Indonesia Berpotensi Krisis di Kuartal Ketiga

Indonesia Berpotensi Krisis di Kuartal Ketiga
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Akibat Pandemi Coronavirus, Malaysia saat ini sedang mengalami Resesi. Namun Indonesia harus mewaspadai agar tidak terseret ke arah resesi. Karena pasar keuangan sedang menghantui menghantui pasar keuangan domestik. Terlihat negara jiran tetangga Indonesia yakni Malaysia yang membukukan pertumbuhan negatif di kuartal kedua tahun 2020.

Dari angkanya

Angkanya cukup signifikan dan tidak tanggung-tanggung, pertumbuhan ekonomi Malaysia terpukul minus 17,07% berdasarkan tahunan atau year on year (YoY), sebut pengamat ekonomi analisis pasar keuangan Benyamin Gunawan kepada metrorakyat.com lewat telp selulernya, Sabtu (15/8/2020).

Sambungnya, kinerja pertumbuhan ekonomi negatif tersebut menyisahkan masalah serius negara Malaysia.

Secara hitungan Malaysia mengalami pukulan paling buruk jika dibanding krisis tahun 1998 silam. Meskipun pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama akan tetapi Malaysia masih mampu positif.

Namun penurunan pertumbuhan kuartal kedua diyakini merupakan pertanda ekonomi Malaysia mengalami kesulitan sebagai rebound pada kuartal ketiga nantinya.

“Akibat krisis melanda Malaysia tentu bisa menjadi kabar buruk untuk perekonomian nasional. Walupun pada dasarnya sudah diperkirakan jauh hari sebelumnya,” pungkasnya.

Akibat dampak dari krisis Malaysia tersebut tidak bisa diremehkan begitu saja berlalu. Mengingat hubungan dagang antara Indonesia dengan Malaysia cukup signifikan, termasuk sebagai penyedia tenaga kerja dari Indonesia ke Malaysia.
Sehingga dampak rembesan krisis negara Malaysia tentu sangat berpengaruh terhadap kinerja perekonomian nasional. Disaat kondisi seperti ini pemerintah diminta harus lebih waspada dan berhati-hati lagi agar jangan sampai terjadi resesi.

“Resesi di Malaysia membuat Indonesia kian dekat berpotensi resesi di kuartal ketiga nantinya,” ungkapnya.

Berdasarkan pembacaan pidato nota keuangan pemerintah, lagi-lagi ketidakpastian ekonomi di tahun 2021 masih menghantui. Belanja pemerintah yang diharapkan menjadi saah satu sumber paling besar untuk mendongkrak perekonomian sepertinya tidak bisa diharapkan terlalu banyak.

Ketidakpastian ekonomi masih membayangi dan bisa saja membuat asumsi kinerja ekonomi makro kedepan berubah-ubah. Di tengah kondisi serba sulit ini, pelaku pasar akan kesulitan dalam merumuskan kebijakan investasinya.

Di penutupan perdagangan hari ini, IHSG (Indeks Harga Saham Gadai) masih mampu ditutup menguat 0.16% di level 5.247,69. Sementara mata uang rupiah melemah di level 14.795 per US Dolar.

“Akan tetapi seharian perdagangan Rupiah sempat menyentuh level terendah 14.870 per US Dolar,” tutup Benyamin Gunawan. (MR/JB Rumapea)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.