Olah TKP Lanjutan Ungkap Gas Metana di Grand Polonia, Pernyataan Awal PGN Kembali Disorot

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Misteri ledakan dahsyat yang menghancurkan sebuah rumah mewah di Kompleks Grand Polonia, Kota Medan, mulai menemukan titik terang. Hasil olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) lanjutan yang dilakukan tim gabungan Polrestabes Medan, Bidang Laboratorium Forensik (Labfor) Polda Sumut, dan Perusahaan Gas Negara (PGN), justru menemukan fakta yang kembali mengarah pada dugaan kebocoran gas metana.
Temuan tersebut sekaligus memunculkan pertanyaan serius terhadap pernyataan awal pihak PGN yang sebelumnya menyebut tidak menemukan adanya kandungan gas metana di lokasi kejadian.
Olah TKP lanjutan dilakukan pada Rabu (22/7/2026), atau hari ketiga pascaledakan yang terjadi pada Senin (20/7/2026). Pemeriksaan mendalam baru dapat dilakukan setelah seluruh korban berhasil dievakuasi dari lokasi pada Selasa (21/7/2026) petang.
Kapolrestabes Medan Kombes Pol Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan, proses olah TKP dimulai sejak pukul 10.00 WIB hingga sekitar pukul 18.00 WIB.
Tim gabungan menyisir setiap bagian bangunan yang telah porak-poranda untuk mengungkap titik awal dan penyebab ledakan.
“Kita melakukan bertahap, mulai dari sisi luar bangunan, kemudian masuk ke lantai satu bertahap sampai ke lantai dua, lantai tiga sampai dengan ke bagian rooftop,” ujar Calvijn.
Dari pemeriksaan tersebut, Kasubbid Labfor Polda Sumut AKBP Roy Tenno Siburian mengungkap sejumlah temuan penting. Salah satunya, indikasi bahwa ledakan kuat berasal dari dalam bangunan.
Hal itu terlihat dari kondisi struktur bangunan, termasuk pintu depan dan dinding yang roboh mengarah ke luar.
“Pertama kita lihat pintu depan sama dinding itu semua dan dinding samping juga roboh ke bagian luar. Itu menunjukkan tekanan itu datang dari dalam rumah,” ungkap Roy.
Tak berhenti di situ. Tim Labfor juga menemukan indikasi bahwa titik kerusakan paling parah berada di lantai dua.
Menurut Roy, konstruksi antara lantai satu dan lantai dua memiliki rongga yang memungkinkan gas berkumpul dan terkonsentrasi sebelum akhirnya terpicu ledakan.
“Jadi udara yang di lantai dua dan di lantai satu itu menjadi satu kesatuan. Kalau ada gas, dia akan menyatu di lantai dua dan di lantai satu. Kerusakan ini menunjukkan di lantai dua itu paling parah,” jelasnya.
Roy menjelaskan, karakteristik gas metana yang lebih ringan dibandingkan udara membuat gas tersebut cenderung bergerak ke bagian atas ruangan. Dalam kondisi tertentu, gas yang terakumulasi dalam konsentrasi tertentu dapat terdetonasi apabila bertemu sumber pemantik.
“Nah, kasus yang seperti itu sebenarnya menunjukkan gas metan yang bisa terdetonasi. Karena metan itu lebih ringan daripada udara, ketika terdetonasi maka bagian paling atasnya itu yang paling rusak,” katanya.
LABFOR DETEKSI GAS METANA
Temuan paling krusial terungkap saat tim melakukan pemeriksaan terhadap sisa bangunan. Labfor Polda Sumut bersama tim PGN mendeteksi adanya kandungan gas metana di lokasi.
Tidak hanya menggunakan alat detektor, sampel udara dari lokasi juga diperiksa menggunakan perangkat analisis laboratorium untuk memastikan keberadaan gas tersebut.
“Konfirmasi dari sampel udara yang kami ambil di sana dengan gas kromatografi spektrofotometri, alat yang bisa mengonfirmasi, memang di sana kita temukan metan,” tegas Roy.
Berdasarkan hasil olah TKP sementara, tim menemukan indikasi adanya gas yang memenuhi ruangan hingga berpotensi memicu ledakan. Namun, terkait apa yang menjadi sumber pemantik atau pemicu awal ledakan, Labfor masih melakukan pendalaman.
TEMUAN LABFOR KONTRAS DENGAN PERNYATAAN AWAL PGN
Temuan Labfor Polda Sumut ini menjadi sorotan karena berbanding terbalik dengan pernyataan awal Area Head PGN Medan, Agus Kurniawan, yang sebelumnya menyampaikan hasil pemeriksaan tim PGN di lokasi kejadian.
Dalam pernyataannya kepada media, Agus menyebut hasil deteksi gas yang dilakukan tim PGN dan disaksikan pihak eksternal berwenang pada malam kejadian, termasuk pemeriksaan di lantai satu dan lantai dua, menunjukkan angka 0 ppm atau tidak terdeteksi adanya kandungan gas metana di rumah tersebut.
Pernyataan tersebut tentu menjadi pertanyaan setelah tim Labfor Polda Sumut dalam olah TKP lanjutan justru mengungkap adanya kandungan gas metana melalui pemeriksaan sampel udara di lokasi.
Di satu sisi, PGN sebelumnya menyebut gas metana tidak terdeteksi. Namun di sisi lain, hasil pemeriksaan Labfor Polda Sumut mengungkap adanya kandungan metana di lokasi kejadian.
Perbedaan hasil temuan inilah yang kini menjadi bagian penting dalam mengungkap secara terang benderang penyebab ledakan maut yang menghancurkan rumah mewah tersebut dan menelan korban jiwa.
Meski demikian, pihak PGN sebelumnya juga telah menyatakan masih menunggu hasil investigasi resmi dari pihak berwenang untuk memastikan penyebab pasti insiden ledakan tersebut.
Kini, publik tentu menunggu hasil akhir investigasi. Apakah ledakan benar-benar dipicu kebocoran gas metana, dari mana sumber gas tersebut berasal, serta apa yang menjadi pemantik ledakan, menjadi sejumlah pertanyaan yang masih harus dijawab oleh tim penyidik.
Yang jelas, temuan terbaru Labfor Polda Sumut soal keberadaan gas metana di lokasi membuat dugaan kebocoran gas kembali menguat dan sekaligus membuka ruang pertanyaan terhadap pernyataan awal yang menyebut tidak ditemukan adanya kandungan gas metana.(MR/tim)

