Kasat Reskrim Polrestabes Medan Berikan Pemahaman Bahaya Terorisme dan Radikalisme pada Ibu-ibu Pia Ardhya Garini Lanud Soewondo
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Eko Hartanto berikan pemahaman dan ceramah bahaya paham radikalisme dan terorisme dan strategi menghadapinya kepada ibu-ibu pengurus Pia Ardhya Garini Lanud Soewondo, bertempat di aula Silindung Lanud Soewondo. Selasa (12/11/2019) Jam 9:30 WIB.

Sebelum acara dimulai, Ketua Pia Ardhya Garini Lanud Soewondo, Ny. Meka Yudanto dalam kata sambutannya mengatakan bahwa sudah merupakan kegiatan rutin keluarga besar Pia Ardhya Garini di Medan melakukan pertemuan sekaligus juga merupakan momentum untuk menjalin silaturahmi diantara anggota.
“kita ketahui bahwa Pia Ardhya Garini merupakan organisasi yang beranggotakan istri-istri prajurit TNI AU yang sebagian besar tugasnya dicurahkan untuk kepentingan TNI AU, sebagai prajurit dan seorang suami dalam pengabdianya kepada bangsa dan negara melalui TNI AU akan dapat melaksanakan tugas-tugasnya dengan lebih baik dan penuh semangat bila disertai dukungan serta perhatian dari sang istri. Melihat arti pentingnya peran sebagai ku istri yang terwadahi dalam pia Ardhya Garini yang ada di Medan. Maka saya berharap pertemuan ini dapat mempererat tali silaturahmi. Dalam pertemuan kita ini juga akan di isi dengan ceramah tentang banhaya “radikalisme” dan bahaya minuman keras dan bahya narkoba dan bahaya media media sosial yang akan dibawakan oleh Kasat Reskrim Polrestabes Medan, Kompol Eko Hartanto dan Mayor Kes Wiko, untuk itu diharapkan kita semua bisa mendapatkan informasi penting demi terus mendukung tugas-tugas suami dengan baik,” ucap Ny. Meka Yudanto.

Dalam paparannya Kompol Eko Hartanto menjelaskan bahwa terorisme bukan persoalan siapa pelaku, kelompok dan jaringannya, namun lebih dari itu terorisme merupakan tindakan yang memiliki akar keyakinan, doktrin dan idiologi yang dapat menyerang kesadaran masyarakat. Tumbuh suburnya terorisme tergantung dilahan mana ia tumbuh dan berkembang, jika ia hidup di lahan gersang maka terorisme sulit menemukan tempat, sebaliknya jika ia hidup di lahan subur maka ia akan cepat berkembang.
“Radikalisme merupakan embrio lahirnya terorisme dan radikalisme merupakan suatu sikap yang mendambakan perubahan secara total dan bersifat revolusioner dengan menjungkir balikkan nilai-nilai yang ada secara drastis lewat kekerasan ( Violence ) dan aksi-aksi yang ekstrem. Ada beberapa ciri yang bisa dikenali dari sikap dan paham radikal diantaranya adalah :
- Intoleran ( tidak mau menghargai pendapat dan keyakinan orang lain ).
- Fanatik Selalu merasa benar sendiri dan menganggap orang lain salah).
3.Ekslusif ( membedakan diri dari umat Islam umumnya).
4.Revolusioner ( cenderung menggunakan cara-cara kekerasan untuk mencapai tujuan). Memiliki sikap dan pemahaman radikal saja tidak mesti menjadikan seseorang terjerumus dalam paham dan aksi terorisme,” ucap Kompol Eko Hartanto.
Lebih lanjut kata Kasat Reskrim Polrestabes Medan lagi, ada faktor lain yang memotivasi seseorang bergabung dalam jaringan terorisme. Motivasi tersebut disebabkan oleh beberapa faktor.
“Faktor domestik yakni kondisi dalam negeri, misalnya masalah kemiskinan dan ketidak adilan atau merasa kecewa dengan pemerintah. Faktor selanjutnya adalah faktor Internasional, yakni pengaruh lingkungan luar negeri yang memberikan daya dorong tumbuhnya sentiment keagamaan seperti ketidak adilan global, politik luar negeri yang arogan dan imperialisme modern negara adidaya. Dan faktor kultural yang sangat terkait dengan pemahaman keagamaan yang dangkal dan penafsiran kitab suci yang sempit dan leksikal ( Harfiyah ). Sikap dan pemahaman yang radikal dan motivasi oleh berbagai faktor di atas seringkali menjadikan seseorang memilih untuk bergabung dalam aksi dan jaringan terorisme,” jelas Eko Hartanto.

Di akhir pemaparanya Kasat Reskrim Polrestabes Medan juga menjelaskan bahwa untuk menangkal paham radikal dan terorisme ada beberapa cara.
Ada tiga institusi sosial yang sangat penting untuk memerankan diri dalam melindungi generasi muda. Pertama Pendidikan, melalui peran lembaga pendidikan, guru dan kurikulum dalam memperkuat wawasan kebangsaan, sikap moderat dan toleran pada generasi muda.
Kedua, Keluarga, melalui peran orang tua dalam menanamkan cinta dan kasih sayang kepada generasi muda dan menjadikan keluarga sebagai
unit konsultasi dan diskusi. Ketiga, komunitas melalui peran tokoh masyarakat di lingkungan masyarakat dalam menciptakan ruang kondusif bagi terciptanya budaya perdamaian dikalangan generasi muda. Selain peran yang dilakukan secara institusional melalui kelembagaan pendidikan, keluarga dan lingkungan masyarakat, generasi muda juga dituntut mempunyai imuntas dan daya tangkal yang kuat dalam menghadapi pengaruh dan
ajakan radikal terorisme.
Ada beberapa hal yang bisa dilakukan oleh kalangan generasi muda, dalam rangka menangkal pengaruh paham dan ajaran radikal yakni tanamkan jiwa nasionalisme dan kecintaan terhadap NKRI, perkaya wawasan keagamaan yang moderat, terbuka dan toleran, bentengi keyakinan diri dengan selalu waspada terhadap provokasi, hasutan. Terorisme merupakan tindakan kejahatan yang mempunyai akar dan jaringan kompleks yang tidak hanya bisa didekati dengan pendekatan kelembagaan melalui penegakan hukum semata. Keterlibatan komunitas masyarakat terutama lingkungan
lembaga pendidikan, keluarga dan lingkungan masyarakat serta generasi muda itu sendiri dalam mencegah terorisme menjadi sangat penting. Karena itulah dibutuhkan keterlibatan seluruh komponen masyarakat dalam memerangi terorisme demi keberlangsungan kehidupan bangsa dan negara tercinta yang damai, adil dan sejahtera,” pungkas Kompol Eko Hartanto.
Selanjutnya ceramah dilanjutkan dengan ceramah oleh kepala rumah sakit Abdul Malik Lanud Soewondo, Mayor Kes Wiko tentang bahaya minuman keras dan penyalah gunaan narkotika, HIV dan AIDS. ( MR/Suriyanto/Red )

