Penjahat Kelamin Di Siantar Bikin Heboh, Ini Ceritanya…
MetroRakyat.com | PEMATANG SIANTAR — Edan… Selama 7 tahun hidup bersama tanpa pernikahan resmi (kumpul kebo), JI (29) tak hanya ‘menggarap’ TY (36), teman kumpul kebo-nya itu. dia juga menggarap dua anak tirinya. Bahkan, yang anak sulung dinikahinya secara resmi karena sudah berbadan dua yang merupakan hasil perbuatannya. Setelah semua ini terbongkar, akhirnya TY melaporkan hal ini ke Polres Siantar, Kamis (17/11). Kepada wartawan, TY menceritakan bahwa hubungan yang dijalinnya dengan pria lajang itu sudah berlangsung sekitar tahunn 2009 lalu, setelah ia pisah ranjang dengan suaminya.
TY mengisahkan, awalnya ia menikah dengan suami pertamanya berinisial SN (37) dan dikaruniai dua anak perempuan berinisial JA (kini 199 tahun) dan IM (kini 13 tahun). “Kami pisah karena bertengkar. Awal pertengkaran kami karena masalah sepele karena dia nggak mau saya suruh membetuli cangkul,” ujar TY memulai wawancara.
Saat itu, dia meminta suaminya memperbaiki cangkul. Namun, mereka tidak memiliki martil, alat yang digunakan untuk memperbaiki cangkul itu. lali TY menyarankan agar suaminya meminjam martil tetangga. Namun saat itu suaminya tak mamu meminjam karena dia tahu bahwa tetangganya tidak punya martil. “Lalu kubilang, ‘Sudahlah, pinjam martil bapakmu aja’. Padahal bapaknya sudah nggak ada. Itulah memang salahku. Terus aku dicekiknya. Begitu dicekiknya, kedua anakku menjerit minta tolong sama tetangga,” ujarnya menceritakan kisah pahit itu.
Setelah itu, suaminya tak mau lagi bekerja dan TY lah yang bekerja untuk menghidup keluarga. Bahkan, suaminya pergi dari rumah dan kembali ke rumah orangtuanya di Pasar Baru, Sigagak,” jelasnya. Lanjutnya, setelah ditinggal suami, dia tinggal bersama kedua anaknya.dan mengontrak rumah di Tanjung Pinggir, Kecamatan Siantar Martoba, di sebuah kamar SDN di lokasi itu. dan, sekitar tiga tahun pisah dengan suami pertamanya, dia berkenalan dengan JI. “Kami kenalan, lalu jadian. Kami hidup tanpa pernikahan resmi. Setelah sama dengan suami kedua, kami hidup di jalanan, di atas sepedamotor. Anak saya ikut neneknya (ibu korban) di Tanjung Pinggir,” jelasnya.
Dikisahkan, perkenalannya dengan JI karena mereka masih satu kampung, di Kecamatan Siantar Martoba. “Jadi dia main-main, kenalanlah kami. Abangku yang pertama kenal. Terus kami jadian. Itulah, kami jadian, terus lari. Kami sudah hidup bersama kurang lebih tujuh tahun,” terangnya. Kemudian mereka pergi ke Sinasih, Kecamatan Silau Kahean, Kabupaten Simalungun, bekerja sebagai pemukul batu. Sementara kedua anak TY terlantar entah kemana. Dan, seiring waktu berjalan, kedua anaknya dijemput suami pertamanya dan tinggal di Nagahuta. Di sana, anak bungsunya sekolah dan si anak pertama bekerja. “Saat kami di Sinasih, aku nggak dikasi pulang. Di sana kami kerja pukul batu. Setelah saya hamil, nggak bisa nyari biaya, akhirnya bayi laki-laki yang saya lahirkan kami berikan kepada orang lain. Kemudian, saya hamil anak kedua dan saya keguguran. Lagi-lagi saya hamil anak yang ketiga, yang saat ini sudah berumus 1,5 tahun dan dirawat sama adekku. Dari hubungan saya dengan suami kedua, kami dikaruniai dua anak,” ungkapnya dengan nada kelelahan.
Selanjutnya, mereka meninggalkan Sinasih dan membangun rumah tepas di Tanjung Pinggir dan di situlah mereka tinggal. Dan, di situlah petaka itu terjadi. Tanpa sepengetahuan TY, suami keduanya itu menghubungi anak sulungnya. “Entah gimana anakku ini. Dihubungi lakiku yang kedua, mereka mau aja. Aku pun tak tahu suami keduaku ini dan anakku yang pertama dimana mereka melakukannya. Saya juga tahu dia hamil karena diberitahu pacar anak saya, orang Perdagangan,” jelasnya. “Dia terus-terusan pergi. Hp nya terus bunyi. Kubilanglah sama anakku, ‘Siapa itu, Kak (sebutannya untuk anak sulungnya)?’ ‘Cowokku, dari Lampung’, katanya. ‘Nggak mungkin cowokmu dari Lampung’, kubilang. ‘Jujurlah kau, Kak’. Nggak dikasihtau juga,” jelas TY mengulangi pembicaraan mereka saat itu.
Dan, kecurigannya memuncak ketika malam Jumat, dimana saat itu anak sulungnya permisi dan mengaku mau menghadiri pesta di Tebing Tinggi. ”Ini sudah malam. Bulan suro ini nggak ada orang pesta. Ngga usah kau pesta,” kata TY mengulangi perkataannya saat itu. Tapi anaknya itu tetap pergi. Sampai sore keesokan harinya, dia tak pulang juga. Dan, sekira pukul 16.00 WIB, TY menjemput anaknya. TY pergi bersama kakaknya dan anak kakaknya ke sebuah tempat, yang diberitahukan oleh anak kakaknya itu. “Ayolah, Bi. Kita jemput ke sana. Dia (JI) yang bawa,” ujar TY menirukan perkataan anak kakaknya kepadanya saat itu. “Lalu kami tarik tiga. Dan, di lokasi yang dituju itu, mereka mendapati JI dan anaknya sedang berdua beralaskan tepas dan hanya memakai sarung. “Tapi kalau malam sebelumnya, tak tahu lagi saya entah dimana mereka. Entah pun di kafe. Tapi, di situ kujumpai mereka tidur pakai sarung beralaskan tepas itu. Nggak sakit hati awak,” ujarnya penuh kekesalan.
Lalu TY mengatakan kepada mereka berdua bahwa mereka sudah bersetubuh, tapi mereka diam saja. Sampai pada akhirnya TY membawa paksa anak sulungnya itu ke rumah dan sekira pukul 18.00 WIB mereka tiba di rumah. Hingga pukul 01.00 WIB dini hari, TY terus menanyai anaknya, tapi anaknya hanya diam saja.
Hingga akhirnya pada Bulan Oktober 2016, TY berkomunikasi dengan bibinya. Bibinya mengatakan bahwa anak sulungnya menikah dengan suami keduanya itu dan bertanya padanya apakah dirinya ikhlas. “Bagaimanalah nggak ikhlas. Pikiran sudah bimbang. Saat itu anak saya sudah hamil 6 bulan. Yang melakukannya adalah suami keduaku. Aku pun nggak ada jawaban lagi. Mereka pun nikah dan tinggal di Nagahuta. Dan, hingga saat ini tidak ada lagi kabar dari mereka sejak tinggal di Nagahuta. Bahkan, kakak TY mengatakan bahwa sesuai pengakuan JA (anak sulung TY), IM, anak bungsunya, juga sudah dicabuli oleh JI dan diberikan uang Rp50 ribu saat masih duduk di kelas VI SD. (JPNN/MS/MR).
