Harga Cabe Merah Menggeliat, Inflasi Sumut Meningkat

Harga Cabe Merah Menggeliat, Inflasi Sumut Meningkat
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Inflasi Sumatera Utara pada Oktober 2018 naik signifikan. Inflasi IHK Sumut bulan Oktober tercatat 1,31% (mtm) atau 2,73 % yoy.

Realisasi ini tercatat paling tinggi sepanjang 2018 (Jan-Sep) dan lebih tinggi dari rata-rata nasional 0,28% (mtm) dan inflasi historis Oktober 3 tahun terakhir (0,35%; mtm). Meski demikian, inflasi tahun kalender mencapai 1,59% (ytd), lebih rendah dibandingkan inflasi berjalan tahun sebelumnya sebesar 2,05% (ytd).Secara spasial, tekanan inflasi terjadi di seluruh kota IHK di Sumatera Utara.

Kota Medan menjadi kota dengan inflasi tertinggi di Sumatera Utara yaitu, 1,44% (mtm) bahkan tertinggi di Pulau Sumatera.

Sementara inflasi di Kota Sibolga 1,24%, Pematang Siantar 0,80%, dan Padangsidimpuan 0,11%. Komoditas cabai merah memiliki andil terbesar dalam mendorong inflasi di keempat kota tersebut. Disparitas inflasi termasuk disparitas harga cabai perlu mendapat perhatian yang berimplikasi perlunya penguatan pengelolaan pasokan, tidak hanya antar kabupaten/kota termasuk dari daerah lain.Harga cabai merah terus meningkat, kembali mendorong tekanan inflasi pada bulan berjalan.

Pada bulan Oktober, tekanan inflasi terasa pada semua kelompok pengeluaran, dengan andil tertinggi terjadi pada kelompok bahan makanan, yaitu sebesar 0,91% atau tercatat 3,75% (mtm), setelah pada bulan sebelumnya menyumbang deflasi -0,11%.

Faktor penyebab tekanan adalah komoditas cabai merah yang memiliki andil 0,89% terhadap laju inflasi pada bulan berjalan. Kenaikan harga cabai merah disinyalir disebabkan oleh berkurangnya pasokan akibat intensitas hujan yang tinggi serta memasuki akhir usia tanam.

Berdasarkan pemantauan PIHPS, puncak harga cabai merah di Sumatera Utara terjadi pada minggu III Oktober 2018 yang mencapai Rp44.950,00 dari Rp36.050,00. Namun, di minggu IV, harga menurun di level Rp42.400,00. Secara agregat, harga cabai merah telah menunjukkan peningkatan selama 3 bulan terakhir ( Agustus – Oktober).

Di sisi lain, penurunan harga terjadi pada beberapa komoditas utama seperti bawang merah, dan daging ayam ras seiring dengan membaiknya pasokan sehingga menahan tekanan inflasi lebih dalam.Tekanan inflasi juga terasa pada kelompok perumahan, listrik, gas, air dan bahan bakar serta kelompok transportasi.

Inflasi kelompok perumahan tercatat sebesar 0,61% (mtm) atau lebih tinggi dibandingkan angka inflasi bulan September 2018 yang mencapai 0,10% (mtm), dengan andil sebesar 0,15%. Sementara inflasi kelompok Transportasi, Komunikasi dan Jasa Keuangan tercatat 0,23% (mtm) lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya sebesar 0,02% (mtm), dengan andil 0,04% (mtm). Tekanan inflasi kedua kelompok tersebut bersumber dari peningkatan upah asisten rumah tangga dan kenaikan harga bensin non subsidi (Pertamax dan Dex series) pada 10 Oktober 2018. Kondisi ini mengindikasikan adanya kenaikan permintaan meski diperkirakan masih terbatas.

Pada akhir tahun, tekanan inflasi diyakini masih tetap terkendali dan berada pada sasarannya, yaitu 3,5%±1% (yoy). Berdasarkan pola historisnya, inflasi kumulatif 2 bulan, November-Desember, selama 3 tahun terakhir mencapai 1,33%. Dengan asumsi demikian, inflasi akhir tahun 2018 diperkirakan berada range target inflasi nasional 3,5 +/- 1%.

Selanjutnya, dalam rangka pengelolaan inflasi, KPw Bank Indonesia Sumatera Utara dan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Provinsi Sumatera Utara senantiasa melakukan upaya pengendalian inflasi sesuai roadmap yang telah disusun. Dalam jangka pendek difokuskan pada pengelolaan pasokan dan distribusi khususnya bahan kebutuhan pokok. (MR/JB Rumapea)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.