Inspektorat Taput Turun Tangan Usut Dugaan Penyimpangan Dana BUMDes
METRORAKYAT.COM, TAPUT – Pengelolaan dana penyertaan modal BUMDes Jahe Mulana Desa Siabal-abal V, Kecamatan Sipahutar, Kabupaten Tapanuli Utara senilai Rp143 juta kini mulai mendapat perhatian serius dari Inspektorat Kabupaten Tapanuli Utara.
Kepala Inspektorat Tapanuli Utara, Manapang Simamora, menyatakan pihaknya telah memerintahkan Inspektur Pembantu (Irban) III untuk turun melakukan penyelidikan terkait dugaan bermasalahnya pengelolaan dana BUMDes tersebut.
“Terima kasih buat rekan media yang ikut mengawasi penggunaan dana desa dan mempublikasikan sehingga kami bisa mengetahui,” ujar Manapang Simamora, Kamis (21/05/2026).
Menurutnya, langkah pemeriksaan dilakukan sebagai bentuk pengawasan terhadap penggunaan dana desa agar tepat sasaran dan benar-benar berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat.
“Kita sudah perintahkan Irban III agar turun untuk mengumpulkan data dan keterangan atas adanya keluhan warga mengenai dana BUMDes yang modalnya besar namun hasilnya jauh dari diharapkan,” tegasnya.
Manapang meminta masyarakat bersabar menunggu hasil pemeriksaan yang dilakukan Irban III.
“Setelah nanti turun, kita akan kabari apa hasilnya,” ucapnya.
Sebelumnya, warga Desa Siabal-abal V menyoroti penggunaan dana penyertaan modal BUMDes Jahe Mulana tahun 2025 sebesar Rp143.003.000 untuk usaha pertanaman bawang merah seluas lebih dari setengah hektar. Namun dari usaha tersebut, hasil panen yang diperoleh hanya sekitar Rp10,8 juta.
Kondisi itu memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat. Warga menilai penggunaan dana desa tersebut tidak tepat sasaran dan diduga tidak melalui perencanaan usaha yang matang.
Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan mengaku curiga adanya dugaan penyimpangan anggaran dalam pengelolaan BUMDes.
“Kami heran, dana yang dikelola BUMDes cukup fantastis, namun hasilnya hanya segitu. Kalau dialihkan ke kegiatan lain mungkin lebih berdampak bagi masyarakat,” ungkapnya.
Dugaan warga semakin menguat setelah sekretaris dan bendahara BUMDes disebut mengundurkan diri, sehingga pengelolaan kegiatan diduga terpusat pada Ketua BUMDes Jahe Mulana, Parlindungan Pardede.
Warga juga menduga adanya pengadaan barang dengan harga tidak wajar serta mekanisme belanja yang dinilai tidak transparan. Karena itu masyarakat meminta Aparat Penegak Hukum (APH) ikut melakukan pemeriksaan.
Sementara itu, Ketua BUMDes Jahe Mulana, Parlindungan Pardede, membenarkan bahwa pihaknya menerima dana penyertaan modal sebesar Rp143.003.000 dan hasil panen bawang merah hanya Rp10,8 juta.
Ia berdalih rendahnya hasil produksi disebabkan tingginya curah hujan yang membuat sebagian besar tanaman rusak sebelum panen.
“Musim hujan menjadi faktor tanaman rusak di lahan seluas setengah hektar yang dikontrak Rp2 juta per tahun,” jelasnya.
Terkait mundurnya sekretaris dan bendahara BUMDes, Parlindungan mengaku tidak mengetahui alasan pasti keduanya mengundurkan diri.
Kini, dugaan kerugian dalam pengelolaan BUMDes Jahe Mulana menjadi perhatian masyarakat Desa Siabal-abal V yang berharap adanya audit dan pemeriksaan menyeluruh demi menjaga transparansi serta kepercayaan publik terhadap program pemberdayaan ekonomi desa.
(MR/ Andoky Manalu)
