Perkiraan BI 2021 Perekonomian Indonesia Meningkat
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Bank Indonesia memperkirakan perekonomian dan pertumbuhan Indonesia tahun 2020 mengalami penurunan. Namun tahun 2021 akan di perkirakan mengalami peningkatan setelah Covid-19. Dimana perekonomian global dan pembatasan aktivitas ekonomi sebagai langkah penanganan wabah pandemi virus corona (Covid-19).
Kondisi tersebut merupakan krisis yang belum pernah terjadi sebelum adanya ketidakpastian recovery yang sangat tinggi.
Terang Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Sumatera Utara (Provsu) Wiwiek Sisto Widayat lewat siaran persnya, Kamis (2/6/2020).
Lebih lanjut disampaikan Wiwiek bahwa, pertumbuhan ekonomi secara nasional di triwulan ke II tahun 2020 diperkirakan menurun. Dimana hal itu karena dipengaruhi kontraksi ekonomi global dan dampak penanggulangan penyebaran Covid-19 yang menguat di triwulan III.
“Penurunan pertumbuhan ekonomi Indonesia di perkirakan 0,9% – 1,9% pada 2020 dan kembali meningkat sebesar 5,0% – 6,0% untuk tahun 2021,” pungkasnya.
Wiwiek kembali menyatakn, domestik – tracking perekonomian kontraksi ekspor terlihat tidak sedalam prakiraan sebelumnya sejalan dengan peningkatan permintaan Tiongkok dan indikator terkini, dimana domestik berada di level terendah dan mulai memasuki tahap pemulihan.
“Di sisi lain, ketahanan sektor eksternal tetap baik ditopang oleh defisit transaksi berjalan. Tekanan terhadap domestik dan ketahanan sektor eksternal membaik dan neraca pembayaran Indonesia tetap terjaga”.
“Realisasi pertumbuhan ekonomi Sumatera triwulan I 2020 tercatat sebesar 3,25% (yoy), lebih rendah dari triwulan sebelumnya,” ucap Wiwiek.
Secara spasial, seluruh Provinsi mencatat perlambatan, ini disebabkan oleh kontraksi pada net ekspor dan konsumsi pemerintah, serta deselerasi kinerja investasi.
“Ekonomi Sumatera pada triwulan I 2020 (% yoy) tumbuh melambat sejalan dengan kinerja ekonomi nasional yang juga mengalami tekanan sebagai dampak dari pandemi. Secara spasial, seluruh provinsi di Sumatera mengalami perlambatan pertumbuhan pada triwulan I 2020”, terangnya lagi.
Dilihat dari sisi permintaan, perlambatan disebabkan oleh turunnya kinerja net ekspor, konsumsi pemerintah, serta investasi, di tengah masih menguatnya konsumsi rumah tangga secara agregat. Lapangan Usaha (LU) utama melambat, kecuali pertanian yang menopang pertumbuhan. Membaiknya harga dan pendapatan dari ekspor komoditas perkebunan pada periode awal tahun Tertahannya kegiatan belanja akibat pandemi dan penurunan pendapatan pajak terkait pariwisata.
“Pelaku usaha cenderung wait and see terkait perkembangan pandemi Ekspor antar daerah ke manufaktur di Jawa turun sejalan dengan menurunnya permintaan,” tutup Wiwiek. (MR/JB Rumapea).
