Petani Sedih, Banyak Lahan Persawahan di Desa Mangga Dua Tanjung Beringin Rusak Terdampak Banjir
METRORAKYAT.COM, SERGAI – Ratusan bahkan ribuan hektar lahan persawahan yang ada di Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Sumatera Utara terendam banjir seperti sungai atau lautan yang membentang.
Salah satunya seperti yang dialami para petani yang ada di Dusun I dan Dusun IV, Desa Mangga Dua serta Desa Pematang Terang, Kecamatan Tanjung Beringin, Kabupaten Sergai, ada sekitar ratusan hektar persawahan dilanda banjir membuat para petani yang ada di desa tersebut merasa sedih.
Ketinggian air di lahan persawahan yang melanda Desa Mangga Dua, Kecamatan Tanjung Beringin diperkirakan mencapai 1 meter lebih, sehingga para petani di desa tersebut tidak bisa untuk membibit bahkan menanam padi, padahal sudah waktunya untuk bertanam.
Nardi salah seorang petani Dusun I Desa Mangga Dua, kepada media ini, Sabtu siang (13/11/2021) sekira pukul 13.00 Wib, mengatakan kalau di total lahan persawahan di Desa Mangga Dua ini lebih kurang ada sekitar 480 hektar keseluruhannya, dan hampir semuanya terendam banjir.
“Yang paling parah Dusun I dan Dusun IV Desa Mangga Dua ada sekitar ratusan hektar persawahan yang terendam banjir,” sebutnya.
Lanjutnya, dari semenjak awal banjir persawahan petani sudah terendam, ditambah lagi siklus air begitu cepat jadi besar kemungkinan akan turun hujan yang terus menerus, membuat banjir tidak surut.
Ia menjelaskan, biasanya membibit padi pertengahan bulan Oktober sudah mulai, tetapi karena banjir semakin besar jadi terpaksa ditunda sampai surut total atau kering.
Kalau diperhitungkan persawahan di Desa Mangga Dua ada sekitar 480 hektar, kalau musim panen totalnya sekitar 2400 ton hasil panen dikali satu ton berkisar Rp. 4 juta 500 ribu. Jadi apabila sawah petani tersebut sudah menanam terus dilanda banjir, artinya gagal panen lebih kurang rugi para petani sekitar Rp. 10,8 miliyar, itu apabila sudah menanam dilanda banjir.
“Memang petani disini kira – kira ada sekitar 13 hektar yang baru nyetak bibit, kalau dihitung dananya sekitar Rp. 2 juta 500 ribu. Jadi ini baru hanya membibit aja, belum lagi apabila sudah menanam terus dilanda banjir sudah berapa ruginya petani itu,” terang Nardi.
Dengan kondisi banjir ini kemungkinan sungai Bedagai sudah dangkal, jadi tidak bisa menampung air yang turun dari hulu, apalagi banjir yang dilanda hujan maupun banjir kiriman.
“Ya…kita berharap adanya normalisasi sungai Bedagai agar air dapat mengalir dengan lancar, sehingga tidak mengakibatkan banjir,” harap Nardi.
Dilokasi lahan persawahan yang tergenang banjir, pak Supriadi warga yang sama yang memiliki lahan pertanian sudah 2 minggu menanam bibit lebih kurang 2 hektar terus dilanda banjir.
Ia merasa sedih, karena bibit yang sudah di cetak atau di tanam tidak bisa lagi untuk dipakai karena sudah membusuk pada akarnya.
“Sedih pak, dua hektar bibit yang sudah di cetak jadi gak bisa dipakai lagi, ya terpaksa membibit lagi. Kiranya ada sedikit perhatian pemerintah kepada kami,” tuturnya dengan nada sedih.
Hal yang sama juga disampaikan pak Yus yang merupakan salah satu petani warga Dusun IV Desa Mangga Dua menuturkan, biasanya kami di bulan November ini sudah mulai menuai bibit dan menanam, dan bulan Desember sudah selesai.
Namun dengan kondisi sawah kami yang sudah terendam banjir seperti ini terpaksa menunggu air surut baru memulai membibit lagi.
“Ya terpaksa nunggu surut banjir baru bisa bibit dan nanam pak. Kerjaan gak ada yang lain, kita cuma bisa bertani, tuk makan ja sudah sulit karena dilanda COVID saat ini, ditambah lagi lahan sawah kami dilanda banjir seperti ini,” ungkapnya dengan nada polos.(MR/AS)
