Pengaduan Tidak Ditindaklanjuti, Ratusan Pekerja PT.SPR Desak Kapoldasu Copot Kapolres Asahan
METRORAKYAT.COM, MEDAN – Ratusan pekerja PT. Sari Persada Raya Desa Huta Bagasan Kecamatan Bandar Pasir Mandoge Kabupaten Asahan menggelar aksi demo di depan Polda Sumatera Utara, Senin, (18/12).
Dalam Aksinya, ratusan pekerja PT SPR meminta sikap dan tindakan tegas Kepolisian Daerah Sumatera Utara untuk menindaklanjuti keluhan pekerja PT SPR dan juga 12 Laporan di Polres Asahan dan Polsek Mandoge yang hingga saat masih jalan ditempat.
Koordinator aksi, Fierman Sihaloho menganggap aparat penegak hukum (APH) dalam hal ini Polsek Mandoge dan Polres Asahan diduga tidak serius menanggapi laporan pekerja PT.SPR yang dianiaya 5 bulan lalu.
Selain itu, dampak tidak adanya tindakan tegas yang dilakukan oleh Polres Asahan membuat semakin merajalelanya para penggarap mengambil lahan HGU milik PT. SPR dan berdampak peluang pekerjaan mereka terancam.
” Kami tidak ada kepentingan disini, kami hanya memperjuangkan perut kami karena sudah terlalu banyak penggarap di areal HGU PT.SPR sehingga pencarian kami terancam. Kami juga ketakutan karena para penggarap kerap melakukan intimidasi terhadap kami dan anak anak kami sehari hari melewati lahan yang dikuasai penggarap ketakutan,”teriak Fierman Sihaloho disambut warga para pendemo.
Warga desa Mandoge yang sehari hari mengaku mencari makan sebagai pekerja lepas di PT. SPR saat ini terancam tidak mendapatkan pekerjaan, sebab sudah ada sekitar 800 hektar lahan HGU milik PT SPR sudah diambil oleh para penggarap.
” Setiap hari jumlah penggarap bertambah, pondok pondok mereka juga terus bertambah. Parahnya lagi, para penggarap memanen tandan sawit yang ditanam oleh kami atas nama PT. SPR diangkut penggarap. Perhari diangkut 3 colt diesel,”ujarnya.
Aida Sinurat ditempat yang sama menyebutkan, kedatangan mereka dari kabupaten Asahan menggunakan 6 bus adalah murni untuk menyampaikan aspirasi mereka akibat sudah resah atas keberadaan para penggarap di tempat itu. Para pekerja juga ingin mencari keadilan dan mengadukan langsung ke Poldasu tentang 12 laporan penganiayaan yang dilakukan oleh para penggarap yang sampai saat ini diduga jalan ditempat.
“Kami juga mengaku jauh jauh datang dari Asahan untuk meminta keadilan kepada Kapoldasu yang baru menjabat.Ada apa dengan polres Asahan. Kami juga tidak ingin anak anak kami tidak bisa bersekolah gara gara ada ulah oknum penggarap yang menggangu kami. Kami akan menginap di poldasu jika pak Kapoldasu tidak mau mendengarkan aspirasi kami,”,teriaknya bersama pekerja yang melakukan aksi damai.
Diterangkan Haida lagi, sejak Mei tahun 2023, secara paksa para penggarap mengambil hasil dari sekitar 800 Hektar yang merupakan tanah milik PT SPR. Akibatnya, banyak dari karyawan PT SPR yang harus dirumahkan karena tidak memiliki lahan untuk bekerja lagi. Hal ini tentu sangat merugikan para karyawan yang mayoritas adalah petani dan buruh tani.
Untuk itu, Haida Sinurat meminta agar lahan tersebut segera dipulihkan dan diberikan kembali kepada PT SPR. Selain itu, ia juga meminta agar kasus penganiayaan dan intimidasi yang dilakukan oleh para penggarap segera ditindaklanjuti. Sebagai bentuk tuntutan yang lebih kuat, para karyawan PT SPR akan membangun tenda di depan Markas Polda Sumatera Utara sebagai wujud dari ketegasan mereka.
Tindakan keras dari para penggarap ini membuat para karyawan PT SPR yang tidak bersalah menjadi korban dari konflik lahan ini. Mereka (PT SPR) yang hanya mencari nafkah untuk keluarga mereka, dipaksa untuk mundur dan merugi karena tidak bisa lagi bekerja di lahan yang telah mereka gantungkan harapannya. Padahal, PT SPR sudah memiliki ijin HGU untuk lahan tersebut dan hal ini pun telah diakui Wakapolres Asahan dan Kasat Reskrim Polres Asahan.
2 jam melakukan orasi didepan gerbang 1 Polda Sumatera Utara yang beralamat di Jalan SM.Raja, sembari menunggu perwakilan pekerja membuat laporan di SPKT Polda Sumatera Utara, para pekerja yang melakukan aksi demo ini terus meminta agar aspirasi mereka segera ditanggapi oleh Kapoldasu atau yang mewakili.
Para pendemo ini mengaku sudah lelah selama ini pengaduan mereka tidak ditanggapi serius oleh Kapolres Asahan.
” Kalau ditanyak pihak polres Asahan hanya mengatakan sedang diproses, sebentar, sabar. Hanya itu saja yang mereka katakan saat kami pertanyakan laporan kami. Padahal laporan kami sudah masuk berbulan bulan. Kami juga heran, para pelaku penganiayaan juga ada disekitar kami namun tidak ditangkap, atau apakah pihak kepolisian menunggu sampai ada pertumpahan darah dan nyawa melayang baru melakukan tindakan tegas,”serunya.
Ancam Menginap di Poldasu
Para pendemo yang merupakan pekerja di PT.SPR ini mengatakan jika aksi mereka tidak ditanggapi pihak Poldasu atau perwakilan poldasu, maka mereka akan menginap di Poldasu sampai aspirasi dan tuntutan mereka diterima dan ditindaklanjuti oleh Poldasu.
“Kami akan menginap di poldasu jika pak Kapoldasu tidak mau mendengarkan aspirasi kami. Kalau tidak ada hasil dari Kapoldasu, kami akan lanjut demo. Kami kalau memang hari ini tidak selesai akan pasang tenda dan kalau tidak ada hasil akan lanjut ke Mabes Polri melalui perwakilan kami,” teriak Piden Manulang, dan Marojahan Dolok Saribu saat di wawancarai awak media.
Terpisah di tempat yang sama, Kabid Humas Polda Sumatera Utara, Kombes Pol Hadi Wahyudi, S.I.K saya dikonfirmasi awak media terkait aksi damai ratusan pekerja PT SPR kabupaten Asahan, belum memberikan tanggapan hingga berita ini diterbitkan.
Amatan awak media, para personil dari Polsek Pancur Baru terlihat melakukan pengamanan aksi ratusan pekerja PT.SPR Mandoge Kabupaten Asahan. (MR/wan)



