Gagal Tanam Mengancam, Peningkatan Ekonomi Petani Terpuruk 

Gagal Tanam Mengancam, Peningkatan Ekonomi Petani Terpuruk 
Bagikan

METRORAKYAT.COM, LANGSA – Kondisi persawahan seluas kurang lebih 800 hektar di kecamatan Langsa Timur sebagian besar akan terancam gagal tanam. Dari hasil pantauan media ini di lapangan banyak areal persawahan kering dan retak, Minggu (29/07/ 18).

Keringnya areal persawahan ini pada saat musim tanam disebabkan kurangnya curah hujan yang sebelumnya di perkirakan pada bulan Agustus curah hujan akan mencukupi untuk cocok tanam,” ungkap Pak Din  warga Gp.Buket Meutuah saat berada di lokasi persawahan.

Menurutnya, di dusun Panton Gampong Buket Meutuah selama ini selalu turun ke sawah atau bercocok tanam padi pada musim penghujan. “Walau sebenarnya di daerah kami ini ada irigasi sumber air dari sungai buket meutuah,”jelasnya.

Namun sudah beberapa tahun irigasi di sini tidak dapat mengaliri air sampai ke persawahan karena debit air yang tersedia di sungai Buket Meutuah sangat minim. “Sungainya saja hampir kehabisan air mengalir mustahil bisa menuju ke irigasi yang letaknya lebih tinggi itu,”terangnya.

Sementara itu menurut Geucik Gampong Buket Meutuah Yaser terkait kurangnya debit air untuk area persawahan ini juga sangat di tentukan oleh aliran air yang ada di irigasi yang notabenenya fungsi irigasi itu untuk tujuh gampong sekitar.

Sambungnya lagi, untuk kecamatan Langsa Timur ini memang sudah di sediakan oleh pemerintah, sarana penunjang atau pusat sumber air yang di rancang mampu mengaliri air melalui irigasi yang tersedia di beberapa Gampong, namun waduk tersebut juga tidak memiliki sumber air yang cukup, sehingga di seputaran Gampong Matang Setui (letak waduk) saja masih tidak menyeluruh aliran air ke sawah.

“Seperti percuma saja pemerintah membangun waduk yang merogoh uang negara senilai kisaran 4 miliar itu bila kondisi persawahan malah tidak mampu bercocok tanam dengan baik artinya bisa saja para petani terancam gagal tanam,”kesalnya.

Geucik Gampong Buket Meutuah ketika di tanya terkait banyak areal persawahan yang kering mengungkapkan, dari tujuh Gampong fungsi irigasi mampu mengatasi air di persawahan, untuk di gampong kami aja yang areal persawahan seluas 160 hektar masih kewalah, beginilah jadinya. Persoalan ini memang sangat rumit karena sungai Buket Meutuah ini sangat sedikit debit air yang mengalir, hulu sungai ini belum menyatu (red-tembus) dengan aliran sungai kuala simpang (sungai tamiang),” jelas Geucik.

Ada sekitar 6 kilo meter sungai Buket Meutuah di hulu tidak bersambung dengan sungai Tamiang. “Kami sangat mengharapkan ada tindakan super cepat dari pemerintah yaitu dinas terkait untuk merespon mengadakan proyek penembusan kedua sungai,” serunya.

Demikian harapan Pak Geucik, agar kelanjutan kejadian ini jangan berlanjut dan akan sangat tidak layak di saat pemerintah menggalakan swasembada pangan malah ada kondisi persawahan seperti ini.

“Harapan ini menjadi harapan besar kami di Gampong Buket Meutuah, khususnya dan kecamatan Langsa Timur pada umumnya.(MR/TAM/Dan).

Tonton Video Arung Jeram di bawah ini:

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.