Pengamat Politik Sebut Gibran Capres Gurem, Terjepit Isu dan Minim Dukungan Parpol

Pengamat Politik Sebut Gibran Capres Gurem, Terjepit Isu dan Minim Dukungan Parpol
Keterangan foto: Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie ( metrorakyat.com/ist)
Bagikan

METRORAKYAT. COM, JAKARTA – Wacana pencalonan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon presiden 2029 dinilai lebih banyak bertumpu pada sensasi ketimbang kekuatan politik riil. Direktur Political and Public Policy Studies (P3S), Jerry Massie, bahkan menyebut Gibran sebagai capres gurem yang berpotensi tumbang sebelum benar-benar bertarung.

Menurut Jerry, jika Gibran maju melalui Partai Solidaritas Indonesia (PSI), maka langkah politik tersebut justru akan menjadi beban serius. Pasalnya, PSI hingga kini belum memiliki kekuatan elektoral signifikan di tingkat nasional.

“Gibran itu capres gurem. Basis politiknya sangat lemah. Kalau maju lewat PSI, dia bertarung tanpa mesin besar,” ujar Jerry kepada awak media, Senin (26/1).

Ia menegaskan, ada dua bom waktu yang bisa meruntuhkan langkah politik Gibran menuju Pilpres 2029, yakni isu akun Fufufafa serta dugaan ijazah palsu yang hingga kini terus menjadi perbincangan publik.

“Bukan tidak mungkin pada 2029 nanti dia dianulir atau bahkan digugurkan sebagai capres maupun cawapres. Isu-isu ini bisa menjadi alat politik yang sangat mematikan,” tegasnya.

Jerry menilai, secara realistis, pendukung Gibran hanya PSI, sementara partai-partai besar justru memiliki kecenderungan merapat ke figur yang lebih mapan secara elektoral.

“Kalau Prabowo masih maju, dia bisa berpasangan dengan tokoh-tokoh kuat seperti Muhaimin Iskandar, Zulkifli Hasan, Agus Harimurti Yudhoyono, bahkan Sufmi Dasco Ahmad,” jelasnya.

Tak hanya itu, Jerry menyebut sejumlah figur profesional juga berpeluang masuk bursa nasional, seperti Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa maupun Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman, yang dinilai memiliki rekam jejak dan elektabilitas lebih menjanjikan.

“Saya pikir Gibran akan sangat sulit menandingi Prabowo. Bahkan isu duet Gibran–Dedi Mulyadi pun belum tentu mampu mendongkrak elektabilitas,” katanya.

Ia juga menyinggung kemungkinan konfigurasi politik lain, termasuk peluang PDIP mengusung pasangan Anies Baswedan–Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) sebagai poros alternatif kekuatan nasional.

Dalam pernyataannya yang cukup keras, Jerry turut menyoroti langkah Ahmad Ali yang hengkang dari Partai NasDem dan bergabung ke PSI yang kini lekat dengan keluarga Presiden Jokowi.

“Menurut saya, Ahmad Ali itu penjilat politik yang lihai. Keluar dari NasDem lalu bergabung dengan keluarga Jokowi di PSI, kemudian langsung melakukan political psywar terhadap Prabowo,” sindirnya tajam.

Namun, Jerry mengingatkan bahwa manuver tersebut justru berpotensi salah sasaran.

“Ini bentuk political threatening, tapi dia lupa satu hal, PSI itu partai gurem. Pada Pileg lalu suaranya hanya sekitar 3 persen, padahal sudah memakai branding ‘PSI Partai Jokowi’,” ungkapnya.

Ia menilai, ambisi PSI saat ini lebih realistis untuk sekadar lolos parliamentary threshold 4 persen, ketimbang memaksakan diri mengusung Gibran sebagai calon presiden.

“Bagi PSI, bertahan hidup di parlemen jauh lebih masuk akal daripada bermimpi mengantar Gibran ke Istana,” pungkas Jerry.
(MR/Jerry/red)

Tonton Video Arung Jeram di bawah ini:

Metro Rakyat News