Pemkab Asahan Gelar Seminar Nasional Sedimentasi
METRORAKYAT.COM, ASAHAN – Pemkab Asahan bekerjasama dengan Kota Tanjung Balai dan LPPM USU, menggelar seminar nasional sedimentasi guna menormalisasikan sungai Asahan dan sungai Silau yang telah mengalami penumpukan pasir (Sedimentasi) yang mengakibatkan bencana banjir dan meluapnya air sungai serta mengakibatkan kerusakan infrastruktur. Senin (13/1) di hotel Sabty Garden Kisaran.
Tokoh masyarakat Febriandi Saragih dalam sambutannya mengatakan seminar dilatarbelakangi buruknya kondisi eksisting sedimentasi di sungai Asahan.
LPPM USU menyimpulkan bahwa timbulan sedimentasi disepanjang sungai Asahan berkontribusi terhadap perusakan lingkungan, berdampak layunya ekonomi dan problematika sosial. ” Solusi dalam persoalan ini hanya dengan mengeruk sedimentasi.
Akan tetapi, terdapat tantangan dan hambatan jika pengerukan dilakukan. Inilah yang akan kita cari solusinya, ” ujar Febriyandi. Bupati Asahan pada pidatonya menyampaikan bahwa seminar dilaksanakan karena jumlah tumpukan sedimentasi di sungai Asahan sangat besar.
Berdasarkan hasil penelitian balai pengkajian dan penerapan teknologi pada tahun 2013, mengatakan bahwa volume sedimentasi sebesar 10.185.308 meter kubik yang mengakibatkan pendangkalan, sehingga air meluap kepermukiman warga dan terjadilah banjir.
Tahun 2018, banjir terjadi 15 kali pada 6 titik dengan tinggi rata-rata genangan 80 cm, total luas areal pemukiman yang tergenang seluas 173.910 meter kubik persegi, jumlah rumah 2. 541unit, jalan lingkungan yang rusak sepanjang 9.175 meter dan 3 unit jembatan rusak, sekolah rusak sebanyak 8 unit, penduduk yang sakit sebanyak 78 orang dengan 10 kasus penyakit, dan sebanyak 500 nelayan terganggu perekonomiannya.
” Tingginya sedimentasi sungai Asahan ini sangat mengganggu aktivitas pelayaran kapal di pelabuhan Bagan Asahan dan pelabuhan Teluk Nibung sehingga mempengaruhi minat investor untuk meningkatkan nilai investasinya. Oleh karena itu, sedimentasi sungai Asahan sudah sangat penting untuk segera ditangani untuk dinormalisasi, ” pungkas Bupati.
Kapoldasu yang diwakili Ditreskrimsus Kombes Pol. Rony Samtana, SIK, MTCP menyampaikan bahwa seminar nasional ini memiliki nilai yang sangat strategis tentang bagaimana secara bersama-sama mencari solusi atas permasalahan sedimentasi yang telah ada puluhan tahun yang lalu.
“Jika saat ini kita berbicara tentang kondisi sungai Asahan dan sungai Silau, sebetulnya bisa kita pandang bentuk kegagalan dari hadirnya Negara di sungai Asahan maupun sungai Silau. Karena seharusnya Negara dapat memastikan sendi kehidupan perekonomian sosial masyarakat dan juga dapat mensejahterakan rakyatnya dari berbagai literatur yang ada, ” ucapnya.
Sementara Prof.Dr. Tan Kamelo, MH memberikan saran yakni rekomendasi yang diharapkan adalah sedimentasi pasir yang terdapat pada posisi wilayah sungai Silau dan Asahan wajib dilakukan pengerukan sepanjang tidak melanggar peraturan tidak merusak lingkungan dan dapat memberikan kemakmuran bagi masyarakat Provinsi Sumut Kabupaten Asahan serta Kota Tanjung Balai.(MR/Nr)
