Snk.Folala Gea, Wartawan dari Tanayo Kini Dimuliakan Tuhan
“ Abang sakit Ma sudah lama.Ini kondisinya sekarang ”. Demikianlah pesan yang dikirimkan Cici Cahyani Br Surbakti kepada saya Rabu 21 April 2021 via Whatsapp serta dilengkapi foto sesosok insan terbaring lemah dengan pandangan mata kosong tergolek di tempat tidur.Dialah, Folala Gea.
Folala Gea meninggal dunia, Jum’at (23/4) pukul 09.30 WIB di rumahnya Jalan Besar Medan – Tebing Tinggi Kelurahan Syahmad Kecamatan Lubukpakam dan meninggalkan 4 orang anak serta seorang cucu.

Rasanya, saya harus mengaku berutang pada almarhum Folala Gea, sebab tidak sempat menjenguknya saat dirawat di rumah. Apalagi jalan panjang yang kami lalui di dunia jurnalistik lumayan bernas dan penuh kenangan.
Saya juga beruntung pada almarhum tentang bagaimana menghargai persahabatan. Saya selalu mendengar dengan baik ketika disebutkannya tentang wilayah operasional jurnalistiknya. Sejak tahun 1995 , ketika almarhum masih bertempat tinggal di Tanjungmorawa, dunia jurnalistik sudah ditekuninya.
Saat itu, kami bersama – sama mengasah pengalaman menjadi wartawan di Harian Sinar Indonesia Baru. Banyak pengalaman unik menjadi catatan mahal. Satu diantaranya ketika dibuka pendaftaran menjadi anggota PWI Sumut. Almarhum M Zaki Abdullah mempertanyakan kelengkapan berkas almarhum. Melalui penjelasan saya yang panjang M Zaki Abdullah merekomendasikan almrhum Folala Gea sebagai calon anggota.

Sebagai jurnalis muda – saat itu usianya 37 tahun — kedekatannya dengan petinggi pemerintah mulai dijalin. Hasilnya, keberadaannya semakin diperhitungkan narasumber dan juga manajemen media tempatnya bernaung. Sepak terjangnya di media terbukti Folala Gea akrab dengan semua mitra dari segala kalangan.
Pengalaman tersebut membuatnya melirik ke lembaga wartawan saat itu. Tidak tanggung- tanggung tahun 2006-2009 dan 2009-2012 posisi Sekretaris PWI Deliserdang dijabatnya. Kemudian tahun 2012-2015 dan tahun 2015-2018 menjadi Ketua PWI Deliserdang. Saat kepemimpinannya Kantor PWI Deliserdang di Jalan Tirta Deli Lubukpakam mampu dibangun.
Kebiasan pria kelahiran Tanayo , Nias 11 Juli 1957 ini bicara dengan rasional, terstruktur dan berkerangka. Beberapa penekanan dalam uraian-uraian itu selalu ditandaskan dengan aksentuasi gerakan kedua tangan menyempurnakan kata – katanya.
Bila saya meminta contoh konkret barulah ia memberikan contoh-contohnya. Misalnya dalam operasional jurnalistik di dekat perusahaan swasta yang tidak mengindahkan limbahnya. Almarhum saat itu belum memiliki kartu tanda anggota dari media, sebab persyaratan menetapkan demikian. Tak pelak pihak perusahaan pengelola limbah tadi menganggapnya wartawan tanpa kejelasan.
Ia tidak merasa direndahkan. Malah, ia ceritakan peristiwa tersebut kepada redaksinya sebelum naskah berita dikirimkan. Kepandaiannya menjelaskan detil pengalaman lapangan itu membuat redaksi merekomendasikan laporannya harus diterbitkan ke halaman satu. Apresiasi yang langka kepada wartawan muda, kala itu.
Langkah awalnya di harian SIB diteruskan ke Harian Perjuangan, Perjuangan Baru dan terakhir di Harian Realitas membuktikan sosok jurnalis satu ini.
Begitulah sebagian jalan panjang dan penuh berliku yang pernah dilaluinya . Folala Gea juga mengisi hari – harinya sebagai pengerja gereja, sehingga di depan namanya ditabalkan Snk Folala Gea. Karya monumentalnya, lumayan bermakna di lingkungan ini, mulai dari panitia pembangunan , donatur sampai kepada pelayanan Tuhan.
Bisa jadi, ketekunannya di dunia kerohanian ini membuatnya dipercaya menjadi Sekum PGI Deliserdang periode 2017 – 2022 serta panitia perayaan hari – hari besar Kristen.
Demikian juga tak kalah perhatiannya di dunia pendidikan. Tahun 1984 ia pernah menjadi tenaga pengajar di Perguruan Nasional Lubuk Pakam. Kepala SMP. M Malau BA , dalam surat keterangannya mengatakan almarhum berprestasi baik.
Diskusi lainnya juga sering kami lakukan, mislnya soal putranya Eka Kristian Gea. Sejak Eka kuliah di Darma Agung Medan sampai meraih prestasi pasca sarjana, terlihat rasa bangganya memiliki anak yang memilih profesi sebagai lowyer. “ Sewaktu magang dengan Aldian Pinem, anak kita memang sudah dipercaya menangani kasus perkara yang lumayan besar, “ ujarnya dalam satu perbincangan.
Folala Gea, kini dimuliakan Tuhan bersama kisah hidup dan jalan panjangnya. Saya yakin, keluarga, sahabat dan mitra kerja selama ini menyayangi pria murah senyum tersebut, namun ternyata Tuhan lebih sayang kepada Folala Gea. Selamat jalan sahabat. (Jenda Bangun )


