Ekonomi Sumut Tumbuh 5,1-5,5 Persen 2019
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Tahun 2019 ini, Bank Indonesia (BI) memperkirakan ekonomi Sumatera Utara (Sumut) dapat tumbuh 5,1-5,5 persen, bahkan tahun 2020 mengalami pertumbuhan akan tembus di level 5,2-5,6 persen.
Demikian di sampaikan Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Wiwiek Sisto Widayat didampingi Direktur BI Perwakilan Sumut Andiwiana Septonarwanto kepada wartawan di kantornya Selasa petang, kemarin.
Wiwiek menjelaskan, untuk tahun 2018, perekonomian Sumut tumbuh 5,18 persen, tidak jauh perbandinganya dengan nasional sebesar 5,17 persen. Namun demikian tahun 2017, tumbuh 5,12 persen, lebih tinggi dari nasional 5,07 persen.
“Memang pertumbuhan ekonomi Sumatera Utara menggeliat, namun gap dengan nasional semakin menyempit,” ucapnya. Di jelaslan Wiwiek lagi, pertumbuhan ekonomi Sumut cenderung menurun. Kalau kita amati di tahun 2013 sebesar 6,07 persen, jika di bandingkan tahun 2014 turun ke level 5,23 persen, turun lagi tahun 2015 jadi 5,1 persen dan tahun 2016 sebesar 5,18 persen.
Tentu angka ini mengikuti penurunan ekonomi secara nasional dimana tahun 2013 sebesar 5,56 persen, tahun 2014 turun ke posisi 5,01 persen, tahun 2015 turun ke level 4,88 persen, tahun 2016 naik jadi 5,03 persen dan tahun 2016 meningkat sedikit jadi 5,07 persen. Kalau pertumbuhan ekonomi Sumatera dari tahun 2013 sampai tahun 2018 di bawah 5 persen, paling rendah tahun 2015 yang hanya 3,53 persen.
Hal ini terjadi karena pertumbuhannya tidak mengalami perubahan yang signifikan, menurut Wiwiek, hal ini di akibatkan karena banyak ekspor yang belum diolah, terutama produk-produk sektor pertanian sehingga tidak memberikan nilai tambah.
Di sisi lain, kita lihat dari ekonomi dunia dimana Amerika Serikat yang defisit, ekonomi China yang hanya tumbuh 7 persen, sebelumnya selalu tumbuh dua digit, begitu juga di Tiongkok mengalami hal sama. Jadi ekapor ke China menurun karena negara Tirai Bambu itu banyak menolak komoditi dari luar negeri sehingga produk pertanian kelebihan stok (over supply). Dampak ke ekonomi lokal, pertumbuhannya tak jauh dari 5,18 persen.
Menurutnya kenapa pertumbuhan ekonomi seperti itu karena dilihat dulu dari sisi permintaan (demand) yakni konsumsi dan investasi serta kondisi luar negeri, ekspor dan impor.
Di jelaskan Wiwiek andil pertumbuhan ekonomi dari sisi penggunaan ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, konsumsi pemerintah, ekspor ke luar negeri dan impor. Tahun 2017 dimana pertumbuhan ekonominya 5,12 persen, andil ekspor masih besar, namun tahun 2018, andil ekspor sangat kecil sekali.
Tahun 2018, konsumsi masyarakat paling besar sekira 55 persen, hampir sama dengan investasi. “Investasi dan konsumsi merupakan pendorong ekonomi domestik,” tukas dia.
Dilihat dari sisi lapangan usaha, tambahnya, andil pertumbuhan ekonomi diperoleh dari sektor pertanian, industri pengolahan, konstruksi, perdagangan, transportasi, jasa dan lainnya.
Wiwiek menyebut faktor lain pendorong ekonomi diantaranya pembangunan infrastruktur dan peningkatan kapasitas pelaku usaha serta perbaikan daya beli masyarakat.
Meski demikian pertumbuhan ekonomi tergolong melambat, namun tahun 2019 ini diperkirakan terus membaik dapat tumbuh 5,1-5,5 persen karena ditopang permintaan domestik (konsumsi dan investasi). “Kalau kita harapkan ekspor impor masih terhalang ekonomi global yang belum membaik,” tegasnya.
Harapan lain tentu ada potensi rencana investasi infrastruktur (tol trans Sumatera), pengembangan pelabuhan Kuala Tanjung dan Belawan tahap II, pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) DanauToba dan program listrik 35.000 MW.
Rencana penyaluran dana desa, inflasi yang terkendali, implementasi B20 dan perbaikan harga komoditas sekaligus mencari sumber-sumber pertumbuhan ekonomi baru seperti mengembangkan wisata. (MR/JB Rumapea)
