Bupati Mabar, Proyek Jalan Raba – Bari Tidak Batal Tapi Penundaan Lelang Hingga Akhir November 2025
METRORAKYAT.COM, MABAR – Bupati Kabupaten Manggarai Barat, Edistasius Endi menanggapi isu yang beredar ditengah masyarakat terkait rencana proyek lanjutan pengerjaan Jalan dari Desa Raba – Bari di Kecamatan Macang Pacar, Kab. Manggarai Barat, NTT
Saat di konfirmasi media melalui Via telepon WhatsApp Rabu, (08/10/2025) sore, Bupati Mabar, Edistasius Endi sampaikan bahwa terkait isu pembatalan lanjutan pengerjaan jalan dari Desa Raba menuju ke Bari, itu tidak benar, akan tetapi ditunda pelelangannya hingga Minggu keempat bulan November atau Minggu pertama bulan Desember 2025.
Menurutnya, untuk sementara tahapannya masih di lelang tendernya karna waktu yang sangat mepet dan anggarannya cukup lumayan besar sehingga akan dimulai kerjanya setelah penetapan APBD Tahun 2026 dan ,”Untuk itu sekali lagi saya tegaskan bahwa tidak ada lagi bilang batal, hanya ditunda pelelangannya,” tegasnya
“Kita semua diminta untuk bersabar dan menunggu hingga penetapan APBD Tahun 2026 dan saya pastikan itu tidak batal,” ujar Edistasius Endi
Sementara, Ladis Jeharun sebagai Putra Daerah asal Bari, Kecamatan Macang Pacar itu turut merespon isu yang beredar, menurutnya masyarakat di desa Bari hingga hari ini masih hidup dalam penantian panjang, penantian akan dua hal mendasar yang sejatinya menjadi hak rakyat yaitu jalan yang layak dan penerangan listrik PLN.
Lalu sudah bertahun-tahun masyarakat Desa Bari mendengar janji politik dari para pemimpin, terutama dari Bupati Manggarai Barat, Edi Weng, untuk menuntaskan pembangunan jalan Raba–Bari. Jalan itu bukan sekadar lintasan tanah yang menghubungkan dua wilayah, melainkan urat nadi ekonomi rakyat. Dari situlah hasil bumi dibawa ke pasar, anak-anak berangkat sekolah, dan akses kesehatan bisa ditempuh.
Namun realitas di lapangan jauh dari harapan. Jalan Raba–Bari hingga kini masih rusak berat, berlumpur di musim hujan dan berdebu di musim kemarau. Setiap kali hujan turun, roda ekonomi pun berhenti berputar. Hasil tani tertahan, warga terisolasi, dan mimpi pembangunan terasa jauh di ujung bukit.
Dalam setiap momentum politik, termasuk masa kampanye, pembangunan infrastruktur jalan Bari selalu menjadi janji yang dikumandangkan. Kini masyarakat menuntut bukan sekadar janji, tetapi tanggung jawab politik dan moral seorang pemimpin kepada rakyatnya. Janji yang pernah diucapkan di hadapan publik harus diwujudkan menjadi kebijakan nyata di lapangan.
Tidak berhenti di situ, PLN juga menjadi sorotan utama masyarakat Bari. Hingga kini, desa tersebut belum tersentuh aliran listrik PLN. Di tengah sorotan lampu kota Labuan Bajo yang terang benderang, masyarakat Bari justru masih bergantung pada lampu pelita untuk menerangi malam. Sebuah ironi di tengah gencarnya promosi pariwisata super prioritas Manggarai Barat.
“Kondisi ini jelas mencerminkan ketimpangan pembangunan antarwilayah dan Pembangunan tidak boleh hanya berhenti di pusat-pusat kota, sementara desa-desa seperti Bari dibiarkan terjebak dalam gelap dan lumpur,” ujar Ladis
Sebagai aktivis dan putra daerah, saya, Ladis Jeharun, menyampaikan aspirasi masyarakat Bari yang pertama, Bupati Manggarai Barat, Edistasius Endi, segera menuntaskan proyek jalan Raba–Bari sebagai akses utama masyarakat menuju ekonomi yang mandiri lalu yang kedua PT PLN mempercepat penyambungan jaringan listrik ke Desa Bari dan sekitarnya Sebagai Kebutuhan Dasar Rakyat,Dengan Tidak Berdalil Soal Efisiensi Anggaran
Sudah cukup lama masyarakat hidup dalam sabar. Kini saatnya pemerintah daerah dan PLN menunjukkan bukti nyata bahwa pembangunan bukan hanya slogan kampanye, melainkan kewajiban moral untuk menegakkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat, termasuk mereka yang tinggal di ujung Macang Pacar.
“Masyarakat tidak menuntut lebih, hanya menagih apa yang pernah dijanjikan. Karena dalam setiap janji pemimpin, ada harapan rakyat yang menunggu untuk ditepati,”tutup Ladis dalam pesan WhatsApp nya kepada media ini. (MR/Eras).
