Gawat! Warga Belawan Gelisah Banjir Rob Serang Rumah Warga Jam Dua Malam
METRORAKYAT.COM, BELAWAN – Warga Kecamatan Medan Belawan resah selain jalan digenangi air pasang, juga banjir rob serang pemukiman Warga pada Dini Malam Hari sekira pukul 02.00 WIB, (18/10/2020).
Pantauan di lapangan, banjir rob menggenangi pemukiman warga diantaranya hampir disetiap kelurahan di Kecamatan Medan Belawan, diantaranya Kelurahan Belawan Bahari, Kelurahan Belawan Sicanang, Kelurahan Belawan Bahagia, Kelurahan Belawan I, Kelurahan Belawan II, Gabion Kelurahan Bagan Deli, digenangi air laut sekira lutut orang dewasa.
Menurut informasi yang kami terima dari warga Kelurahan Belawan Bahagia ibu Evi(50) menyampaikan untuk saat ini, bibit air pasang tidak dapat di prediksi lagi, katanya dahulunya air pasang atau pasang besar hanya terjadi satu kali dalam satu bulan, tetapi untuk saat ini air pasang atau bibit air yang naik dalam satu bulan bisa terjadi tiga kali siang dan malam.
“Banjir rob kali ini, sungguh diluar dugaan, bikin panik dan jantungan, akan setinggi apa jadinya ini ya?. Sungguh, campur aduk perasaan ini saat memandang air laut yg masuk dgn derasnya dan begitu cepat memenuhi ruangan rumah,”kata Evi.
Sangat kecewa begitu tega mengorbankan rakyat dalam Kesulitan yang bertambah, masa pandemi, pengangguran, biaya biaya hidup yang jad mahal dengan lain-lain plus banjir rob sangat lengkap, stop arogansi kekuasaan dengan mengenyampingkan kepentingan rakyat, rakyat sudah over toleransi, sabar dimarginalkan, bisa jadi menjadi jenuh dan bosan. “Kapan bisa merangkul rakyat dalam berkeadilan,”ungkap Ibu beranak dua tersebut.
Warga Belawan menduga bibit air pasang yang tinggi ini diakibatkan adanya proyek reklamasi / penimbunan laut menjadi daratan, drainase yang tidak memadai untuk menampung jalannya bibit air pasang sewaktu naik tinggi, sehingga berdampak pada seluruh wilayah jalan dan pemukiman warga kota Belawan tergenang air pasang naik.
Diduga banyak ketidakpedulian para pengusaha yang berada di kota Belawan akan hal ini, sehingga banyak merugikan para warga kota Belawan. Disaat malam hari dimana seharusnya para warga kota Belawan beristirahat, tetapi dikarena kan adanya bibit air yang tidak tentu naiknya memaksa para warga kota Belawan harus merelakan untuk bergadang untuk memindahkan atau mengangkat perabot yang mereka punya dan menunggu hingga air pasang surut untuk menguras air pasang yang telah masuk kedalam rumah mereka,” jelasnya.
Apakah ini karena alam marah ataukah ini pertanda panen musibah dari keserakahan manusia manusia yg tidak syukur nikmat, tidak Pernah merasa cukup dan haus kehidupan duniawi??,”kata Evi lagi.
Evi mengatakan bahwa Kami rakyat kecil ini, tdak melarang siapapun mau Berbisnis, dengan harapan, rakyat pun akan mendapatkan Lahan bisnis juga, untuk Kesejahteraan keluarga.
“Namun, semestinya, jangan hanya berkutat pada keuntungan saja, pikirkan jugalah kemaslahatan rakyat,”ucapnya.
Ini daerah pesisir, yang sangat akrab dengan banjir rob, bagaimana lingkungan hidup yang layak untuk rakyat, harusnya, diaturlah kebijakan yang menguntungkan rakyat, sehubungan dengan banjir rob, jangan tebas semua lahan yg menjadi area resapan air, jangan libas hutan mangrove, pungkasnya kepada awak media ini.
Siapa pun yg melakukan reklamasi apakah tidak difungsikan akal sehat, nurani yang bersih dan iman, agar apapun dilakukan jadi manfaat.
Banyak efek dan dampak dari penimbunan laut ini, terutama kesehatan masyarakat Belawan dan seluruh property atau rumah juga isi di dalam rumah seperti lemari kulkas dan lainnya ikut rusak.
“Benar bg, sekitar Jam 02.00 malam, banjir rob ya datang,”ujar Basyir warga Belawan lain.
Senada dengan itu Ketua Forum Anak Belawan Bersatu(FABB) Rahmad Chairil Chaniago mengatakan Banjir Rob yang melanda kawasan Belawan dan sekitar nya telah membuat masyarakat semakin menderita, karena sirkulasi nya terjadi siang dan malam. hal ini tidak bisa dianggap sebagai peristiwa biasa dan pemerintah harus segera turun ke lapangan untuk mengatasinya.
Pemerintah propinsi harus serius dan berani untuk menindak pelaku usaha yg merubah ekosistem mangrove menjadi lahan usaha pertambakan dan kebun sawit di daerah zona penyangga (buffer zone), di seputaran paluh kurau dan sungai dua kabupaten Deli Serdang.
“Pemerintah harus segera melakukan pemulihan ekosistem mangrove dan menata ulang pemanfaatan jalur hijau di pesisir secepat mungkin,”ujar Chairil, Senin(19/10).
Yang kedua, sambungnya, kami meminta agar segera dilakukan moratorium atau penghentian sementara, segala bentuk pembangunan yg bersifat pemanfaatan lahan hijau di Belawan. Termasuk reklamasi yg di lakukan PT. Pelindo saat ini di daerah Belawan I.
“Kami memahami bahwa PT. Pelindo memiliki hak untuk mengelola sebagian wilayah Belawan untuk pengembangan kepelabuhanan, tetapi tolong para pejabatnya gunakan hati nurani sebab masyarakat juga punya hak untuk hidup dengan tenang dan nyaman. Termasuk bebas dari petaka banjir rob yg semakin menggila saat ini,”tambahnya lagi.
PT. Pelindo jangan semena mena, ditengah masyarakat di dera petaka banjir rob, kok malah tega kembali melakukan reklamasi untuk kepentingan bisnis bersama mitranya.
Yang ketiga pemko Medan juga harus turun bertindak untuk mengamankan setiap jalur hijau (kawasan mangrove) yg ada di kecamatan Medan Belawan , Marelan dan labuhan agar tidak beralih fungsi untuk pembangunan depo depo atau pergudangan, karena hal ini juga berpengaruh besar terhadap jalur akomodasi air pasang, dan akhirnya meluber ke arah pemukiman penduduk. Ketus Ketua FABB yang baru terpilih tersebut.
“Secepat nya FABB akan bergerak menyikapi situasi ini, dan karena persoalan banjir rob ini termasuk masalah yg prinsipil , maka lebih baik lagi jika semua elemen organisasi yang ada di Belawan bersama sama membangun aliansi perjuangan, demi masyarakat dan demi tanah kelahiran kita,”imbaunya.(mr/aril)


