Kebijakan Bobby Nasution Wajibkan ASN Berbaju Adat Beri Dampak Positif Untuk Pegiat UMKM
Dalam Surat Keputusan Wali kota trsebut disebutkan, pakaian dinas harian khas daerah itu terdiri dari 8 etnis yang ada di Kota Medan yakni Melayu, Karo, Tapanuli Selatan, Batak Toba, Simalungun, Dairi/Pakpak dan Nias. Kemudian ditambah dengan 3 etnis pendatang lainnya yakni Jawa, Padang/Minangkabau serta Aceh. Melalui pemakaian pakat adat ini, Bobby Nasution ingin menyampaikan bahwa Kota Medan memiliki berbagai keberagamanan yang sangat luar biasa sehingga sering dijuluki sebagai miniaturnya Indonesia.
“Kita minta seluruh ASN dan P3K di lingkungan Pemko Medan agar memakai pakaian adat, diupayakan sesuai dengan etnisnya masing-masing. Khusus untuk pejabat eselon II, kita minta tidak hanya mengenakan pakaian adat etnisnya saja tetapi seluruh etnis yang ada di Kota Medan secara bergantian. Melalui pemakaian pakaian adat ini, kita ingin menyampaikan semua etnis, kebudayaan dan keberagaman yang ada merupakan jati diri dan kekuatan yang dimiliki Kota Medan,” kata Bobby nasution beberapa hari lalu.
Selain melambangkan berbagai keberagaman yang ada di Kota Medan, orang nomor satu di Pemko Medan itu berharap pemakaian pakaian adat dapat membangkitkan kembali budaya/tradisi yang diikuti pemberdayaan ekonomi masyarakat, terkhusus para penggiat UMKM yang memproduksi pakaian dan aksesoris pakaian daerah. Bobby ingin kebijakan yang dilakukannya itu berefek dengan meningkatnya belanja ASN untuk membeli pakaian daerah.
Upaya untuk mendorong ASN dan P3K belanja pakaian daerah, Bobby Nasution bersama Ketua TP PKK Kota Medan Kahiyang Ayu M Bobby Nasution sengaja mengunjungi salah satu pengerajin pakaian adat yakni Rumah Uis Jalan Jamin Ginting Medan, Jumat (10/9). Di tempat itu, khusus menjual pakaian adat dan aksesoris etnis Karo. Setelah melihat-lihat, Bobby membeli bekabulu (kain khas Karo) dan kemeja yang bahannya merupakan kain khas Karo. Sedangkan Kahiyang membeli kain sarung dan selendang khas Karo
Dikatakan Bobby, Rumah Uis ini fokus memproduksi berbagai fashion yang bahannya merupakan uis (kain) dan motif khas Karo. Jika di suku Batak, jelasnya, uis itu adalah ulos.
Menantu Presiden Joko Widodo itu pun berharap agar Rumah Uis, termasuk tempat-tempat yang memproduksi fashion dan aksesoris daerah di Kota Medan dapat maju dan berkembang meskipun di tengah pandemi Covid-19. Untuk mendukung hal itu, Bobby mengajak seluruh ASN yang ada di Kota Medan agar jangan menyewa pakaian adat saja, tapi harus membelinya. “Hal ini kita lakukan untuk membantu para pelaku UMKM tersebut, kuncinya harus tetap semangat,” pesannya.
Kebijakan Bobby Nasution untuk membangkitkan kembali keberagaman dan budaya di Kota Medan, sekaligus mendorong peningkatan ekonomi masyarakat, terutama pelaku UMKM langsung mendapat dukungan dari salah seorang akademisi Administrasi Bisnis Universitas Sumatera Utara (USU) Nicholas Marpaung SAB MSi.
“Kalau di daerah Jawa sana, mungkin hanya simbol budayanya yang bisa di tunjukkan. Berbeda dengan Kota Medan yang memiliki banyak keberagaman dari berbagai latar belakang budaya. Tentunya ini yang seharusnya dari dulu kita lakukan, tapi kalau sekarang baru diberlakukan saya apresiasi. Hal ini tidak merugikan dan dapat menjadi citra positif yang dapat ditonjolkan keluar,” kata Nicholas.
“Saya harap pemberlakukan atau kebijakan pakaian adat bagi ASN di lingkungan Pemko Medan berlaku konsisten. Siapa pun pemimpin kedepannya, saya harap kebijakan ini dapat dipertahankan. Selain bagus untuk pelestarian budaya, para penggiat UMKM juga sangat terbantu karena mendapat pasar baru. Di samping itu kebijakan ini juga dinilainya sangat bagus guna meningkatkan kepercayaan diri para ASN, sebab mereka bekerja dengan tampilan baru sehingga merasa lebih percaya diri dalam memberikan pelayanan,” pungkasnya.
Sementara itu di tempat terpisah, Averia Barus, salah seorang pelaku UMKM yang memproduksi pakaian adat Karo sekaligus pemilik Rumas Uis, sangat mengapresiasi kebijakan yang dilakukan Bobby Nasution. Averia menilai, kebijakan itu merupakan angin segar bagi para pelaku UMKM, khususnya yang bergerak di bidang produksi pakaian adat. Dengan kebijakan tersebut, ungkapnya, awalnya mungkin tidak terpikir untuk membeli tapi kini harus membelinya. Averia pun berharap agar kebijakan yang dilakukan Bobby Nasution dapat memberikan efek positif, terutama di tengah pandemi Covid-19 yang belum diketahui kapan berakhirnya.
“Saat mendengar kabar seperti itu, kami siap-siap untuk memproduksi pakaian adat. Jika tidak ada kebijakan Bapak Wali Kota tersebut, kami tidak akan produksi. Sejak 3 bulan kemarin, kami merasa terpuruk dan tidak berani memproduksi karena khawatir tidak ada yang membeli. Tetapi dengan adanya kebijakan seperti ini, kami berani produksi lagi, tinggal bagaimana kami mempromosikannya saja. Di tempat kami ini untuk yang readi pakaian adat Karo. Tetapi jika ada yang ingin order, kita bisa kerjakan semua. Kalau yang mau pakai adat Simalungun bisa juga, karena kami juga bekerja sama dengan para pengrajin lainnya,” ungkap Averiana gembira.(MR/red)


