BI Konsen Pengembangan UMKM di Sumut
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Sumatera Utara (Sumut) akan konsen mendorong pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) di Sumut serta meminta perbankan untuk merealisasikan kredit usaha terhadap pelaku ekonomi rakyat kecil. Demikian di tegaskan ditegaskan KPwBI Sumut, Wiwiek Sistro Widayat usai membuka “Diseminasi hasil penelitian komoditas/produk/jenis usaha (kPJU) unggulan UMKM Provinsi Sumatera Utara (Provsu) Tahun 2018, di Ruang Kuala Deli Lantai 9 KPwBI Jalan Balaikota Medan, Selasa (26/3/2019).
Acara turut di hadiri Walikota Tebing Tinggi Umar Zunaidi Hasibuan, Kepala Divisi Pengembangan Ekonomi dan UMKM BI Sumut Demina Sitepu, para peneliti dari USU antara lain Paidi Hidayat, Wahyu dan Nazaruddin dengan moderator Bakhtiar dari BI.
“BI akan konsen kepada UMKM bagaimana mengembangkan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi ” kata Wiwiek.
Menurutnya UMKM salah merupakan ujung tombak pertumbuhan ekonomi yang sudah diakui keberadaannya. Dilihat dari jumlah, secara nasional ada 97 juta UMKM berdasarkan Survei Ekonomi Nasional (SEN). Pangsanya hampir 99 persen dari total koperasi di Indonesia. Bahkan ketahanan UMKM sudah dibuktikan saat krisis tahun 1998 dan 2008.
Sedangkan di Sumut ada sekira 2,8 juta UMKM, namun yang teregisterasi atau terdaftar di Dinas Koperasi tak lebih dari 20 persen atau sekira 380.000. “Jadi banyak UMKM yang belum teregisterasi dengan baik,” ungkap dia.
Wiwiek menegaskan pihaknya mensuport UMKM cukup tinggi. Pertumbuhan kredit perbankan secara nasional pada triwulan IV 8-9 persen dan alokasi ke UMKM cukup signifikan yang diutamakan ke kredit modal kerja, investasi dan sedikit untuk konsumsi.
Kredit yang diberikan ke UMKM terus mengalami peningkatan dari tahun 2015 sebesar 5 persen, tahun 2016 naik jadi 10 persen, tahun 2017 ke 15 persen dan tahun 2018 naik lagi jadi 20 persen.
BI fokus pengembangan ke UMKM karena terkait untuk menjaga inflasi lebih baik. Tahun 2018, inflasi sebesar 1,23 persen dan pertumbuhan ekonomi mencapai 5,18 persen.
Penelitian KPJU, katanya, salah satu upaya yang dilakukan BI untuk mengetahui komoditi-komoditi serta produksi apa yang sekarang tumbuh di ekonomi daerah ke depan.
Nanti produk unggulan yang diperoleh itu akan dipilah lagi per sektor untuk mempermudah penanganannya. “Inilah kegiatan-kegiatan usaha yang memiliki keunggulan dan pertumbuhan besar di daerah,” ungkapnya.
BI kerjasama dengan Lembaga Penelitian USU Tahun 2018. Penelitian ini cukup intensif selama 2018 yang hasilnya akan diseminasikan atau disampaikan kepada para kepala SKPD baik di kabupaten atau yang mewakili provinsi maupun kecamatan. Hasil penelitian itu akan sama-sama digunakan untuk meningkatkan ekonomi di daerah ini terutama di Sumut.
“BI pada saat ini akan lebih terfokus pada mengembangan salah satu sumber pertumbuhan ekonomi yang berasal dari UMKM,” katanya lagi.
BI menyadari bahwa UMKM salahsatu infrastruktur atau sumber pertumbuhan ekonomi yang sudah diakui. DIlihat dari jumlahnya baik itu terkait jumlahnya 97 juta an.
Survei analisa dari bos, umkm …hampir… persen dari total korporasi di Indonesia.
Ini sangat besar ketahanannya bagi Indonesia. Buktikan dari krisis ekonomi, UMKM dukung perekonomian dari sisi nasional maupun provinsi.
Di Sumut ada sekira 2,8 juta UMKM. Tapi, berdasarkan data dari Dinas Koperasi, tak lebih dari 20 persen yang teregistrasi atau sekira 380. Ini menunjukkan masih banyak UMKM yang belum terigistrasi dengan baik.
“Ini tantangan bagi kita untuk dapatkan database dengan akurat. Sebab, tanpa data yang akurat tidak bisa ambil kebijakan yang akan dikeluarkan,” ujarnya.
Diakuinya, memang susah mendapatkan data-data UMKM di kabupaten/kota, lantaran sangat jarang berupaya untuk terjun langsung dan hanya berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Nasional (BPS)
“Sampai saat ini BI sudah mengembangkan beberapa komoditi. Hal ini dilakukan untuk mencapai stabilitas nilai rupiah secara nasional. (JB/Rumapea)
