Oktober 2019, NTP Sumut Naik Menjadi 98,08

Oktober 2019, NTP Sumut Naik Menjadi 98,08
Bagikan

METRORAKYAT.COM, MEDAN – Berdasarkan Data Badan Pusat Statistik (BPS) Sumatera Utara (Sumut), Nilai Tukar Petani (NTP) Sumut per Oktober 2019 mengalami peningkatan sebesar 0,75% dari 97,34 menjadi 98,08.

Dimana kenaikan NTP ini didorong oleh kenaikan subsektor hortikultura sebesar 1,18% dari 94,87 menjadi 95,99, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,99% dari 91,95 menjadi 94,70. Sedangkan NTP subsektor tanaman pangan turun 0,74% dari 91,95 menjadi 91,28, lalu subsektor peternakan turun 0,88% dari 116,42 menjadi 115,39, subsektor perikanan turun 0,90% dari 103,78 menjadi 102,85.

Karena NTP ini merupakan perbandingan dari indeks harga yang diterima petani terhadap indeks harga dibayar petani. Ini tentu menjadi salah satu indikator untuk melihat kemampuan maupun daya beli petani di perdesaan, ujar Bismark SP Sitinjak selaku Kepala Bidang (Kabid) Statistik Distributor BPS Sumut. Dijelaskan Bismark, NTP menunjukkan daya tukar (trem of trade) dari produk pertanian, barang dan jasa di konsumsi maupun biaya profuksi. Jadi semakin tinggi NTP, qsecara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani, begitu juga sebaliknya.

Bismark menyayangkan, tren NTP di Sumut tercatat kurang baik. Sepanjang tahun 2019, NTP-nya terus berkutat di bawah 100. Padahal idealnya itu harus di atas 100.

“Itu menunjukkan jika petani kita sudah bisa memenuhi kebutuhannya setelah menjual produk pertaniannya. Belum sejahtera tentunya, tapi sudah lebih baik dibandingkan NTP di bawah 100,” ungkap Bismark kepada wartawan ini, di Kantornya, Jln Asrama Medan, Selasa (5/11/19).

Untuk saat sekarang ini sudah selayyaknya Sumut harus meninggalkan pola pembangunan pertanian yang berskala proyek, namun membangun secara berkesinambungan. Karena, NTP ini sebenarnya menjadi tolak ukur untuk melihat apakah petani sudah sejahtera atau tidak.

“Jika di bawah 100 seperti sekarang, itu artinya kemampuan daya beli petani Sumut rendah dan yang jelas mereka tidak sejahtera,” cetusnya.

Selain itu, tambahnya, pembangunan semua subsektor pertanian harus dilakukan secara merata agar pendapatan petani bisa terdongkrak. Karena jika merata, maka kontribusinya terhadap perekonomian juga akan tinggi. Karena di bulan Agustus 2019, lb Sumut mengalami penurunan hingga 0,13 persen. Hal ini tentu perlu pembangunan sub sektor pertanian di pedesaan. (MR/JB Rumapea).

Redaksi Metro Rakyat

PT. Metro Rakyat Kreasi - Situs Berita Portal online - Berita Mendidik, Aktual & Inovatif.