Ini cuitan Ratna Sitepu kehilangan sosok Alm. Waginto Sang Masterpiece …

Ini cuitan Ratna Sitepu kehilangan sosok Alm. Waginto Sang Masterpiece …
Bagikan

METRORAKYAT.COM  |  MEDAN —- Almarhum Haji Waginto, ST,MT masih dikenang beberapa pihak di kalangan DPRD Medan. Salah satunya H. Ihwan Ritonga, SE. Ihwan beberapa waktu lalu kepada www.metrorakyat.com mengatakan bahwa sosok almarhum Waginto adalah sosok humoris dan kebapakan. Sosok Waginto dikenang Ihwan adalah sosok manusia yang pantang menyerah dan selalu menjalin komunikasi yang baik diantara sesama anggota DPRD Medan.

” Sampai saat ini kita tidak pernah melupakan yang namanya bapak Waginto. Haji Waginto adalah sosok yang pantas menjadi panutan bagi kami kaum muda yang duduk di legislatif ini. Pada tugas sebagai penyambung lidah rakyat ini, kami juga turut mendoakan semoga almarhum diterima di sisi Allah SWT, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan serta kesabaran”, ucap politisi Partai Gerakan Indonesia Raya ini, Senin (10/7/2017) di Medan.

Tidak berbeda dengan salah seorang anggota DPRD Medan, Ratna Sitepu. Politisi perempuan dari partai Hati Nurani Rakyat ini di akun media sosial facebooknya tertera cuitan menggambarkan bagaimana sosok almarhum Waginto semasa hidup dalam berkarya menjadi anggota DPRD Medan. Berikut ini isi cuitan Ratna Sitepu yang dikutip dari akun media sosial bernama Ratna Sitepu.

Semoga tidak terlambat menurunkan tulisan ini.

Seminggu yl Kota Medan kehilangan seorang tokoh masyarakat, dan kami kehilangan seorang teman, sahabat, saudara, bahkan bagi saya Almarhum sudah seperti Bapak sendiri. Saya mengenalnya sebelum menjadi Anggota DPRD Kota Medan. Bertemu saat peresmian jembatan Pajak sore padang Bulan, saya tergelak ketika beliau berbicara. Logat Jawa nya medok betul, sesuai dengan namanya, Waginto.
Saya ingat kata2nya waktu itu,
“Saya kenal dekat dengan Pak Bangkit Ayahanda Mbak Ratna, saya panggil Mbak atau Ibu nih..?”
” Aahh.. panggil Ratna saja Pak, saya masih cencen” jawab saya waktu itu yang di sambut dengan tawa berderai.

Tak dinyana, kami bertemu kembali di Gedung Dewan bahkan berada di satu Komisi dan bergabung di beberapa Alat kelengkapan Dewan.
Saya yang masih baru di dunia perpolitikan kadang sering grogi dan tidak percaya diri berada diantara para senior. Apalagi ketika diberi amanah menjadi Ketua Komisi A, dimana hampir setiap hari harus rapat bersama stakeholder atau menerima keluhan/pengaduan masyarakat. Beliau sering menyemangati saya. Katanya usia masih muda harus diisi dengan bekerja dan berkarya. 
Jangan merasa hebat dan jangan juga kehilangan semangat karena kita 50 orang disini punya hak yang sama karena sama-sama dipilih rakyat, begitu kata beliau.

Juga ketika kami melakukan kunjungan kerja ke luar daerah, kami anggota Komisi A selalu berada di satu hotel. Kami tidak pernah berpencar karena Biasanya kak Juli Triple Dstaf komisi sudah meng-arrange dengan baik. Pergi sepuluh orang, pulang sepuluh orang selalu kami terapkan hingga saya berpikir bahwa Politik tidak harus soal kepentingan, ada persaudaraan dan persahabatan disitu. Tidak semua akan menjadi lawan politik, ada kawan dan orang-orang yang dermawan diselipkan Tuhan di situ.

Saya tahu bahwa beliau aktif di banyak kegiatan sosial dan dekat dengan masyarakat, terutama masyarakat di Sari rejo Polonia Medan. Sering masyarakat berbondong bondong (demo) datang dengan penuh amarah ke gedung dewan dan beliau yang menenangkan. 
Saya suka cara beliau berkomunikasi. Saya suka beliau bicara ” sudah… sudah… ojo nesu, semua bisa di selesaikan toh? ” Dengan logat jawanya yang kental. 
Pak Ginto juga dikenal sangat aktif, salah satu ‘masterpiece’ beliau adalah Ranperda Kepala Lingkungan yang Alhamdulillah sudah di sah-kan menjadi sebuah Peraturan Daerah (Perda).

Aahh, masih terlalu singkat. Masih banyak yang bisa dilakukan, namun Pak Waginto yang baik sudah berpulang.
Ketika mengantar beliau ke tempat peristirahatan terakhir, seorang teman berkata.
“Oalaah dek, kenapalah cepat x Pak Ginto yaa? baru Jumat kemarin kami ketemu Halal bihalal. Dia orang baik loh dek..”
Saya jawab,
” Kalau kita bermain di sebuah taman yang penuh dengan bunga, bunga mana yang duluan kita petik? “
” Yang paling cantik lah,Dek..”
” Iya..Begitu juga Tuhan… “

Selamat Jalan Pak Waginto, semoga seluruh pengabdian menjadi amal ibadah dan penerang di keabadian.
(innaka mayyitun wa-innahum mayyituun. Az-zumar 30)

(MR/RED).

Tonton Video Arung Jeram di bawah ini:

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.