Danlanud Soewondo, Hadiri Rakorda Karhutla di Kantor Gubernur Sumut

Danlanud Soewondo, Hadiri Rakorda Karhutla di Kantor Gubernur Sumut
Bagikan

METRORAKYAT.COM,SUMUT– Danlanud Soewondo, Kolonel Pnb. Meka Yudanto S.SOS, M A.P. hadiri rapat koordinasi penanggulangan kebakaran hutan ( karhutla ) bersama unsur Forkompinda Sumut. Bertempat di ruang rapat kantor Gubernur Sumut. Rabu (12/2/2020). Tampak hadir dalam kegiatan diantaranya Kapolda Sumatera Utara, Pangdam I /BB, Kepala Kejaksaan Tinggi Sumut, dan unsur Forkompinda Sumut.

Gubernur Sumut, Letnan Jenderal (purn ) Edy Rahmayadi mengingatkan perusahaan dan termasuk pemerintah kabupaten dan kota untuk mengantisipasi dan mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan dengan menjaga lingkungan sekaligus mewujudkan Sumut bebas kebakaran hutan dan lahan pada tahun 2020.

“Antisipasi dan pencegahan dilakukan dengan membangun kesadaran masyarakat dan dunia usaha, memberikan sanksi pada pelaku pembakaran dan termasuk memberikan reward pada masyarakat dan perusahaan. Yang turut menjaga dan melestarikan hutan,”kata Gubsu.

Lanjut mantan Pangkostrad ini lagi, dalam Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) Kebakaran Hutan dan Lahan Tingkat Provinsi Sumut yang digelar Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut turut dihadiri semua pemangku kepentingan termasuk eksekutif perusahaan.

Edy juga menegaskan, aparat penegak hukum harus memberi sanksi tegas kepada siapapun yang sengaja membakar hutan dan lahan.

“Untuk mengantisipasi dan mencegah kebakaran hutan dan lahan di Sumut perlu diperkuat tim terpadu kebakaran hutan dan lahan yang telah ditetapkan melalui keputusan Gubernur Sumut No 188.44/138/KPTS/2017. Presiden Joko Widodo sendiri sangat konsen terhadap kasus kebakaran hutan dan lahan karena dampaknya bisa ke tingkat internasional,”ucap Gubernur.

Lebih jauh kata Edy, semua harus berkonsentrasi menangani kasus kebakaran hutan dan lahan, apalagi Presiden Jokowi menegaskan apabila terjadi kebakaran hutan dan lahan, maka pejabat terkait baik di Polri dan TNI bisa di nonaktifkan. Memang diakui kebakaran hutan dan lahan di Sumut sudah menurun. Pada tahun 2019, kebakaran hutan dan.lahan di Sumut seluas 843,75 hektare dari 2018 yang masih seluas 3.138, 88 hektare.

“Tahun 2020 hingga Februari jumlah.kebakaran hutan dan lahan seluas 30 hektare,”jelas Edy.

Menurut Gubernur, karhutla telah menimbulkan dampak yang luar biasa baik materi maupun moril. Masyarakat adalah yang paling merasakan dampak buruk karhutla. Untuk itu, Edy Rahmayadi meminta setiap instansi mendukung penegakan hukum terhadap pelaku karhutla. Penegakan hukum terhadap pelaku, agar karhutla ini tidak terulang kembali. Kasihan masyarakat menderita menghirup asap,”kata Edy.

Gubernur juga mengimbau agar setiap pihak hingga masyarakat dapat mencegah terjadinya karhutla, yakni dengan cara tidak membiarkan kebakaran meluas.

“Yang terpenting itu adalah pencegahan. Jika ada api kecil langsung dipadamkan. Kalau api masih kecil masih bisa dipadamkan. Kalau terlambat padam, bisa meluas dan itulah karhutla,”tegas Gubernur.

Sebelumnya, Presiden Jokowi dalam arahannya, kata Edy, ketika membuka Rakornas Karhutla kembali menegaskan tidak akan memberikan toleransi bagi aparat TNI dan Polri yang di wilayah kerjanya tidak mampu mengatasi kebakaran hutan dan lahan. Aturan tegas yang berlaku sejak 2016 itu kembali disampaikan Presiden saat memberikan arahan mengenai upaya peningkatan pengendalian karhutla Tahun 2020 di Istana Negara, Jakarta, Kamis (6/2/2020) lalu.

Presiden juga mengingatkan, apabila ditemukan titik api sekecil apapun, maka pihak terkait diminta segera memadamkannya. Sehingga titik api tersebut tidak membesar dan meluas. Menurutnya, pemerintah sebenarnya memiliki infrastruktur dan instrumen hingga ke tingkat bawah untuk menangani hal tersebut.

“Kita punya Babinsa dan Babinkamtibmas. Beri tahu mereka. Demikian juga ada Gubernur, bupati, walikota dan kepala desa. Instrumen dan infrastruktur kita ada. Sehingga sekali lagi kalau ada api sekecil apapun segera padamkan. Jangan sampai meluas dan sulit diselesaikan,” tuturnya.

Presiden juga menyampaikan karhutla menimbulkan kerugian yang amat besar. Oleh sebab itu Presiden tidak ingin hal itu terjadi kembali. “Kebakaran ini sudah puluhan tahun lalu terjadi. Betapa berjuta hektare telah terbakar. Di dalam pengalaman saya, 2015 itu betul-betul sebuah kebakaran besar. Saat itu 2,5 juta hektare lahan kita terbakar baik lahan gambut maupun hutan,” pungkasnya. ( MR/Suriyanto/Red )

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.