Kab Samosir Bersih dari Virus Corona, Karena Pengawasan Ketat
METRORAKYAT.COM, SAMOSIR – Kabupaten Samosir merupakan salah satu daerah yang bersih dari Covid-19. Di relis daro Gugus Tugas Covid-19, bahwa jumlah pasien positif corona atau Covid-19 di Sumatera Utara (Sumut) terus bertambah. Berdasarkan data Gugus Tugas Covid-19, sudah mencapai 932 orang.
Namun, terdapat 10 Kabupaten/Kota di Sumut yang masih bebas dari virus corona. Salah satunya adalah Kabupaten Samosir, papar Bupati Samosir kepada Metrorakyat.com, Jumat (19/6/2020) saat di temui usai acara Rapat Tim Gugus Samosir.
Bupati Samosir Rapidin Simbolon menerangkan, bahwa letak kondisi geografis Samosir turut berdampak pada pencegahan virus corona.
Posisi Samosir menurut Rapidin, karena berada di tengah-tengah Danau Toba cukup menguntungkan, sehingga pengawasan pintu masuk ke Samosir menjadi mudah dideteksi dan diawasi.
Ada beberapa jalur menuju Samosir.
Pertama, melalui jalur darat dari sebelah barat, bisa dilalui dari Desa Tele, Kecamatan Harian, Desa Tomok dan Desa Ambarita, Kec Simanindo. Bisa juga dari Desa Tipang, Humbang Hasundutan.
“Sedangkan untuk jalur danau dari sebelah timur bisa melalui Onan Runggu, Nainggolan dan Palipi”, ucap Bupati.
Sambungnya, semuanya dijaga secara ketat, ada Satpol PP, TNI-Polri, petgugas kesehatan berjaga di pintu masuk itu.
“Semua kita ukur suhu tubuhnya dan kita cek semua untuk antisipasi corona ini,” sambungnya.
Dimana petugas tidak segan-segan menolak mengusir atau mengarantina pendatang, apabila tidak sesuai protokol kesehatan yang sudah digariskan. “Kami laksanakan isolasi di Puskesmas atau tempat yang sudah disiapkan”, terang dia.
Selain itu, pihaknya juga tetap menjaga konsistensi bagi warga yang datang ke Samosir pada akhir pekan maupun hari biasa. Sebelum akhir pekan, semua kios dan semua balairung harus disemprot disinfektan.
Para pendatang benar-benar diukur suhu tubuhnya dan akan tetap diawasi selama ada di Samosir. Seluruh obyek wisata ditutup selama pandemi. Di setiap desa juga dibuatkan portal-portal pengamanan, sehingga orang yang datang ke desa itu sudah pasti terseleksi. Tak ada yang bisa datang ke desa di masa pandemi ini.
“Jadikan orang yang benar-benar di sini lah yang bermukim di sini,” sebutnya.
Sambung Rapidin menjelaskan Samosir memiliki banyak lansia yang rentan dan berisiko tinggi tertular virus. Dengan demikian, pencegahan harus dilakukan secara serius. Sejak merebaknya virus corona, pedagang besar tidak boleh lagi berjualan.
Mereka hanya diperbolehkan dengan sistem transit. “Jadi di satu tempat barangnya dilansir, orang lokal lah yang meneruskan penjualannya. Itu dilakukan sejak pertengahan Maret,” kata Rapidin.
Bahwa kita sangat berhati-hati untuk menyikapi new normal. Apalagi Samosir adalah daerah wisata yang banyak didatangi wisatwan, baik lokal maupun internasional.
Saat ini, regulasi tentang new normal sedang dibahas. Terutama untuk mereka yang datang ke Samosir. Hotel, obyek wisata maupun tempat lainnya akan membuat perlakuan berbeda.
“Memang sempat ada penolakan, banyak banget. Tapi ini kami didukung TNI dan Polri, sehingga masyarakat akan berpikir dua kali. Tapi kalau mau konsisten dengan kesehatan ya harus begitu.
Tidak ada ampun. Ada beberapa kapal dipulangkan langsung,” kata Rapidin.
Terkait tindakan yang dilakukan, menurut Rapidin, selama ini ada saja masyarakat yang menanyakan dasar hukumnya. Namun, Rapidin memastikan ketegasan itu bukan tanpa pertimbangan.
“Kalau sekarang misalnya ada yang mau bertugas ke Samosir, harus rapid test dulu. Banyak proyek di Samosir yang pekerjanya dari luar. Tapi kita sepakat harus rapid test dulu pekerjanya. Kalau reaktif, kita tak ada toleransi, pulang,” kata Rapidin.(mr/JB Rumapea)
