Bank Indonesia: Prioritaskan Komoditas Pangan Strategis di Daerah

Bank Indonesia: Prioritaskan Komoditas Pangan Strategis di Daerah
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) memberikan prioritas komoditas pangan strategis untuk mengatasi inflasi di Sumut. Ke depan diharapkan menjadi Provinsi yang produktif sebagai titik persoalan pangan.

Berdasar pada rapat koordinasi Provinsi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) se-Sumut lintas Video Visual di Posko Penanganan Covid-19, Sumut Jalan Jend Sudirman Medan, Selasa (22/7/2020).

Hadir Sekretaris Daerah (Sekda) Provinisi Sumut, KPw BI Wiwiek Sisto Widayat, Kepala BPS Sumut Syech Suhaimi, Walikota/Bupati Kepala OPD provinsi serta seluruh anggota TPID Sumut.

“Setiap daerah di Sumut diharapkan menjadikan pangan sebagai prioritas utama sehingga ada kerja sama dilakukan Provinsi, sebut KPw BI Wiwiek Sisto Widayat, Rabu (22/7/2020).

Disebutkan Wiwiek, komoditi surplus yakni beras 813.020 ton, cabai merah 20.425 ton, cabai rawit 11.394 ton. Penyumbang defisit yakni komoditas bawang merah defisit 25.686 ton dan bawang putih 25.324 ton.

Kabupaten/kota di Sumut, Sibolga termasuk produksi dan kebutuhan pangan strategisnya 100% defisit, Labuhanbatu Selatan (Labusel) hanya dapat menyumbang surplus beras 8%, cabai merah 7%, cabai rawit 13%, bawang merah 1% serta defisit 100% komoditi bawang putih.

“Daging ayam, telur, minyak goreng. Tapi gula pasir di posisi defisit. Ini merupakan gambaran di 33 Kabupaten/Kota Sumut. Sebagai target kerja adalah mengatasi inflasi. Dengan penuh keyakinan tanah memungkinkan semua. Tinggal bagaimana untuk menjadikan prioritas,” paparnya.

Ditambahkan Wiwiek , perekonomian Sumut tercatat tumbuh 4,65% (yoy), jauh di atas Nasional dan Sumatera masing-masing tercatat 2,97% (yoy) dan 3,25% (yoy). Secara spesial, Sumut tertinggi ke-2 setelah Sumsel (4,98% yoy).

“Di era pandemi, realisasi cukup baik meski melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (5,21% yoy), sesuai pola historis awal tahun. Karena perekonomian Sumut diindikasi dampak Covid-19 belum menjalar ke level regional, kasus pertama di Indonesia baru dirasakan Maret 2020,” jelasnya. Sementara perkembangan inflasi Sumut terjadi Juni mengalami deflasi tercatat -0,07% (mtm), lebih rendah di sebelumnya inflasi 0,43% (mtm) lebih tinggi sebelumnya tercatat deflasi -0,29% (mtm) Sumatera dan Nasional. “Hingga per Juni 2020 akumulasi terhitung 0,61 ytd tahunan -0,09 yoy,” pungkas Wiwiek.

Secara spesial, tekanan harga di seluruh kota Indeks Harga Konsumen (IHK) menurun. Deflasi terjadi di Pematangsiantar (-0,13 mtm), Medan (-0,09% mtm) dan Padang Sidimpuan (-0,02% mtm). Dua kota IHK lainnya mengalami inflasi, Kota Gunungsitoli (0,22% mtm) dan Kota Sibolga (0,13% mtm).

“Deflasi bersumber dari kelompok makanan (volatile food). Aspek struktural masih kendala kesinambungan produksi/pasokan, seperti perencanaan tanam/produksi masih lebih dipengaruhi dinamika harga, belum optimalnya mitigasi terhadap dampak kondisi cuaca terhadap produksi, serta kendala kepastian terserapnya hasil produksi petani dengan harga wajar.

Karakteristik bahan pangan mudah rusak juga memengaruhi dinamika pasokan dari sisi distribusi,” tutup Wiwiek.(mr/Josbandi)

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.