oleh

Sembahyang 49 Hari Memperingati Kematian Orangtua dari Keluarga Huang Ik Lai

SHARE
428 views

METRORAKYAT.COM, RANTAU PRAPAT – Pada Suku Tionghoa, ada salah satu tradisi dimana ketika salah satu anggota keluarga telah meninggal dunia baik anak-anak maupun orangtua, biasanya pihak keluarga yang ditinggal akan melakukan sembahyang atau mengirim doa kepada arwah salah satu keluarga yang telah meninggal dunia.

Dari informasi yang diterima wartawan saat mengikuti acara sembahyang 49 hari keluarga Huang Ik Lai yang juga orangtua dari keluarga besar  Drs.Wong Chun Sen Tarigan dari Suhu Akau di Vihara Avalokitesvara, Yayasan Sosial Badan Amal Budi Agung, Jalan Cimpedak, Rantau Prapat Kabupaten Labuhan Batu Induk, Minggu (7/5/2021),  bahwa setelah salah satu keluarga baru meninggal dunia dan dikebumikan atau di kremasi, dalam budaya Tionghoa, ada 4 (empat) kali acara sembahyang yang dilakukan antara lain: Sembahyang 7 hari setelah meninggal dunia, sembahyang 49 hari, sembahyang 100 hari dan sembahyang 365 hari atau 1 Tahun.

Dijelaskan Akau lagi, Tionghoa ada memiliki banyak suku, namun dia hanya menjelaskan tiga suku itu yang sering melakukan doa atau sembahyang di Vihara Avalokitesvara.

“Disini biasa ada 3 suku saja yang sering datang sembahyang antara lain, Suku Kong hu, Suku Hi Liok Hong, dan Suku Tio Ciu. Suku Kong Hu akan melakukan sembahyang memperingati meninggalnya salah satu keluarga mereka pada pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB sampai selesai. Dan Suku Liok Hong, dan Suku Tio Ciu pihak keluarga biasanya, melakukan sembahyang pada malam hari dari mulai pukul 20.00 WIB sampai selesai, biasanya kalau malam hari akan memakai alat musik lengkap,”tuturnya.

Untuk acara bakar rumah biasanya Suku Kong Hu akan melaksanakannya pada saat hari ke 49. Disitu, akan dipersembahkan dengan membakar rumah-rumahan, uang kertas (tidak asli), mobil, kertas kim gin, makanan (nasi, sayur, ikan, daging), buah-buahan dan juga semua kebutuhan alm ketika masih hidup.

” Saya jelaskan, menurut kepercayaan umat Budha Tiongoa, pembakaran rumah-rumahan beserta isinya itu sebagai bentuk penghormatan keluarga yang masih hidup kepada Almarhum agar memiliki harta di akhirat, dan juga kebutuhan sandang dan pangan,”terangnya.

Kalau untuk Suku Hi Liok Hong, dan Suku Tio Ciu, 7 hari setelah kematian salah satu pihak keluarganya, sudah bisa melaksanakan upacara bakar rumah-rumahan dan keperluan almarhum di alam fana.

Namun, Akau menjelaskan lagi, bagi yang bisa melaksanakan tradisi bakar-bakar rumah-rumahan tersebut  adalah mereka yang sudah memiliki cukup uang untuk melaksanakannya. Sebab, biayanya juga mahal dan harus mengumpulkan banyak keluarga. Acara bakar-bakar dapat juga dilakukan 2 atau 3 tahun lagi bagi mereka yang belum mempunyai uang yang cukup.

“Jadi tidak masalah dilakukan tahun berikutnya, jika memang belum ada uang,”katanya.
Untuk usia yang meninggal yang bisa dilakukan acara bakar rumah-rumahan sebagai simbol untuk mengirim harta kepada pigak keluarga yang baru atau yang suda lama meninggal dunia di usia 17 Tahun ke atas.

“Acara prosesi juga biasanya dipimpin oleh Suhu atau Pendeta, selanjutnya di ikuti oleh pihak keluarga,”tutupnya.(mr/red)

Breaking News