Ekonomi Sumut Tumbuh di Atas Nasional

Ekonomi Sumut Tumbuh di Atas Nasional
SHARE

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Resiko pertumbuhan ekonomi global memasuki tahun 2020 penuh tantangan. Hal ini akibat timbulnya wabah penyakit korona dari negara Tiongkok. Tentu ini sangat berpengaruh terhadap perekonomian Sumatera Utara (Sumut), jelas Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sumut Wiwiek Sisto Widayat di damping Direktur BI Andi Wiyana dan Kepala Group Advisory dan Pengembangan Ekonomi BI, Ibrahim pada acara temu pers di Cafe Jus’ticion Jln Uskup Agung Medan, Senin (10/2/20).

Katanya, perekonomian Sumut tahun 2019 tumbuh 5,22 persen, lebih tinggi dari nasional sebesar 4,97 persen.

Secara historis, pertumbuhan mayoritas di atas nasional. Secara spasial, Sumut yang merupakan tertinggi ke 3 di antara 10 provinsi di Sumatera. “Pertumbuhan ekonomi Sumut yang mencapai 5,22 persen tertinggi ke 3 di pulau Sumatera setelah Sumatera Selatan (Sumsel) yang mencapai 5,69 persen, Bangka Belitung (Babel) dengan 3,99 persen dan Provinsi Jambi 3,59 persen”, paparnya.

Menurut Wiwiek, ekonomian Sumut di triwulan IV ditopang adanya perbaikan investasi seiring dengan penyelesaian proyek-proyek infrastruktur multiyears di daerah. Sementara dari sisi eksternalnya, kinerja ekspor sedikit membaik sejalan dengan mulai membaiknya harga CPO global yang juga ditopang oleh peningkatan produktifitas tanaman kelapa sawit sejalan dengan peningkatan Lapangan Usaha (LU) Pertanian.

“Yang menjadi pendorong ekonomi Sumut tahun 2019 dikarenakan faktor investasi seiring dengan berlanjutnya proyek strategis infrastruktur dan pariwisata pemerintah, yang tercermin juga pada peningkatan LU Konstruksi. Di sisi lain, kontraksi impor yang lebih dalam dibandingkan ekspor, turut mendorong perbaikan ekonomi”, kata dia.

Wiwiek menambahkan, untuk konsumsi rumahtangga tumbuh melambat seiring dengan stagnasi harga CPO hingga triwulan III.

Di sisi penawaran, LU pertanian tumbuh meningkat didorong oleh peningkatan produksi padi dan kelapa sawit. Sedangkan LU industri pengolahan tumbuh melambat, dipengaruhi oleh penurunan permintaan global akan CPO serta masih tertahannya daya beli masyarakat.

Mengenai stagnasi permintaan Tiongkok serta penurunan permintaan global, Wiwiek menjelaskan ekspor Sumut ke Tiongkok cenderung mengalami stagnasi (menurun) sebagai dampak dari perang dagang, di sisi lain ekspor Sumut cenderung menurun ke AS, Jepang, serta India.

“Impor Sumut juga mengalami penurunan khususnya dari Singapura, Tiongkok dan Malaysia”, ungkapnya.

Untuk inflasi ujar Wiwiek lagi, merupakan capaian propek ekonomi domestik tahun 2020. Dimana perkiraan ekonomi dengan capaian PDB 5.1-5.5 persen, inflasi 3.0+1 persen, deflasi berjalan 2.5,3 persen, sementara kredit tumbuh 10-12 persen dan untuk Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 8-10 persen, ujarnya menutup. (MR/ JB Rumapea).

Metro Rakyat News