokasi kredit nasional. Sehingga masih terdapat ruang bagi perbankan untuk turut membiayai proyek-proyek investasi di kawasan ekonomi baru, khususnya yang berada di luar Jawa,” ucap Royke.
Di BNI sendiri, pada kuartal I 2021, kinerja pertumbuhan kreditnya mencapai 2,2%, lebih baik dibandingkan pertumbuhan kredit perbankan nasional yang masih terkontraksi hingga -3,8%. Ada tiga sektor potensial yang menjadi prioritas BNI, yaitu industri manufaktur, agribisnis, dan konstruksi. Total kredit di sektor ini mencapai sekitar Rp 215 triliun atau 46% dari total bisnis banking BNI.
Terkait investasi di kawasan ekonomi baru, Royke juga mengungkapkan tiga tantangan utama yang dihadapi. Antara lain masih adanya perlambatan ekonomi akibat Covid-19, adanya penundaan beberapa proyek infrastruktur, dan juga feasibility project.
“BNI dan sektor perbankan akan senantiasa mendukung kawasan ekonomi baru. Untuk mendukung pengembangan tersebut, BNI juga memiliki infrastruktur jaringan distribusi yang tersebar luas baik domestik maupun global. Tentunya kita juga bisa membantu para investor atau manufaktur apabila memerlukan sumber-sumber dana yang sifatnya bisa dari luar maupun domestik. Layanan ini juga didukung dengan layanan digital BNI. ###. MR/156.
