oleh

Sinergi Dorong Pembiayaan Perbankan, Dunia Usaha Optimis

SHARE
47 views

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Sinergi Kebijakan Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK) serta Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), perbankan dan dunia usaha diarahkan untuk mendorong kredit maupun pembiayaan ke sektor-sektor prioritas.

Demikian siaran pers yang dikirim oleh Rahayu Puspasari, Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan, Erwin Haryono, Direktur EksekutifI nformasi tentang Bank Indonesia dan Anto Prabowo, Deputi Komisioner Hubungan Masyarakat dan Logistik Otoritas Jasa Keuangan, Jumat (2/4/2021).

Hal ini sejalan dengan Paket Kebijakan Terpadu KSSK dalam Peningkatan Pembiayaan Dunia Usaha sebagai wujud Percepatan Pemulihan Ekonomi yang diputuskan pada awal Februari 2021. Sebagai cakupan yakni: 1.Kebijakan insentif fiskal serta dukungan belanja Pemerintah dan pembiayaan,
2.Stimulus moneter, kebijakan makroprudensial akomodatif, dan digitalisasi sistem pembayaran, 3. Kebijakan prudensial sektor keuangan terakhir,4. Kebijakan penjaminan simpanan. 

Dilihat dari sisi pelaku dunia usaha, mereka optimis bahwa pemulihan ekonomi akan terus berlanjut. Dan yang mengemuka untuk kegiatan Temu Stakeholder sebagai Percepatan Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) di Surabaya, Kamis (1/4), bersama Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, Wakil Menteri Keuangan RI (Wamenkeu), Suahasil Nazara, Anggota Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Heru Kristiyana dan Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Fathan Subchi.

Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti menyampaikan bahwa secara nasional, kredit dan pembiayaan perlu diarahkan ke sektor prioritas. Berdasarkan pemetaan, terdapat 38 subsektor prioritas dengan kontribusi besar pada PDB dan ekspor yang terdiri dari 6 subsektor berdaya tahan, 15 subsektor pendorong pertumbuhan serta 17 subsektor penopang pemulihan.

Khusus Jawa Timur, kata Destry, 21 subsektor prioritas pada triwulan IV 2020 menunjukkan perbaikan kapasitas produksi dibandingkan dengan triwulan III 2020 dan diperkirakan berlanjut pada triwulan I 2021.

“Namun, penambahan pembiayaan melalui perbankan masih terbatas,” imbuh Destry. 

Dalam hal ini, bauran kebijakan Bank Indonesia tetap diarahkan untuk mendorong pemulihan ekonomi, termasuk pembiayaan kepada dunia usaha. Bank Indonesia telah menurunkan suku bunga kebijakan sebanyak  enam kali sejak 2020 sebesar 150 bps menjadi 3,50 persen dan melakukan injeksi likuiditas yang besar. 

Kemudian, Bank Indonesia mendorong transparansi Suku Bunga Dasar Kredit, memperkuat kebijakan Rasio Intermediasi Makroprudensial (RIM/RIM Syariah) dengan memasukkan wesel ekspor sebagai komponen pembiayaan, serta memberlakukan secara bertahap ketentuan disinsentif berupa Giro RIM/RIMS, untuk mendorong penyaluran kredit/pembiayaan perbankan kepada dunia usaha dan ekspor.

Dikesempatan itu, Wamenkeu Suahasil Nazara menjelaskan bahwa tahun 2021, kerangka pemulihan ekonomi 2021, terpusat pada tiga hal antara lain pertama, intervensi kesehatan melalui vaksinasi gratis dan disiplin dalam penerapan protokol Covid-19. Kedua, survival and recovery kit untuk menjaga kesinambungan bisnis, serta ketiga, reformasi struktural melalui UU No. 11/2020 tentang UU Cipta Kerja.

Selanjutnya tambah, Suhaisil, APBN didesain sebagai upaya untuk kembali mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia. Di dalam APBN, terdapat anggaran PEN yang meningkat 22 persen menjadi Rp699,43 triliun, yang menyasar kesehatan sebesar Rp176,30 triliun, dukungan sosial sebesar Rp157,41 triliun, dukungan UMK serta korporasi sebesar Rp184,83 triliun. Insentif usaha sebesar Rp58,46 triliun serta Rp122,44 triliun untuk dukungan program prioritas. 

“Lima program tersebut diarahkan untuk menjadi game changer di tahun 2021,” paparnya.

Sementara anggota Dewan Komisioner OJK, Heru Kristiyana mengatakan, OJK selama masa pandemi ini telah mengeluarkan berbagai kebijakan stimulus. Tujuannya agar sektor jasa keuangan tetap kokoh dan sektor riil dapat kembali bisa bangkit dengan kemudahan-kemudahan, seperti restrukturisasi kredit dan pembiayaan.   

“Orkestrasi kebijakan yang telah diterbitkan OJK bersama stimulus dari Pemerintah dan Bank Indonesia telah membuat stabilitas sistem keuangan terutama di industri perbankan terus terjaga,” ungkap Heru. 

Kebijakan-kebijakan stimulus tersebut telah membuat perbankan nasional masih terjaga baik, dengan CAR 24,55 persen (Februari,yoy), aset (Rp9.124 triliun, Februari), dan DPK tumbuh 10,11 persen (yoy). Untuk mendorong pertumbuhan kredit yang masih terkontraksi diperlukan sinergi kebijakan dalam meningkatkan demand yang bisa menggulirkan sektor usaha. 

“OJK optimistis dengan berbagai respons kebijakan yang telah dilakukan maka pertumbuhan kredit akan mulai tumbuh diperkirakan pada kuartal kedua,” tegas Heru.

Pada kesempatan yang sama, Wakil Ketua Komisi XI DPR RI, Fathan Subchi menyampaikan bahwa pemerintah telah melakukan pendekatan dalam mengatasi pandemi yang tepat (on track) baik dari sisi kesehatan dan ekonomi. Sehingga optimisme ke depan mulai terbangun baik di UMKM maupun dunia usaha. 

“Sedangkan kehadiran UU Cipta Kerja diharapkan akan memberikan kemudahan bagi pelaku usaha UMKM dan dunia usaha secara umum untuk terus pulih,” terang Heru.

Kemudian, di sesi tanggapan, Lana Soelistianingsih, Kepala Eksekutif LPS menyampaikan bahwa LPS melihat kepercayaan masyarakat terjaga yang tercermin dari dana masyarakat di perbankan relatif stabil. 

Selain itu, LPS berharap suku bunga kredit ke depan bisa terus turun sehingga dapat mendukung penyaluran kredit yang penting dalam menopang pemulihan ekonomi. 

Dalam hal ini, untuk mendorong pembiayaan perbankan kepada dunia usaha, LPS mengeluarkan beberapa kebijakan yaitu kebijakan penurunan tingkat bunga pinjaman sebesar 150 bps untuk simpanan dalam rupiah di Bank Umum dan BPR, serta 75 bps untuk simpanan dalam valas di Bank Umum. Juga kebijakan relaksasi denda keterlambatan pembayaran premi, serta kebijakan relaksasi waktu penyampaian laporan. (MR/156).

Breaking News