Ketua Permabudhi Sumut Ajak Generasi Muda IBBI Maknai Waisak Lewat Nilai Kemanusiaan
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Ketua Persatuan Umat Buddha Indonesia (Permabudhi) Sumatera Utara, Wong Chun Sen Tarigan, menghadiri perayaan Tri Suci Waisak 2570 Buddhist Era (B.E) / 2026 di Universitas IBBI, Jalan Sei Deli, Medan, Minggu, 24 Mei 2026. Kegiatan yang digelar Keluarga Mahasiswa Buddhis (KMB) Universitas IBBI itu berlangsung khidmat dan diikuti mahasiswa, tokoh agama Buddha, serta tamu undangan dari berbagai kalangan.
Perayaan Waisak tersebut menjadi ruang refleksi spiritual sekaligus penguatan nilai toleransi di tengah masyarakat multikultural Kota Medan.
Dalam sambutannya, Wong Chun Sen mengajak umat Buddha memaknai Waisak tidak hanya sebagai seremoni keagamaan, tetapi juga momentum memperkuat nilai kemanusiaan, cinta kasih, dan kedamaian.
“Hari Waisak menyimpan tiga peristiwa agung dalam kehidupan Sang Buddha, yakni kelahiran Pangeran Siddharta Gautama, pencapaian Penerangan Sempurna, dan Parinibbana Sang Buddha,” kata Wong Chun Sen.
Menurut dia, ketiga peristiwa tersebut mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk bertumbuh dan mencapai kedamaian batin. Ia mengibaratkan ajaran Buddha seperti bunga teratai yang tumbuh di lumpur, namun tetap mekar bersih dan indah.
“Filosofi itu mengingatkan bahwa manusia dapat melampaui berbagai keterbatasan hidup untuk mencapai kebijaksanaan,” ujarnya.
Wong Chun Sen yang juga Ketua Generasi Muda Buddhis Indonesia Sumatera Utara ini menilai nilai-nilai Waisak relevan dengan kehidupan modern, terutama di lingkungan pendidikan yang penuh tantangan dan persaingan. Ia meminta generasi muda menjadikan ajaran Buddha sebagai pedoman dalam membangun karakter dan kehidupan sosial.
“Jalan Tengah mengajarkan pentingnya menjaga keseimbangan dalam belajar, bersosialisasi, maupun membangun kepribadian,” katanya.
Ia juga mengajak umat Buddha mengamalkan nilai Sila, Samadhi, dan Panna dalam kehidupan sehari-hari. Menurut dia, moralitas, konsentrasi, dan kebijaksanaan menjadi fondasi penting dalam menciptakan kehidupan masyarakat yang harmonis.
“Momentum Waisak harus menjadi refleksi bersama, apakah kita sudah menebarkan cinta kasih kepada sesama tanpa memandang perbedaan,” ujar Wong Chun Sen.
Panitia pelaksana dari KMB Universitas IBBI menyatakan perayaan Waisak tidak hanya menjadi agenda keagamaan rutin, tetapi juga sarana memperkuat semangat pengabdian sosial dan toleransi antarumat beragama.
Rangkaian kegiatan diisi doa bersama, pembacaan pesan-pesan Dhamma, dan refleksi spiritual yang menekankan pentingnya hidup damai serta saling menghormati.
Panitia juga menyampaikan apresiasi atas kehadiran unsur pemerintah dan legislatif dalam kegiatan tersebut. Mereka menilai dukungan berbagai pihak menjadi bagian penting dalam memperkuat semangat keberagaman dan persaudaraan di Kota Medan.(MR/Irwan)
