PDI Perjuangan Tegas, Tak Ada Ruang bagi Rasisme dan Pengkhianat Partai

PDI Perjuangan Tegas, Tak Ada Ruang bagi Rasisme dan Pengkhianat Partai
Bagikan

METRORAKYAT. COM, MEDAN – Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan Kota Medan menegaskan tidak akan memberi ruang sedikitpun bagi tindakan rasis dan pengkhianatan terhadap partai.

Hal ini merespons munculnya spanduk berbau SARA yang dipasang oleh pihak tak bertanggung jawab di eks kantor DPC PDI Perjuangan Medan.

Kader PDI Perjuangan, Sutrisno Pangaribuan, mengatakan, persoalan spanduk rasis ini tidak sepatutnya ditanggapi dengan sikap reaktif atau saling serang opini di media.

“Spanduk provokatif itu hanyalah ulah pengecut. Jangan sampai sesama pengurus justru terjebak saling lempar komentar di media. Itu tidak menyelesaikan masalah, malah bisa memperkeruh suasana,” ujarnya.

Sutrisno mengingatkan pepatah Batak, “ndang matutung pamangan mandok api” (mulut tidak terbakar hanya karena menyebut api). Artinya, masalah tidak akan selesai dengan kata-kata, melainkan dengan tindakan nyata. Ia menegaskan, langkah tegas harus segera diambil: pelaku harus dicari, ditangkap, dan diproses hukum melalui Polrestabes Medan.

Sebagai kader partai yang berpegang teguh pada ideologi tanpa memanfaatkan isu SARA, Sutrisno menyampaikan delapan sikap tegas yaitu:

Hentikan saling serang di media yang hanya memperkeruh suasana.

Bentuk tim pencari fakta untuk mengungkap aktor intelektual dan pelaku lapangan.

Tegakkan aturan AD/ART, setiap tindakan di luar garis partai harus disanksi.

Segera laporkan ke polisi untuk memastikan apakah pelaku dari internal atau eksternal partai.

Pecat kader pengkhianat yang mengatasnamakan kader militan demi memecah belah partai.

Putus hubungan dengan calon yang terhubung ke aksi provokatif, termasuk dari proses Konpercab.

Tindak kader playing victim yang berbuat manipulatif demi simpati politik.
Bongkar aktor lempar batu sembunyi tangan, jangan beri ruang bagi pengecut yang pura-pura cuci tangan.

Ia menegaskan, PDI Perjuangan adalah partai ideologis yang sudah ditempa berbagai ujian bangsa. Partai ini membuka ruang demokrasi, namun menutup rapat segala bentuk politik identitas yang mempertentangkan suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA).

“Kompetisi politik adalah hal wajar dalam demokrasi. Tapi memanfaatkan SARA, disinformasi, fitnah, dan kebencian adalah bentuk penghianatan yang tidak bisa ditolerir,” tegas Sutrisno.(MR/Irwan)

Tonton Video Arung Jeram di bawah ini:

Metro Rakyat News