Tantangan Pers Perkembangan Teknologi, Kekerasan Dan Rendahnya Otokritik
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Wartawan Senior Sumut Choking Susilo Sakeh mengatakan pers idealis tidak akan pernah mati. Namun meski begitu ada beberapa tantangan yang dihadapi pers saat ini, antara lain pandemi Covid-19, perkembangan teknologi, ancaman kekerasan dan rendahnya otokritik.
Choking menyebutkan salah satu upaya yang bisa dilakukan pers guna menghadapi tantangan tersebut, antara lain kolaborasi antarmedia untuk menghasilkan berita yang dibutuhkan masyarakat. Sehingga bisa bersaing dengan tulisan-tulisan di media sosial yang belum tentu kebenarannya.
Selera
Dosen FISIP USU Sakhyan Asmara menyebutkan, ada beberapa hal yang mempengaruhi independensi wartawan. Di antaranya tergerus oleh tuntutan mempertahankan hidup, terseret mengikuti selera pemilik modal, hingga terjebak kepada kepentingan berita yang dibingkai.
Selain itu ada beberapa hal yang menyebabkan independensi wartawan tidak berjalan. Di antaranya, penguasa begitu kuat, desentralisasi tidak berjalan atau kewenangan ditarik ke pusat. Jabatan strategis dalam suprasrtuktur politik dikuasai oleh partai atau koalisi partai penguasa. “Serta para aktivis dibatasi gerakannya melalui pendekatan ekonomi atau pendekatan yang represif,” ungkapnya.
Pernyataan itu mengemuka saat dilangsungkannya Dialog Kebangsaan Hari Pers Nasional dengan tema ‘Pers Perjuangan, Antara Idealisme dan Komersialisme di Era Milenial’ yang diadakan Dewan Harian Daerah (DHD) Badan Pembudayaan Kejuangan 45, di Gedung Juang 45, Jalan Pemuda, Medan, Selasa (16/2)
Merdeka
Sejarawan Unimed Ichwan Azhari menyampaikan, di masa lalu, pers memiliki ideologi melawan kolonialisme. Ia mencontohkan media Benih Merdeka yang terbit di Medan pada tahun 1916. Menurutnya Benih Merdeka sangat berani menamai korannya menggunakan kata Merdeka.
Ichwan juga menyebut Parada Harahap sebagai wartawan yang memiliki ideologi perjuangan. Parada Harahap pernah 12 kali masuk penjara sehingga disebut sebagai raja delik. “Dulu koran dibuat sebagai alat pejuangan untuk menentang kolonialisme,” ujar Ichwan.
Acara diaog tersebut dibuka Sekretaris Daerah Provinsi (Sekdaprov) Sumut R Sabrina serta dihadiri sejumlah tokoh pers dan tokoh masyarakat Sumut Syamsul Arifin. (mr/JEN)

