Apa Hukumnya Meninggalkan Sebuah Grup di Whatsapp?
MetroRakyat.com I JAKARTA — Nyaris semua dari kita bergabung dengan salah satu kelompok diskusi di Whatsapp. Mulai dari grup keluarga, grup hobi, grup pekerjaan, grup divisi kantor, grup alumni, grup komunitas dan grup lain yang bisa mencapai puluhan.
Beberapa grup cukup inspiratif, beberapa yang lain membosankan bahkan sampai level tertentu menjengkelkan. Memang ada fitur mute, namun fitur ini tidak efektif karena kita masih tetap bisa mengikuti atau melihat percakapan yang berlangsung.
Karena itu kadang-kadang, dari lubuk hati yang paling dalam ada niatan untuk “left group” saja. Namun ternyata hal ini tak sesederhana yang dibayangkan banyak orang. Ada perasaan khawatir akan ada pihak-pihak yang berprasangka macam-macam ketika seseorang meninggalkan sebuah grup.
Karena anggapan itu, beberapa orang merasa tak enak hati untuk tiba-tiba meninggalkan sebuah grup di Whatsap. Apakah “left group” sama dengan memutus tali silaturahim yang dilarang oleh ajaran Islam?
Menurut Ustaz Azhar Idrus dari Malaysia, meninggalkan grup Whatsaap yang kita ikuti tidak berarti memutuskan silaturahim namun ia menyarankan untuk memberitahu atau minta ijin agar tidak ada prasangka buruk atau dugaan negatif.
Banyak alasan kenapa seseorang terpaksa “left group” di Whatsapp diantaranya tidak menyukai topik yang sedang dibicarakan, selalu menceritakan dirinya sendiri alias pamer, bergosip, sering membicarakan keburukan orang, menyebarkan broadcast atau pesan berantai yang diterimanya, selalu menceramahi, isi pesan hanya berupa promosi dari sebuah brand atau karena ponselnya nge-hang.
Jadi jika kita berada di grup Whatsapp yang terasa menjengkelkan, segeralah “left group” dan bergabung dengan grup lain yang lebih nyaman dan menginspirasi. (LIP.6)
