Bukan Untuk Warga Lokal? Rekrutmen MBG Desa Paya Perupuk Kecamatan Tanjung Pura Dipertanyakan warga Sekitar
METRORAKYAT.COM, LANGKAT – Ketegangan terjadi di lokasi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis di Desa Paya Perupuk Kecamatan Tanjung Pura Kab.Langkat, ketika puluhan warga setempat mendatangi dan menggeruduk tempat kegiatan sekaligus kantor pengelola program, Selasa 28 april 2026.
Tindakan itu dilakukan sebagai bentuk kekecewaan dan pertanyaan keras terhadap proses perekrutan tenaga kerja yang dinilai tidak sesuai dengan surat edaran kepala BGN nomor 03/SE/BGN/2025.
Ketidaksesuaian antara aturan yang tertulis dengan kenyataan di lapangan inilah yang akhirnya memicu kemarahan warga sekitar dapur MBG Desa Paya Perupuk.
Kami hari ini berkumpul dan mendatangi lokasi pelaksanaan serta kantor pengelola program Makan Bergizi Gratis untuk menyampaikan keluhan dan mempertanyakan keabsahan proses yang telah dijalankan, serta menuntut kejelasan.
“Kami percaya ini program baik, tapi pelaksanaannya di tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Aturannya tertulis jelas harus bebas biaya dan mengutamakan kami yang tinggal di sini, tapi kenyataannya malah sebaliknya.
Apa gunanya peraturan kalau cuma sekadar tulisan dan tidak dijalankan?” ujar Ozi salah satu warga kepada Metro rakyat.com.
Kehadiran kami disini bertujuan meminta pihak MBG membuka data nama – nama yang lulus seleksi, apa benar berdomisili disekitar Dapur atau warga Desa Paya Perupuk, tapi sayang Bang, pihak MBG yang diwakili Andi Nasution didampingi Irfandi(polisi) dan Bareno mengatakan berkas berada di Besitang.Sehingga permasalahan ini akan kami bawa ke Kantor Desa.Ucap salah seorang warga.
Lebih lanjut ia menyampaikan bahwa kemarahan warga sekitar semakin memuncak karena beredarnya informasi dan laporan dari sejumlah pelamar bahwa untuk bisa diterima, diminta membayar sejumlah uang dengan berbagai alasan, Ketidaksesuaian antara aturan yang tertulis dengan kenyataan di lapangan inilah yang akhirnya memicu kemarahan masyarakat. Ratusan warga berkumpul dan mendatangi lokasi pelaksanaan serta kantor pengelola program untuk menyampaikan keluhan, mempertanyakan keabsahan proses yang telah dijalankan, serta menuntut kejelasan.
“Kami percaya ini program baik, tapi pelaksanaannya di tangan orang yang tidak bertanggung jawab. Aturannya tertulis jelas harus bebas biaya dan mengutamakan kami yang tinggal di sini, tapi kenyataannya malah sebaliknya. Apa gunanya peraturan kalau cuma sekadar tulisan dan tidak dijalankan?” ujar salah satu warga.
Padahal tujuan awal program ini juga diharapkan bisa membuka kesempatan kerja bagi masyarakat di sekitar lokasi pelaksanaan.
Monang salah seorang warga sekitar yang ikut mendaftarkan diri sebagai calon karyawan MBG merasa sangat kecewa dan bertanya kenapa tidak lulus, semua persyaratan sudah diikuti.
“Kami yang tinggal di sini, yang tahu kondisi wilayah ini, yang juga membutuhkan pekerjaan, malah tidak dipakai. Tapi orang dari luar, atau yang mau mengeluarkan uang, malah langsung diterima.
Apa gunanya program ini kalau malah menyengsarakan kami sendiri?” ucapnya dengan kecewa.(mr/yo)
