Diduga Limbah PTPN III Gunung Para Cemari Sungai Bahilang, Warga Terserang Gatal-Gatal

Diduga Limbah PTPN III Gunung Para Cemari Sungai Bahilang, Warga Terserang Gatal-Gatal
Keterangan foto: Ketua Komisi IV DPRD Sergai dari Fraksi PDI Perjuangan, Syamsudin. (metrorakyat.com/AS)
Bagikan

METRORAKYAT.COM, SERGAI – Warga masyarakat Desa Dolok Merawan kini dihantui keresahan dan penyakit gatal-gatal. Hal ini disebabkan limbah dari pabrik pengolahan karet milik PT Perkebunan Nusantara III (Persero) Kebun Gunung Para yang telah mencemari sungai Bahilang yang terletak di kecamatan Dolok Merawan Kabupaten Serdang Bedagai.

Sungai Bahilang, yang selama puluhan tahun  menjadi urat nadi kehidupan warga dan sebagai sumber air, tempat mencari nafkah, hingga menopang aktivitas sehari-hari, kini telah berubah menjadi ancaman kesehatan dan sudah tidak sehat lagi.

Dugaan pencemaran ini sontak memicu kemarahan warga.

Keluhan masyarakat Dolok Merawan ini akhirnya sampai ke telinga Komisi IV DPRD Sergai. Tak tinggal diam, lembaga legislatif itu memastikan akan segera turun ke lapangan untuk melihat langsung kondisi Sungai Bahilang.

Ketua Komisi IV DPRD Sergai dari Fraksi PDI Perjuangan, Syamsudin, menegaskan pihaknya telah menerima laporan resmi dari masyarakat terkait dugaan pencemaran tersebut.

“Kami akan segera melakukan monitoring ke lapangan untuk memastikan kondisi sebenarnya. Saat ini kami belum bisa menyimpulkan, namun peninjauan akan segera dijadwalkan,” tegas Syamsudin kepada wartawan, Sabtu (25/4/2026).

Menurutnya, persoalan lingkungan dan kesehatan masyarakat merupakan bagian dari fungsi pengawasan Komisi IV, sehingga laporan warga tidak bisa dipandang sebelah mata.

Sebelumnya, pada Jumat (24/4/2026), Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Lingkungan Hidup (Perkim LH) Sergai telah lebih dulu turun ke lokasi. Petugas melakukan pengecekan sekaligus mengambil sampel air di sejumlah titik aliran Sungai Bahilang.

Sampel tersebut akan diuji di laboratorium guna memastikan ada atau tidaknya kandungan berbahaya yang diduga berasal dari aktivitas pabrik crumb rubber milik PTPN III Kebun Gunung Para.

Kekhawatiran warga bukan tanpa alasan. Selama beberapa bulan terakhir, kondisi air sungai disebut berubah drastis. Bau menyengat kerap tercium, sementara sejumlah warga mulai mengalami gangguan kesehatan, terutama gatal-gatal pada kulit.

Padahal, Sungai Bahilang selama ini menjadi tumpuan hidup masyarakat. Selain digunakan untuk kebutuhan rumah tangga, sungai tersebut juga menjadi ladang penghasilan bagi para pencari pasir.

Salah seorang warga, NI, mengaku sudah sekitar enam bulan menderita gatal-gatal setelah beraktivitas di sungai. Bahkan, kondisi itu memaksanya berhenti bekerja sebagai pencari pasir.

“Kami sudah lama merasakan dampaknya. Airnya berubah dan baunya menyengat,” keluhnya.

NI mengungkapkan, warga bahkan telah menyimpan sampel air sejak tahun 2025 sebagai bentuk kekhawatiran terhadap kondisi sungai yang terus memburuk.

Keluhan serupa disampaikan warga lainnya, RY. Ia mengaku mulai merasakan gatal pada tangan dan kaki usai beraktivitas di sekitar sungai.

“Airnya sudah berbeda. Baunya menyengat, dan sekarang tangan serta kaki saya mulai gatal-gatal,” ujarnya.

Masyarakat kini menanti hasil uji laboratorium dengan penuh harap. Mereka mendesak pemerintah bertindak transparan dan tegas. Jika terbukti ada pencemaran, warga meminta penegakan hukum tanpa pandang bulu.

Sebab, bagi masyarakat Dolok Merawan, Sungai Bahilang bukan sekadar aliran air, melainkan sumber kehidupan yang tidak boleh dirusak oleh siapa pun.

Sementara itu, upaya konfirmasi kepada manajemen PTPN III Kebun Gunung Para melalui pesan WhatsApp pada Sabtu (25/4/2026) pukul 15.32 WIB belum mendapat tanggapan hingga berita ini diterbitkan. Diamnya pihak perusahaan justru semakin memantik tanda tanya besar di tengah masyarakat. (MR/AS)

Metro Rakyat News

Tinggalkan Balasan