Dampak Letusan Gunungsinabung, Debu Vulkanik Tutup Ribuan Hektar Tanaman, Pertanian di Karo Rusak
METRORAKYAT.COM, KARO – “Sudah jatuh tertimpa tangga pula”. Peribahasa ini sangat pantas dialamatkan kepada para petani di Karo.
Pasalnya, belum berakhirnya penanganan Pandemi Covid-19 yang merusak roda perekonomian. Kini datang lagi musibah erupsi Gunung Sinabung, Senin (10/08/2020) sekira pukul 10:16 WIB.
“Lanai lit si malem-malemna” (Gak ada lagi yang bagus-red). Kalimat itu yang terucap dari mulut Sehate Br Ginting (46) warga Namanteran, Kecamatan Namanteran saat ditemui wartawan di ladangnya, Selasa (12/08/2020).
Dikatakannya, disaat virus Corona masih mengancam, datang lagi musibah erupsi Gunung Sinabung.
“Beginilah keadaan tanaman kentang saya. Sudah tertutup debu vulkanik, rusak semua. Sudah pasti saya gagal panen,” keluhnya.
Lebih lanjut dikatakan Beru Ginting, para petani yang bercocok tanam di kawasan lingkar Sinabung dipastikan bakal gagal panen.
“Semburan abu vulkanik Sinabung telah meluluhlantakan lahan pertanian warga. Sementara modal yang kami keluarkan tidak sedikit. Mulai dari pembersihan lahan, bibit dan pupuk. Kami banyak mengeluarkan uang,” ujarnya.
Ia menyebut, tanaman kentangnya masih menunggu waktu sebulan lebih lagi untuk dipanen. “Tapi apa daya udah jadi begini. Sekitar 80 persen tanaman kentang saya tertutup abu vulkanik. Meski begitu, kami masih berusaha membersihkan abu yang menempel didaun, berharap tidak akan rusak,” lirihnya.
Amatan wartawan, lahan pertanian di Kecamatan Namanteran, Merdeka, Dolatrayat dan Kecamatan Berastagi telah tertutup abu vulkanik yang cukup tebal.
Sesuai data yang dihimpun dari Dinas Pertanian Pemkab Karo. Kerusakan tanaman pertanian pasca erupsi Gunung Sinabung sekitar 1.483 hektar.
Kecamatan Namanteran sekitar 907 hektar, Merdeka 291 hektar, Dolatrayat 74 hektar dan Kecamatan Berastagi 211 hektar. (MR/Anita Theresia Manua)
