Tak Bisa Tunjukkan Hasil Swab, RS Elisabeth Medan Makamkan Pasien dengan Protokol Covid-19, Ini Kata Anggota DPRD Sumut, Benny Sihotang

Tak Bisa Tunjukkan Hasil Swab, RS Elisabeth Medan Makamkan Pasien dengan Protokol Covid-19, Ini Kata Anggota DPRD Sumut, Benny Sihotang

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Sempat heboh akibat seorang pasien berinisial D Sihotang warga Jalan Perumnas Mandala, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara yang meninggal di Rumah Sakit (RS) Swasta Elisabeth Kota Medan karena disebut-sebut sebagai pasien yang terkena Covid-19 pada hari Jum’at (17/7/2020) pagi.

Mendengar kabar tersebut dari group WhatsApp, Benny Sihotang yang merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Sumatera Utara (DPRD Sumut) langsung datang ke RS tersebut. Benny mengaku kaget, sebab, pihak RS membebankan sejumlah biaya kepada keluarga keluarga D Sihotang tanpa memberikan bukti-bukti bahwa pasien memang benar meninggal karena virus itu.

” Saya datang kesini untuk mendengar langsung dari pihak rumah sakit, kalau memang benar pihak rumah sakit atau dokter menyatakan yang bersangkutan almarhum ini memang meninggal karena covid-19, pihak keluarga tidak keberatan, lakukanlah pengebumian nya dengan protokol orang-orang yang meninggal dengan covid-19,” Kata Ketua Marga Sihotang Kotamadya Medan ini.

Menurut pengakuan keluarga pasien, tambah Benny, bahwa pihak rumah sakit tidak pernah memberikan pernyataan ini secara tegas mengenai hasilnya mengatakan bahwasanya dia (D Sihotang) kena covid-19.

” Yang pertama, hasil swabnya belum keluar, tapi harus memakai protokol covid-19 saat dikebumikan. Kedua, pihak keluarga tidak bisa menerima karena pihak Rumah Sakit Elisabeth membebankan biaya sebesar Rp.8.000.000 (delapan juta rupiah) kepada keluarga almarhum. Padahal kalau dia kena covid19 maka dana itu sudah disiapkan oleh Kementerian Kesehatan itu yang kami tahu pihak RS nanti meminta itu kepada Kementerian Kesehatan tadi sempat kami pertanyakan pihak RS bilang, oh enggak bisa kami bilang, ini harus kami minta dari Kemenkes karena hasil swabnya belum keluar,” ungkapnya.

Dilokasi, kepada Metrorakyat.com, Desmon Simanjuntak mengatakan mereka tidak mempercayai bahwa D Sihotang meninggal akibat covid. Sebelumnya dia dirawat di RS Madani dengan riwayat sakit jantung, ada pembengkakan dijantung dan pembengkakan pada alat kelaminnya.

” Kalau benar-benar kena Covid-19, kami dari pihak keluarga sudah pasrah dan lakukanlah pemakaman sesuai protokol Covid-19. Tetapi, kalau ini hanya permainan pihak RS dibalik ini semua, tentu kami tidak terima. Passien masuk di RS Elisabeth pada 14 Juli 2020 lalu, tapi tanggal 15 Juli istri D Sihotang disuruh bayar Rp.8 juta,” terangnya.

Tambah Desmin, sempat ada perdebatan antara kami sebagai pihak keluarga dan petugas di rumah sakit. Sebab, dinyatakan Covid-19 tapi tidak ada bukti-bukti yang kuat menunjukan kalau D Sihotang benar terkena virus tersebut.

” Itulah, tadi kami sempat ada perdebatan, kalau ini benar Covid-19, mana buktinya dan hasil swab nya? Sementara pihak RS yang memberikan keterangan kepada bapak anggota dewan pun tidak berani menunjukkan bukti-bukti positif Covid-19 itu tadi. Kami mulai ada kecurigaan disitu,” jelasnya kesal.

Kepada pihak rumah sakit, lanjut Benny Sihotang, menghimbau agar pihak rumah sakit bertanggungjawab karena adanya kesalahan komunikasi dan pihak keluarga meminta surat-surat keterangan agar tidak terjadi seperti ini.

” Tapi sudahlah, yang penting ada tandatangan bahwa pasien meninggal karena Covid-19, itu satu. Mohon maaf untuk ibu-ibu Dokter yang ada disini, istri pasien beserta keluarga tidak bisa membaca hal-hal medis seperti ini. Jadi, keluarga besar akan membawa surat-surat keterangan itu kepada orang yang mengerti membacanya, supaya mereka tahu dan puas. Nanti beri tahu lah semua berkas itu. Kedua, kenapa dia diauruh bayar? Kalau benar positif Covid-19 kan ada anggarannya dari pemerintah. Saya kalau gratis pun nggak mau mati karena Covid-19,” pungkas anggota dewan dari Fraksi Partai Gerindra.

Karena alasan empati, pihak Rumah Sakit Swasta Elisabeth mengembalikan uang yang telah dibayarkan oleh istri pasien D Sihotang yang dibayar pada 15 Juli 2020 lalu. (MR/SN-Red)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.