Harga Daging Babi Meroket, Pengusaha Rumah Makan khas Batak di Medan Menjerit
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Akibat naiknya harga daging Babi yang menembus kisaran Rp.140 ribu per kilo, membuat pengusaha rumah makan khas batak karo (BPK) yang menjadikan daging babi sebagai menu utama untuk dijual menjerit. Sebab, selain harga daging Babi yang mahal , pasokan daging babi pun semakin sulit di dapatkan.
Mahalnya harga daging babi inipun sangat dirasakan oleh masyarakat kota Medan yang menjadikan daging babi sebagai santapan favorit termasuk juga untuk acara resmi seperti pesta perkawinan, acara syukuran/selamatan dan lain sebagainya.
Menanggapi mahalnya harga daging ternak berkaki ampat jenis babi ini ditanggapi serius oleh anggota DPRD Kota Medan dari Partai PDI Perjuangan, Hendri Duin. Dikatakan Hendri Duin bahwa, mahal nya harga daging Babi yang menembus sampai Rp.140 ribu per kilonya, membuat diri nya harus memutar otak agar dapat mencukupi kebutuhan daging babi untuk kebutuhan usaha rumah makan miliknya. Mahalnya daging babi di sertai sulitnya mendapatkan babi semakin menjadikan pengusaha rumah makan BPK Tesalonika ini harus kerja keras mencari jenis babi yang sesuai.
Perwakilan Pengusaha Peternak Babi Sumatera Utara ini juga menyayangkan tidak adanya peran dari pemerintah Sumatera Utara melalui Dinas Perindag Sumut untuk memberikan subsidi kepada para peternak babi yang ada di Sumatera Utara. Selain itu, kata Hendri Duin lagi, pemerintah seakan tutup mata dengan kondisi seperti saat ini.
” Sebenarnya,kita ingin agar Disperindag Sumut melakukan penstabilan harga Babi di pasaran sehingga harga dapat dikontrol. Kasihan masyarakat, tidak lagi dapat membeli daging babi karena mahal dan sulit di dapatkan,” ujar legislatif dari Dapil 5 kota Medan ini, Senin, (18/1/2021).
Hendri Duin menambahkan lagi, seharusnya, Pemerintah turun tangan mensubsidi, sehingga para pengusaha rumah makan khas Batak tidak menjerit. ” Tapi sampai kapan kami akan menunggu, karena kami hidup dari sana (usaha ternak babi dan menjual daging babi untuk mendapatkan uang),”terangnya.
Diakui Hendri Duin lagi, jika sebelumnya, dia membutuhkan 7 sampai 8 ekor babi per hari untuk di potong dan dijual di usaha rumah makan miliknya, namun kini sudah sulit, sebab pelanggan nya juga sudah berkurang disebabkan kenaikan harga dampak sulitnya mendapatkan daging babi. ” Jenis babi yang kita jual juga yang berkualitas dan benar-benar sehat sebelum di potong, nah, di situlah sulitnya saat ini untuk mendapatkan daging babi,”ujarnya.
Diceritakan oleh Hendri Duin lagi, jika Sumatera Utara telah membeli babi dari Kalimantan sebanyak 1000 ekor. Pemko Medan juga tidak ada berperan untuk menganulir agar harga hewan berkaki ampat jenis babi ini dapat stabil.
” Untuk saat ini, harga babi yang hidup Rp.70 ribu per kilo, sementara harga daging babinya Rp.140 ribu per kilo, kita juga berharap ada peran pemerintah dalam melakukan solusi dan trobosan agar para peternak babi dan pengusaha rumah makan termasuk masyarakat di Sumatera Utara yang dapat mengkonsumsi daging babi tidak menjerit,” pungkas Hendri Duin. (MR/wan)
