Pedagang Kaki Lima Merupakan Penyangga Perekonomian Bangsa
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Pedagang Kaki Lima salama ini telah menunjukkan kiprahnya di dunia perekonomian bangsa. Sejak terjadinya krisis ekonomi yang berkepanjangan tahun 1997/1998, para pedagang kaki lima tetap bertahan dan memberi kontribusi kepada pemerintah melalui Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Hinga saat ini, pedagang kaki lima tetap aktif berjualan walaupun dilanda dengan naiknya dollar pada tahun 2018 yang mencapai Rp.14.900 per dollar. Namun pedagang tetap eksis bertahan terhadap segala terpaan dampak dari krisis tersebut. Demikian dikatakan oleh Sekretaris Forum Pedagang Pasar dan Pedagang Kaki Lima Kota Medan, Erwin Siahaan kepada wartawan, Jumat (24/1/19).
Ditambah Erwin lagi, bahwa para pedagang kaki lima perlu di bina dan diarahkan agar dapat terus berkiprah untuk mengatasi segala krisis yang ada. Pedagang kaki lima, salah satu pahlawan perekonomian bangsa yang membawa motto ‘ Anak hon hi do hamoraon di au’ yang artinya, anak ku kekayaan bagi ku. Selama hayat dikandung badan, anak ku harus sekolah setinggi-tingginya, agar kelak generasi bangsa ini dapat melanjutkan cita-cita para pendahulu kita.
“ Dihimbau kepada seluruh PK5, untuk tetap eksis, tidak perlu bimbang dan ragu, tunjukkan sikapmu selaku putra-putri bangsa Indonesia yang siap menghadapi segala tantangan ekonomi, seperti naiknya dollar, kita harus dapat menghadapi dengan cara berbelanjalah produk-produk dalam negeri seperti sandang, pangan, sayur mayor hasil pertanian dalam negeri yang tidak kalah dengan produk pertanian luar negeri,” ujar Erwin.
Tambahnya lagi, adapun jenis-jenis kebutuhan sehari-hari dengan menggunakan rupiah antara lain: sayur bayam, terong, buncis, kangkung, tomat, wortel, kentang, jagung, cabai, dan buah-buahan seperti apel malang, pisang, rambutan, nenas, papaya, pokat, terong belanda dan lainnya semua lengkap di Negara ini dapat dapat dibeli dengan mempergunakan rupiah.
“ Jadi Rupiah merupakan primadona di negeri sendiri, dapat berbelanja, dengan menggunakan rupiah harus menjadi kebanggaan bagi kita semua,” tambahnya.
Untuk itu, lanjut Erwin, Pemko Medan segera membangun pasar di pinggiran kota Medan untuk mengatasi kemacetan yang terjadi terutama di inti kota Medan. Salah satu contoh pasar yang dibangun di Martubung, Tembung, Amplas, Pasar Menteng, Pasar Kampung Lalang, Pasar Melati dan Pasar Deli Tua. Dan pasar-pasar ini, diatur jadwalnya sesuai kebutuhan masing-masing. Contoh, Senin di Martubung, Selasa di Tembung, Rabu di Amplas, Kamis di Menteng, Jumat di Kampung lalang, Sabtu pasar Melati dan Minggu di Pasar Deli Tua.
Pembangunan loss berbentuk balerong itu tidak pelu bertingkat sehingga tidak memakan biaya yang cukup besar, berdaya guna, berhasil guna, dan mendapat PAD dari pedagang dan pemerataan pasar di Kota Medan.
Erwin menyangkal terjadinya kemacetan di kota Medan disebabkan oleh pedagang, namun karena pertambahan kenderaan yang tidak ada aturan sementara ruas jalan tetap. “ kita melihat contoh di Singapura, mobil tidak diizinkan bertambah sebelum ada plat kenderaan, aneh di Indonesia, kenderaan masuk tanpa ada kuota yang mengatur jelas jumlah kenderaan, sehingga wajar jika terjadi kemacetan dimana-mana, inilah yang harus di perhatikan oleh Pemko Medan,” ujar Erwin Siahaam yang juga maju menjadi calon legislatif dari Dapil 5 dengan nomor urut 1 Kota Medan.
Erwin menghimbau, kepada para PK5 Kota Medan agar tetap mematuhi peraturan lalulintas, karena Medan Rumah Kita, dan sekaligus tetap menjaga kebersihan sekitar agar kota Medan terbebas dari sampah. Kepada para pedagang wanita, TETAP SEMANGAT WALAU TANTANGAN ITU DATANG SILIH BERGANTI, ITU WAJIB DIHADAPI UNTUK MENDEWASAKAN DIRI PK5 BAGI SETIAP TANTANGAN YANG MUNCUL.
“Para Pedagang kaki lima, amal baktimu adalah surgamu,” pungkas Erwin yang merupakan putra dari pembela pedagang kaki lima, yaitu AP.Luat Siahaan. (MR/red)
