Banyak Pembangunan Halte Mubajir dan Rusak Sebelum Dipakai, ini Ucapan Ketua DPRD Medan
MetroRakyat.com | MEDAN – Ketua DPRD Medan Henry Jhon Hutagalung meminta Kadishub Medan Rendwart Parapat jangan mengelak soal pembangunan halte yang mubazir karena sudah rusak sebelum dipakai. Karena Kadishub sendiri sudah mengetahui secara pasti bagaimana kondisi halte-halte yang sudah dibangun dan akhirnya rusak sebelum dipergunakan. DPRD Medan melakukan kritisi yang sehat supaya kedepan jangan terulang kembali pembangunan yang sia-sia disebabkan kurang matangnya perencanaan.

Menurut dia, para pejabat di Pemko Medan adalah orang-orang yang memiliki banyak pengalaman soal membuat anggaran. Namun kenyataannya banyak pembangunan mubazir, ada yang tidak digunakan, ada yang pembangunannya gantung dan ada dibangun dan rusak sebelum dipakai seperti halte. Padahal ketika membahas anggaran itu TAPD dan Badan Anggaran sampai tengah malam melakukan pembahasan tapi akhirnya ketika anggaran digunakan seperti tidak bermafaat apa yang sudah dikerjakan.
Politisi PDI Perjuangan ini ingin mengingatkan kepada Renward Parapat jangan mengkait-kaitkan kalau anggaran sudah disetujui oleh DPRD Medan. Diakuinya memang anggaran disetujui Dewan, tapi para Wakil rakyat berharap para pengguna anggaran menggunakan uang rakyat itu sebaik mungkin, jangan ada yang tercecer apalagi menjadi proyek yang sia-sia.
“Kami setujui anggaran itu karena pembangunan tersebut berguna bagi masyarakat banyak. Seperti halte, kalau armada Trans Mebidang belum jelas kenapa langsung membangun halte, biarkan saja dulu anggarannya Silpa (Sisa Lebih Penggunaan Anggaran) dan dianggarkan lagi tahun berikutnya. Atau sebelum bus angkutan massal datang dipergunakan dulu oleh angkutan kota untuk menaik tururunkan penumpang. Untuk apa terburu-buru, kan jadi hancur lebur halte yang sudah dibangun,” ucapnya kepada, kepada wartawan Jumat lalu.
Ditegaskan Henry Jhon lagi, yang dikritisi itu bukan pembangunan halte yang terhenti karena adanya program pemerintah Pusat untuk penghematan anggaran. Tapi pembangunan halte, sampai selesai dibangun busnya belum hadir sehingga halte rusak. Seperti di Jalan Putri Hijau dan dekat terminal Amplas sudah tinggal rangka, bahkan di Pusat Pasar sudah dipakai pedagang menyimpan dagangan seperti sayur dan buah-buahan.
Jadi kata Henry Jhon, tidak ada halte yang dimodifikasi atau renovasi, tapi setelah dibangun dibiarkan terbengkalai. Seharusnya setelah dibangun, Dishub bertanggung jawab terhadap perawatannya. Dishub harus memonitoring angkot atau bus yang tidak menaikkan dan menurunkan penumpang di halte. Karena halte dibangun agar penumpang dan pemilik angkutan tertib, tidak naik dan turun angkutan di sembarangan tempat sehingga lalulintas jadi tertib bukan jadi tempat berjualan apalagi terlantar.
“Selama ini setelah dibangun dibiarkan terlantar, kok tega membiarkan halte-halte itu terlantar dan rusak. Apakah tidak ada biaya perawatannya? kalau tidak ada tidak salah untuk dianggarkan. Apakah kita tidak miris melihat bangunan yang dibangun dengan uang negara tidak berfungsi dan hancur lebur, sedih kita melihatnya,” tegas Henry Jhon.(MR-02/red)


