Gamki Kota Medan Gelar Seminar Wawasan Kebangsaan.
MetroRakyat.com I MEDAN — Proses membangsa ialah proses dari masyarakat yang berbeda-beda itu menjadi satu bangsa. Proses ini tidak pernah selesai, berlangsung sepanjang berdirinya Indonesia. Wawasan inilah yang menjadi semen perekat antar golongan/daerah. Dalam proses itu tersangkut persoalan bagaimana wawasan kebangsaan ini dipahami dan dihayati. Wawasan kebangsaan itu melahirkan semangat kebangsaan. Hal tersebut terungkap pada seminar dan temu ramah tama antara pengurus pimpinan anak cabang dengan dewan pimpinan cabang Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Kota Medan, Sabtu (27/8/2016) di kediaman Penasehat GAMKI Medan, Bonatua Sitompul dijalan Bunga Mawar No.111C, Kecamatan Medan Selayang, Medan. Ketua DPC Gamki Kota Medan, Parulian Tampubolon didampingi Sekjend GAMKI Medan Irfan Simatupang, menyampaikan bahwa tujuan digelarnya seminar bertemakan Wawasan Kebangsaan ini adalah melahirkan semangat kebangsaan, sehingga tidak ada lagi bangsa Indonesia yang merasa didiskreditkan atau dikucilkan, atau dengan kata lain tidak ada istilah mayoritas dan minoritas. Zaman dan tantangan-tantangannya berubah terus. Tetapi di tengah perubahan bagaimana pun kekuatan persatuan dan kesatuan bangsa harus kita pelihara. Parulian menegaskan bahwa khususnya di kota Medan, Gamki mengajak segenap lapisan masyarakat agar bersama-sama menjaga keharmonisan dan kekeluargaan serta keberagaman akan kepercayaan, suku dan ras, sehingga bangsa Indonesia menjadi kuat sesuai dengan harapan para pejuang kemerdekaan Indonesia terdahulu. “Wawasan Kebangsaan sangat perlu, lahir ketika bangsa Indonesia berjuang membebaskan diri dari segala bentuk penjajahan, seperti penjajahan oleh Portugis, Belanda, Inggris, dan Jepang. Perjuangan bangsa Indonesia yang waktu itu masih bersifat lokal ternyata tidak membawa hasil, karena belum adanya persatuan dan kesatuan, sedangkan di sisi lain kaum colonial terus menggunakan politik “devide et impera”. Kendati demikian, catatan sejarah perlawanan para pahlawan itu telah membuktikan kepada kita tentang semangat perjuangan bangsa Indonesia yang tidak pernah padam dalam usaha mengusir penjajah dari Nusantara, kata pria yang juga menjabat sebagai salah satu Komisioner Komisi Penyiaran Indoensia Provinsi Sumatera Utara itu.


Hal senada diungkapkan Pendeta A.Silaban dalam kotbahnya terkait wawasan kebangsaan, dalam Roma 13 Paulus menegaskan: “… tidak ada pemerintah, yang tidak berasal dan Allah; dan pemerintah-pemerintah yang ada ditetapkan oleh Allah” (ay. 1). Dari ayat ini juga jelas bahwa Allah menguasai semua pemerintah di dunia ini. Karena itu orang Kristen diminta supaya taat kepada pemerintah. Tugas pemerintah ialah mendatangkan kesejahteraan rakyatnya sebab Tuhan menghendaki agar umat-Nya sejahtera. Selanjutnya, karena kekuasaan pemerintah itu di bawah kekuasaan Allah, maka ketaatan kepada pemerintah tidak boleh melebihi ketaatan kepada Allah. Bila pemerintah tidak mendatangkan kebaikan, jemaat boleh tidak taat kepadanya. Caranya? Dengan sikap sabar, tekun dan tabah untuk tetap meneruskan kebaikan Tuhan kepada pemerintah dan orang banyak. Tidak boleh dengan jalan kekerasan sebab jalan itu tidak sesuai dengan jalan Allah yang mendatangkan kebaikan bagj umat (Why. 14). Kita setuju adanya pemisahan antara gereja dan negara/ pemerintah tetapi keduanya harus tetap saling berhubungan, antara lain karena warga gereja juga adalah warga negara. panggilan untuk hidup bersama dengan orang lain (yang berbeda agama , suku , ras dan budaya) merupakan panggilan umum bagi umat manusia. Kita perlu menghargai kepelbagaian / kemajemukan di negara Indonesia ini.

Turut hadir pada rangkaian Seminar bertajuk Wawasan Kebangsaan itu yakni Pendeta A.Telambanua sebagai pembawa Narasi terkait thema. Dan, ke 17 pengurus dari masing-masing Pimpinan Anak Cabang GAMKI Medan. Selain itu undangan yang hadir yakni masing-masing guru Sekolah Minggu dari denominasi Gereja di kota Medan. Acara yang diawali ibadah, ditutup dengan makan bersama dan temu ramah tamah dalam rangka membahas program kerja organisasi GAMKI yang berdiri sejak tahun 1945 itu. (MR/Team)
